“WILL go away
if people stay calm”. Andai kita semua
tetap tenang pada saatnya nanti juga akan pergi. Seperti itu reaksi Donald
Trump dikala Covid-19, si Coronavirus masih berstatus epidemic. Namun dikala
WHO mulai membaptisnya sebagai pandemic – bahkan negeri Paman Sam itu kini
menjadi epicentrumnya – manusia seisi bumi ini bersama pemerintahan
masing-masing, sontak siaga. Malah panik. Serta merta mengambil sikap “Social
Distancing”. Sebagian me-“Lockdown”.
Semua tau vaksin pemulihnya belum ada. Pilihan satu-satunya, terutama di kawasan Eropa, dan sekian negara lain, masyarakat beramai memborong tisu toilet. Lalu masker juga hand sanitizer. Barang sejenis itu, akibatnya hilang dipasaran. Lalu di Indonesia, politisi khususnya, menjadikan peluang propaganda. Meskipun kata Regina Phelps, pendiri Emergency Management and Safety Solutions San Fransisco, bukan barang mendesak. “Mencuci tangan pakai deterjen, pun efektif”.
Kala daratan lain di muka bumi lagi berjibaku beralaskan kemampuan tempur dimiliki, Tiongkok kini malah berleha-laha. Padahal, muasal Covid-19, si Coronavirus itu, dari sana. Lalu sekira apa resepnya? Lockdown! Karantina kewilayahan. Hanya sebegitu dipahami. Ayal, maka beramailah tiap negeri yang dirayapi si Corona, menghimbau; “Social Distancing”. Akibat terdesak, tak mau tahu apa risiko bakal ditanggung kemudian, rakyat meminta. Tolong berlakukanlah “Lockdown”.
JUGA BACA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/social-distancing-please.html
Di Amerika Serikat, semasih berstatus “Social Distanding”, pra- “Lockdown”, sebagian warganya – terutama Yahudi -- antri bukan untuk membeli tisu toilet, masker, atau hand sanitizer. Seram, tak percaya. Membeli senjata! Buat apa? “Menghadapi, masa Lockdown”, jelas mereka. Dugaan saya, “Black Death” menjadi trauma mendalam bagi mereka. Pertengahan abad 14 (1347-1351) pandemic “pes” melenyapkan sepertiga, malah duapertiga populasi masyarakat kawasan Eropa.
Kejadian yang oleh para penulis kontemporer menyebutnya “Great Mortality”. Kematian akbar, musabab para dokter dikala itu, kehilangan daya abstraksi mengurai “asbabun nuzul”, penyakit sampar itu. Risikonya, masyarakat panik. Kehilangan nalar sehat. Orang-orang Yahudi, tertuduh yang menaburi racun di sumur-sumur. Juga para pendatang, peziarah, pengemis, malahan para biarawan. Dan mereka, kelompok tertuduh itu kemudian diamuk massa. Ribuan yang terbunuh.
JUGA BACA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/sesama-kita-adalah-virus.html
Puluhan buku mengulas kisahnya. Saya menamatkan “La Peste” novel Albert Camus, diterjemah Nh Dini, “Sampar”. Belakangan ditahu, pandemic pes itu --- lagi-lagi – mula berasalnya, juga dari Hubei, Tiongkok. Aneh, sama muasal si Corona. Dan semua tergiur meniru Tiongkok mengusir si virus jahat itu. “Social Distancing”. Lalu, “Lockdown”. Bukan hal sederhana. Melaksanakan tidak semudah mempertangjawabkannya. Negeri komunis itu, tak mau jujur. Resep diberikan, tiruan.
Aslinya; bikin seram dulu. Lalu siapkan, kas cadangan negara. Siapkan, aparat jika rakyat jenuh atau kehabisan pangan. Dan ini yang dirahasiakan; siapkan aplikasi “Jian Kang Mao”. Tiap warga wajib men-download, lewat hape. Semua warga, terhubung pusat data kesehatan nasional. Ada di mana, kondisi kesehatan, bernafas juga batuk, semua terpantau. Itu juga tak kalah seramnya. Andai projek e-KTP berhasil? Kita pasti bisa! Sayang dibawa lari. Akibat itu, kita #dirumahaja.
