“When angry count to ten before you
speak.
If very angry, count to one hundred”.
(Thomas Jefferson)
Covid-19, telah cukup lama mewabah. Sebelumnya
tak ternyana, kini mewabah lebih dari enam bulan. Menangkalnya, pemerintah Indonesia
-- tidak lepas peran masyarakat – mencoba banyak cara. Hasilnya kurva kian
menanjak. Risikonya perekonomian negara tersungkur. Banyak urusan warga terusik.
Tak semata, pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Bosan, jenuh, rasa resah, kini menggumpal
di ubun-ubun. Normal, stres tak kuasa dibendung. Meluap ekspresi marah-marah.
Marah-marah, tak hanya datang dari warga
biasa. Pejabat pemerintah, tingkat terbawah hingga tertinggi, tak lepas, dari
marah-marah. Ketua RT, hingga Kepala Negara. Itu normal, justru “New Normal”, jika
bawahan memarahi atasan. Maksud hati, hendak memarahi Coronavirus yang tak memberi
tanda, bakalan berhenti memapar. Tapi, makhluk gaib itu, rimbanya tak terlacak.
Alih, memarahi bawahan, seolah pilihan terbaik. Dalih, dinilai tak loyal gusus tugas
memerangi Covid.
Terjadilah, negeri
ini seolah pertunjukan orkestra. Satu dirigen sama, marah-marah. "Kita dalam suasana krisis! Tapi,
saya melihat, kita masih seperti biasa-biasa saja”, tegas Joko Widodo. “Kita, seolah,
tak punya perasaan. Saya, jengkelnya di situ", lanjutnya bermimik geram kepada
jajaran kabinetnya yang duduk “berjarak” di depannya. Saking jengkelnya, presiden melanjutkan, “Saya ini, harus
ngomong apa adanya. Tak ada progres yang signifikan. Tidak ada!", tandasnya
berang.
Di kala
mengancam hendak merombak kabinetnya, alih-alih terbayang dalam benak saya, andai
saja presiden kita asalnya Papua, Ambon, Makassar, dan Batak, kira setinggi apa
gerangan nada marah-marah sang presiden itu. Namun syukurlah, presiden kita asalnya
Solo. Satu suku dikenal bicaranya lembut. Majasnya pula abstrak. Tetapi, melihat
presiden marah-marah memakai teks, saya legah. Jika, presiden tak asal Solo, pula
marahnya sama. Beda, paling dialeg, serta intonasi.
Marah-marah memakai
teks memanglah unik. Presiden Amerika Serikat ke-3, Thomas Jefferson pernah mewanti-wanti;
“Kalau kamu marah, sebelum bicara, hitung hingga bilangan kesepuluh. Tapi, kalau
kamu sangat marah, cobalah hitung, hingga bilangan keseratus. Marah-marah, mesti
terkendali. Menghitung untung-ruginya. Itulah, dibanding presiden yang dicaci oleh rakyat yang memilih. Sebabnya
– mungkin, di benak Joko Widodo – lebih dulu saya memarahi para menteri.
Mungkin. Bukankah bencana serasa tak absah
andai pejabat pemerintah tak mempertontonkan empati. Citranya di muka rakyat. Pula,
itulah uniknya bencana pandemi Covid-19, ruang pejabat berpentas citra, celanya
ditutup. Padahal kurva menaik penanda kegagalan. Ayal, alasan kenapa pidato
marah-marah itu dipublis. Tapi, membongkar kegagalan, tulis YB Mangunwijaya di dalam
novel “Burung-Burung Manyar” (2014), tak perlu marah. Berani memulai lagi dipenuhi harapan.
Makassar, 05
Juli 2020




