“UTHLUBUL
ilma walau bish shin”. Berarti, tuntutlah ilmu
hingga ke negeri China. Kawan itu, – ragu akan keabsahan kalimat yang
diklaim hadits itu – meminta penjelasan. Secara seloroh saya menjawab. Makkah ke Beijing, jaraknya 7.380
km. Lalu? Tiapkali ada kalimat menyebut kata China, selalu saja, benak kita meragukan.
Jangankan “hadits”, barang datang dari China saja, juga selalu kita ragukan
kemurniannya. Apakah barang itu asli? Tiruan? Ataukah palsu?.
Gegara warisan kolonial, Indonesia tahunya China saja. Sebenar-benarnya RRC, itu RRT juga. Republik Rakyat Tiongkok. Dideklarasi 1991 – pasca tumbangnya kekaisaran Manchu (Ching) Da Qing Di Guo -- oleh Sun Yat Sen Zhonghua Minguo. Itulah negeri “Zhong Guo” itu. Bahasa Hokkian, melafadznya; Tiongkok. Sebuah negeri di Asia Timur, seluas 9,69 km. Berpenduduk 1,4 miliar. Berdiri sejak 1949, pasca perang saudara, dengan berpartai tunggal komunis, PKT.
Di negeri, kini dipimpin Xi Jinping, itulah sejak 27 Desember 2019 di Wuhan Hubei, Covid-19, si Coronavirus datang. Dan kini merayapi – minus atlantik – di alam raya ini. Telah mencekik mati ribuan orang. Sebab itu manusia berlari. Menjauh. Takut jika di luar rumah ada “hantu” Corona menjegat. “Stay at home” saja. Bernaung di bawah atap rumah. Sebaliknya, di negeri muasal virus itu, pasca bersembunyi, mereka kini di jalanan. Bertolak pinggang. Bagai, hero.
BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/peradaban-manusia-di-balik-covid-19.html
Mereka, warga Tiongkok, telah memenangi pertempuran. Mengusir “hantu” Corona itu dari negeri tirai bambu. Ayal, WHO juga sekian Kepala Negara dari ruang persembunyian mereka menyampaikan “standing applause”. Sementara, Amerika Serikat yang selama dua abad tak memiliki kompetitor sebagai pengendali dunia, masih bersungut, mempertahankan diri dari serbuan Covid-19, si Corona itu. Berbukti, jika Tiongkok lebih bersiap menghadapi ancaman.
Apa diduga Fareed Zakaria di bukunya, “The Post American World” (2015), makin mendekati kebenaran. Jika pasca komunis Rusia rubuh, Amerika Serikat satu-satunya, pengendali dunia tanpa tanding. Tapi kata Zakaria, itu dulu. Duapuluh tahun terakhir di musim pertaruhan global, kompetitor banyak bertebar. Paling siap, Tiongkok. Menerjang hantu tidak mewujud, Tiongkok mengusir lewat kedigjayaan “Artificial Intelligence”. Amerika Serikat hanya melongo.
BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/be-ready-to-fight-covid-19.html
Ini pertanda apa? Samuel P Huntington dalam bukunya “Benturan Antarperadaban” (2001), telah meramal, pasca perang dingin, bakal ada benturan. Blok Barat versus Islam-Konfusius. Tak hanya Huntington, banyak ramalan ilmuan lain, semua tak jua menyana andai ini terjadi. Tak mesti berbenturan peradaban. Berbentur senjata pemusnah atau urusan dagang. Ini kali benda tak mewujud, si Corona penentu peralihan “Pengendali Dunia”. Amerika ke Tiongkok.
Mungkin berlebih. “Kami tak butuh kedudukan di matahari, tapi kami ingin merebut kembali kedudukan kami di matahari”, tegas Xi Jinping di bukunya, “The Good Governance of China” (2015). Tapi koleganya di negeri Parsia, Iran sana, mengolok “Tiongkok huwal awwalu wal akhiru”. Artinya? Tanya kawan itu. Saya jawab, Sun Tzu telah mewanti; “Tiap bencana, ada peluang di baliknya”. Covid-19, asal dan akhirnya di Tiongkok. Ilmu, memang adanya di negeri China!