Makassar, 29 Maret 2020
Semua tau vaksin pemulihnya belum ada. Pilihan satu-satunya, terutama di kawasan Eropa, dan sekian negara lain, masyarakat beramai memborong tisu toilet. Lalu masker juga hand sanitizer. Barang sejenis itu, akibatnya hilang dipasaran. Lalu di Indonesia, politisi khususnya, menjadikan peluang propaganda. Meskipun kata Regina Phelps, pendiri Emergency Management and Safety Solutions San Fransisco, bukan barang mendesak. “Mencuci tangan pakai deterjen, pun efektif”.
Kala daratan lain di muka bumi lagi berjibaku beralaskan kemampuan tempur dimiliki, Tiongkok kini malah berleha-laha. Padahal, muasal Covid-19, si Coronavirus itu, dari sana. Lalu sekira apa resepnya? Lockdown! Karantina kewilayahan. Hanya sebegitu dipahami. Ayal, maka beramailah tiap negeri yang dirayapi si Corona, menghimbau; “Social Distancing”. Akibat terdesak, tak mau tahu apa risiko bakal ditanggung kemudian, rakyat meminta. Tolong berlakukanlah “Lockdown”.
JUGA BACA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/social-distancing-please.html
Di Amerika Serikat, semasih berstatus “Social Distanding”, pra- “Lockdown”, sebagian warganya – terutama Yahudi -- antri bukan untuk membeli tisu toilet, masker, atau hand sanitizer. Seram, tak percaya. Membeli senjata! Buat apa? “Menghadapi, masa Lockdown”, jelas mereka. Dugaan saya, “Black Death” menjadi trauma mendalam bagi mereka. Pertengahan abad 14 (1347-1351) pandemic “pes” melenyapkan sepertiga, malah duapertiga populasi masyarakat kawasan Eropa.
Kejadian yang oleh para penulis kontemporer menyebutnya “Great Mortality”. Kematian akbar, musabab para dokter dikala itu, kehilangan daya abstraksi mengurai “asbabun nuzul”, penyakit sampar itu. Risikonya, masyarakat panik. Kehilangan nalar sehat. Orang-orang Yahudi, tertuduh yang menaburi racun di sumur-sumur. Juga para pendatang, peziarah, pengemis, malahan para biarawan. Dan mereka, kelompok tertuduh itu kemudian diamuk massa. Ribuan yang terbunuh.
JUGA BACA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/sesama-kita-adalah-virus.html
Puluhan buku mengulas kisahnya. Saya menamatkan “La Peste” novel Albert Camus, diterjemah Nh Dini, “Sampar”. Belakangan ditahu, pandemic pes itu --- lagi-lagi – mula berasalnya, juga dari Hubei, Tiongkok. Aneh, sama muasal si Corona. Dan semua tergiur meniru Tiongkok mengusir si virus jahat itu. “Social Distancing”. Lalu, “Lockdown”. Bukan hal sederhana. Melaksanakan tidak semudah mempertangjawabkannya. Negeri komunis itu, tak mau jujur. Resep diberikan, tiruan.
Aslinya; bikin seram dulu. Lalu siapkan, kas cadangan negara. Siapkan, aparat jika rakyat jenuh atau kehabisan pangan. Dan ini yang dirahasiakan; siapkan aplikasi “Jian Kang Mao”. Tiap warga wajib men-download, lewat hape. Semua warga, terhubung pusat data kesehatan nasional. Ada di mana, kondisi kesehatan, bernafas juga batuk, semua terpantau. Itu juga tak kalah seramnya. Andai projek e-KTP berhasil? Kita pasti bisa! Sayang dibawa lari. Akibat itu, kita #dirumahaja.
Makassar, 29 Maret 2020

