Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang perkembangan temuan vaksin Covid-19 yang kini tengah diperlombakan oleh 25 lembaga di sekurangnya 10 negara. Tiongkok, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Kanada.

Setelah melewati fase uji pra-klinis pada binatang, di antara temuan ke-25 lembaga itu, saat ini tengah memasuki fase uji klinis pada manusia. WHO, malah tak segan mengklaim jika kandidat vaksin racikan AstraZeneca University of Oxford Inggris dan Sinovac Biotech Tiongkok, yang kini berada di uji klinis fase (III), digadang-gadang sebagai temuan vaksin Covid-19, paling terdepan.

Jika kabar baik disampaikan WHO itu benar, maka diperkirakan pertengahan 2021 tahun depan, vaksin Covid-19 dapat diproduksi secara massal untuk menjawab ancaman virus Corona yang sekian bulan mendera umat manusia. Tak hanya berisiko pada faktor kesehatan, tapi jauh lebih dari itu, berimbas ke berbagai lini kehidupan. Terutama pada krisis perekonomian global.

Kemajuan Sains

Bill Gates di blog pribadinya menyatakan, "If someone kills more than 10 million people in the next few decades, it tends to be because of a virus that is highly contagious rather than war". Beberapa dekade mendatang, tak ada yang dapat membunuh lebih dari 10 juta orang, selain virus yang menular dibanding perang.

Sebaliknya, Yuval Noah Harari, tak hanya menulis di bukunya “Homo Deus” (2019), tetapi juga lewat serangkaian wawancaranya dengan media online -- DW.com dan unesco.org -- professor sejarah Universitas Ibrani Yerusalem itu, malah menyatakan, “the biggest danger is not the virus itself”. Bahaya terbesar bakal dihadapi umat manusia, bukanlah virus itu sendiri

Pandemi virus maupun bakteri kata Harari, tak lagi mesti dirisaukan. Justru yang semestinya dirisaukan, jika umat manusia meresponnya tidak dengan cara berakal sehat dan pengetahuan yang cukup. Dalih Harari, bahwa nilai kemanusiaan dimiliki umat manusia, sejauh ini telah jauh beda bila dibandingkan ketika wabah sebelum-sebelumnya memusnah jutaan umat manusia.

Jika sebelumnya, wabah cacar (smallpox) misalnya, datang berulangkali setidaknya sejak 1.700 tahun lalu, sekitar jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat, menelan sekitar 300 jutaan jiwa, karena vaksinnya ratusan tahun kelak, 1796 baru ditemukan di Inggris oleh Edward Jenner. Kni beda, kemajuan sains dan ilmu pengetahuan, terbukti mampu mengatasi ancaman virus dan bakteri.

Andaikan kabar gembira diumumkan WHO berbukti, bahwa jika tak ada rintangan berarti, maka vaksin Covid-19 dapat diproduksi tahun depan. Ini pertanda, hanya selang waktu tak lebih 20 bulan, sejak awal munculnya akhir Desember 2019 di Wuhan, sains membuktikan kedigjayaan membantu umat manusia terbebas dari ancaman virus. Bahkan sain dan ilmu pengetahuan yang makin maju di masa-masa mendatang, virus dan bakteri sekejap dapat dimusnahkan.

Keserakahan Manusia

Jika ancaman virus maupun bakteri mampu dilalui, sekira bahaya terbesar apa lagi yang bakal dihadapi dan mengancam umat manusia selanjutnya secara komunal?

Harari menjawab; perang dan bencana alam. Keduanya patut diwaspadai, tapi justru yang perlu diwaspadai, penyebabnya yaitu keserakahan umat manusia sendiri. Sebab itu, musuh utama umat manusia selanjutnya, adalah umat manusia itu sendiri. Iblis batiniah kemanusiaan lewat kebencian, keserakahan, terutama ketidakingin tahu kita terhadap ancaman bakal kita hadapi.

Dihadirkannya aktifis lingkungan Swedia, Greta Thunberg misalnya, gadis belia yang masih berusia 16 tahun, berpidato dalam Forum Ekonomi Dunia Januari 2019 di Davos-Swiss, bahkan pidatonya pada pertemuan KTT Iklim PBB September 2019 di New York, terbuka menyampaikan rasa geramnya pada pemimpin dunia yang dianggap gagal mengatasi masalah perubahan iklim.

Greta Thunberg dihadirkan dengan maksud mengingatkan kita, melalui para pemimpin negara, bahwa permasalahan lingkungan di masa mendatang bukan hal sederhana, tapi hal serius dapat mengancam nasib ummat manusia selanjutnya, selain pergolakan perang. Juga wabah penyakit menular yang telah mulai diatasi dengan kemajuan sains dan ilmu pengetahuan.

Permasalahan lingkungan yang berakibat datangnya bencana kemanusiaan, serta merta sejak abad pertengahan dilalui dengan datangnya era renaisans, bahwa bencana alam sudah tak lagi dipahami karena kutukan dewa ilah-ilah, tapi ilmu pengetahuan kelak menemukan, kesemua itu murni diakibatkan iblis batiniah dari keserahakan umat manusia sendiri.

Adapun ancaman lain dapat memusnah jutaan nyawa umat manusia, yaitu pergolakan perang. Juga tak lebih, musababnya karena keserahakan umat manusia sendiri. Dibanding menghambur uang negara guna mengantisipasi bencana, malah dibelanjakan menumpuk senjata pemusnah. Risikonya, kala wabah penyakit menyerang, semua negara kelabakan. Kematian akibat wabah, melampaui jumlah kematian akibat perang. Senjata pemusnah, tak punya manfaat apa-apa.

Mengemukakan ancaman-ancaman besar yang mengintai umat manusia di muka bumi, sekilas terlihat sederhana, seperti abainya kita pada isi pidato Bill Gates, “The Next Outbreak? We're Not Ready”, yang dikemukakan pada Konferensi TED-2015, soal ketidaksiapan kita menghadapi wabah. Alih-alih, kala wabah corona benar terjadi, kita malah berbalik menudingnya konspirasi.

Demikian karena kita meremeh dan ketidakingin tahu kita terhadap ancaman bencana, padahal justru disitulah inang bencana itu dimulai. Termasuk berinang di benak para pemimpin politik yang seringkali mengorbankan lingkungan semata investasi jangka pendek. Tapi mengorbankan kepentingan komunal jangka panjang. Padahal, mestinya dari mereka diharap memulai serta mendorong kesadaran warganya menghadapi ancaman besar umat manusia masa mendatang.

SUMBER: Harian Tribun Timur, 03 Agustus 2020

Marah-Marah di Masa Pandemi


“When angry count to ten before you speak.
If very angry, count to one hundred”.
(Thomas Jefferson)

Covid-19, telah cukup lama mewabah. Sebelumnya tak ternyana, kini mewabah lebih dari enam bulan. Menangkalnya, pemerintah Indonesia -- tidak lepas peran masyarakat – mencoba banyak cara. Hasilnya kurva kian menanjak. Risikonya perekonomian negara tersungkur. Banyak urusan warga terusik. Tak semata, pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Bosan, jenuh, rasa resah, kini menggumpal di ubun-ubun. Normal, stres tak kuasa dibendung. Meluap ekspresi marah-marah.

Marah-marah, tak hanya datang dari warga biasa. Pejabat pemerintah, tingkat terbawah hingga tertinggi, tak lepas, dari marah-marah. Ketua RT, hingga Kepala Negara. Itu normal, justru “New Normal”, jika bawahan memarahi atasan. Maksud hati, hendak memarahi Coronavirus yang tak memberi tanda, bakalan berhenti memapar. Tapi, makhluk gaib itu, rimbanya tak terlacak. Alih, memarahi bawahan, seolah pilihan terbaik. Dalih, dinilai tak loyal gusus tugas memerangi Covid.


Terjadilah, negeri ini seolah pertunjukan orkestra. Satu dirigen sama, marah-marah. "Kita dalam suasana krisis! Tapi, saya melihat, kita masih seperti biasa-biasa saja”, tegas Joko Widodo. “Kita, seolah, tak punya perasaan. Saya, jengkelnya di situ", lanjutnya bermimik geram kepada jajaran kabinetnya yang duduk “berjarak” di depannya. Saking jengkelnya, presiden melanjutkan, “Saya ini, harus ngomong apa adanya. Tak ada progres yang signifikan. Tidak ada!", tandasnya berang.

Di kala mengancam hendak merombak kabinetnya, alih-alih terbayang dalam benak saya, andai saja presiden kita asalnya Papua, Ambon, Makassar, dan Batak, kira setinggi apa gerangan nada marah-marah sang presiden itu. Namun syukurlah, presiden kita asalnya Solo. Satu suku dikenal bicaranya lembut. Majasnya pula abstrak. Tetapi, melihat presiden marah-marah memakai teks, saya legah. Jika, presiden tak asal Solo, pula marahnya sama. Beda, paling dialeg, serta intonasi.


Marah-marah memakai teks memanglah unik. Presiden Amerika Serikat ke-3, Thomas Jefferson pernah mewanti-wanti; “Kalau kamu marah, sebelum bicara, hitung hingga bilangan kesepuluh. Tapi, kalau kamu sangat marah, cobalah hitung, hingga bilangan keseratus. Marah-marah, mesti terkendali. Menghitung untung-ruginya. Itulah, dibanding presiden yang dicaci oleh rakyat yang memilih. Sebabnya – mungkin, di benak Joko Widodo – lebih dulu saya memarahi para menteri.

Mungkin. Bukankah bencana serasa tak absah andai pejabat pemerintah tak mempertontonkan empati. Citranya di muka rakyat. Pula, itulah uniknya bencana pandemi Covid-19, ruang pejabat berpentas citra, celanya ditutup. Padahal kurva menaik penanda kegagalan. Ayal, alasan kenapa pidato marah-marah itu dipublis. Tapi, membongkar kegagalan, tulis YB Mangunwijaya di dalam novel “Burung-Burung Manyar” (2014), tak perlu marah. Berani memulai lagi dipenuhi harapan.

Makassar, 05 Juli 2020


Melawan Covid-19 Tanpa Tanding

ilustrasi: mildle east moitor


“CARI. Bawa dia ke sini. Biar dia tahu, saya atau dirinya yang jago”. Perintah itu, saya terima dari seorang bekas serdadu disegani, sekira sepuluhan tahun lalu. Berdiri, bertolak pinggang dengan nada geram. “Saya ini, sepuluhan tahun lebih memimpin pasukan. Bergerilya di belantara hutan menghadapi pemberontak. Tak ada seorang pun, membuat bulu kuduk saya berdiri”. Siap, kata saya. “Hanya karena berselisih putra saya. Beraninya mengancam saya lewat telpon”, lanjutnya.

Gerangan siapakah orang itu? Seberaninya dia menelepon, lalu mengancam tokoh disegani itu? Disitulah duduk peliknya, sehingga saya diperintah. Ingat, sepuluhan tahun lalu itu, hape seluler belum ada. Pelakunya? Mana bisa ditahu! Musabab itu, telah beberapa malam tidurnya tak bisa nyenyak. Dia tak henti memikir, siapa gerangan berani mengancam dirinya. Masalahnya, semua orang tahu, di masa awal kemerdekaan, dirinya bekas serdadu pemberani. Disegani, musuhnya.

Kisah itu, alih-alih mengiang di benak saya, kala menyaksikan Donald Trump, menggaruk kepala. Presiden Amerika Serikat itu, mula tiada henti sesumbar jika angkatan perang dimiliki negerinya paling siap perang. Kombatan, nonkombatan. Konvensional, atau modern. Tapi kala Covid-19, si Coronavirus itu, menyerbu negerinya, sikapnya tak beda, bekas serdadu itu. Sehebat apa, bekas serdadu itu menerjang pemberontak. Sehebat apa senjata pemusnah dipunyai negeri itu. Keok!


Ini bukan urusan siapa jagoan, siapa tak jagoan. Sekuat apa balatentara milik Britania Raya yang dulu, mengabrakabrik negeri jajahan. Tapi mengawal dinding tebal “Buckingham Palace”, bobol juga. Si Coronavirus lolos, menyelinap masuk “The Queen’s House” itu. Memapar calon tunggal, penerima mahkota Inggris. Lebih lagi menyaksikan anak-anak muda, hanya bermodal pelindung masker, riang gembira – tanpa peduli -- menikmati sajian, di kedai kopi itu. Sejago apa, mereka?

Sehebat itukah, si Coronavirus itu? Tidak! Usahlah, Vildamir Putin, menerjunkan S-400 yang bisa menerjang musuh dari jarak 400 km. Usahlah, Donald Trump, memerintah Pentagon memuntah lagi peluru dari Drone MQ-9 Reaper. Usahlah, Xi Jinping, melontar projektil “Rilgun” yang punya kecepatan 7,5 kali kecepatan suara. Memusnah musuh satu ini, cukup sirami air sabun deterjen, sudah keok. Lalu, apa kelebihan dia? Mesti ditakuti? Apa hebatnya Covid-19, si Coronavirus itu?


Juga, ini bukan mana yang penakut, mana hebat. Duduk peliknya, sama dihadapi bekas serdadu pemberani itu, membuat tidurnya tak nyenyak. Sama, dihadapi Donald Trump, membuat kepala negara adidaya itu, menggaruk kepala. Musabab -- ijinkan saya meminjam kalimat Danarto – di dalam novelnya, “Asmaraloka” (2016). Dia terbang, dengan kecepatan fikiran. Berjalan, dengan kecepatan kedipan mata. Di mana pun tempat hendak dia tuju, bahkan di ujung-ujung semesta.

Di situ masalahnya. Hanya satu, karena Covid-19, si Coronavirus itu, tak mewujud. Melawannya, kata Sun Tzu. “The Art of War”, mesti cara berperang tanpa tanding. “Stay at home”. Selebihnya tulis Danarto, ini “Perang fatamorgana”, kelihatan pecah perang, padahal sesungguhnya tak ada perang. Jangan gagal paham. Ini, bukan urusan takut mati. Melindungi hidup, wajib. Juga, bukan jago tak terpapar, “takabur” itu. Ini, urusan “zuhud”. Melindungi sesama. Memutus matarantai.

Makassar, 15 April 2020

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...