Makassar, 31 Maret 2020
Gegara warisan kolonial, Indonesia tahunya China saja. Sebenar-benarnya RRC, itu RRT juga. Republik Rakyat Tiongkok. Dideklarasi 1991 – pasca tumbangnya kekaisaran Manchu (Ching) Da Qing Di Guo -- oleh Sun Yat Sen Zhonghua Minguo. Itulah negeri “Zhong Guo” itu. Bahasa Hokkian, melafadznya; Tiongkok. Sebuah negeri di Asia Timur, seluas 9,69 km. Berpenduduk 1,4 miliar. Berdiri sejak 1949, pasca perang saudara, dengan berpartai tunggal komunis, PKT.
Di negeri, kini dipimpin Xi Jinping, itulah sejak 27 Desember 2019 di Wuhan Hubei, Covid-19, si Coronavirus datang. Dan kini merayapi – minus atlantik – di alam raya ini. Telah mencekik mati ribuan orang. Sebab itu manusia berlari. Menjauh. Takut jika di luar rumah ada “hantu” Corona menjegat. “Stay at home” saja. Bernaung di bawah atap rumah. Sebaliknya, di negeri muasal virus itu, pasca bersembunyi, mereka kini di jalanan. Bertolak pinggang. Bagai, hero.
BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/peradaban-manusia-di-balik-covid-19.html
Mereka, warga Tiongkok, telah memenangi pertempuran. Mengusir “hantu” Corona itu dari negeri tirai bambu. Ayal, WHO juga sekian Kepala Negara dari ruang persembunyian mereka menyampaikan “standing applause”. Sementara, Amerika Serikat yang selama dua abad tak memiliki kompetitor sebagai pengendali dunia, masih bersungut, mempertahankan diri dari serbuan Covid-19, si Corona itu. Berbukti, jika Tiongkok lebih bersiap menghadapi ancaman.
Apa diduga Fareed Zakaria di bukunya, “The Post American World” (2015), makin mendekati kebenaran. Jika pasca komunis Rusia rubuh, Amerika Serikat satu-satunya, pengendali dunia tanpa tanding. Tapi kata Zakaria, itu dulu. Duapuluh tahun terakhir di musim pertaruhan global, kompetitor banyak bertebar. Paling siap, Tiongkok. Menerjang hantu tidak mewujud, Tiongkok mengusir lewat kedigjayaan “Artificial Intelligence”. Amerika Serikat hanya melongo.
BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/be-ready-to-fight-covid-19.html
Ini pertanda apa? Samuel P Huntington dalam bukunya “Benturan Antarperadaban” (2001), telah meramal, pasca perang dingin, bakal ada benturan. Blok Barat versus Islam-Konfusius. Tak hanya Huntington, banyak ramalan ilmuan lain, semua tak jua menyana andai ini terjadi. Tak mesti berbenturan peradaban. Berbentur senjata pemusnah atau urusan dagang. Ini kali benda tak mewujud, si Corona penentu peralihan “Pengendali Dunia”. Amerika ke Tiongkok.
Mungkin berlebih. “Kami tak butuh kedudukan di matahari, tapi kami ingin merebut kembali kedudukan kami di matahari”, tegas Xi Jinping di bukunya, “The Good Governance of China” (2015). Tapi koleganya di negeri Parsia, Iran sana, mengolok “Tiongkok huwal awwalu wal akhiru”. Artinya? Tanya kawan itu. Saya jawab, Sun Tzu telah mewanti; “Tiap bencana, ada peluang di baliknya”. Covid-19, asal dan akhirnya di Tiongkok. Ilmu, memang adanya di negeri China!
Makassar, 31 Maret 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar