KOMPLEKS perumahan saya yang berbentuk semi cluster, sejak sepekan
lalu, seluruh warga telah bersepakat mengambil sikap “lockdown”. Demikian
pilihan terbaik dilakukan. Tak sekadar takut ikut terpapar, tetapi juga untuk
memutuskan matarantai peredaran Covid-19, virus Corona asal Tiongkok itu.
Setiap tamu, bahkan juga setiap warga penghuni, entah keluar ataukah sebaliknya
memasuki perumahan, wajib melapor diri pada Satpam. Jauh agak ketat dibanding sebelumnya.
Ayal sejak kebijakan internal warga perumahan itu berlaku, seisi rumah saya taat mengikutinya. Kami ikut me-lockdown diri. Mengambil sikap “social distancing”. Mengurung serta mengisolasi diri di rumah. Membatasi diri dari aktivitas di luar rumah. Tentu saja membatasi diri untuk tidak berinteraksi dengan banyak orang lain di luar rumah. Risikonya, hidup dijalani, bagaikan sedang berada dalam sangkar burung. Semula, sebebasnya mengepakkan sayap, seketika di-lockdown.
Menjalani masa “social distancing”, selain menjadi waktu luang terbaik bagi saya, menuntaskan buku-buku bacaan saya yang tertunda, juga melalui bantuan “IndiHome”, saya berkeliling dunia memantau laju pergerakan virus tak terlihat itu, juga bagaimana warga dunia menyikapi. Semua ingin, sesegera mungkin mengakhiri pandemic itu dengan cara yang sama. Me-lockdown dirinya masing-masing. Jika sebelumnya memasukkan burung ke dalam sangkar. Kini, malah sebaliknya.
Manusia seisi jagat alam raya ini, tak terkecuali saya dan seisi rumah saya, sebandel apapun dia, sekemampuan apapun dirinya -- menjinakkan singa liar misalnya – berbukti, seluruhnya berlari. Menghindari, takut menghadapi serangan, virus yang justru tak berwujud itu. Bahkan, sekaliber David Franklin Hanson Jr saja, telah membuktikan kedigjayaannya menciptakan “Sophia”, robot cantik, pandai berbicara laiknya manusia sebenarnya, ikut lari terbirit-birit. Menjauhi si Corona.
Berbukti, jika virus yang oleh WHO, badan kesehatan dunia milik PBB itu, menyebutnya tak lagi sekadar mewujud wabah serta epidemic, tapi pandemic itu, memiliki kedigjayaannya tersendiri. Jangankan aktor kawakan Tom Hanks, yang setahun lalu kita beramai ke bioskop menonton film dibintanginya, “Angels and Demons”, ikut terpapar Corona. Pula Donald Trump dikenal presiden paling takabur sedunia itu, bertekuk lutut dibuatnya. Pingsan saat pidato, dikira positif Corona.
Covid-19, singkatan “Coronavirus Disease 2019” itu, hadir secara tak terduga, pun dari manakah sumber kedatangannya, oleh para ilmuan terhebat dunia belum mengetahui, benar-benar telah meluluhlantak, segala keangkuhan duniawi manusia. Makhluk yang besarannya -- mungkin saja seperti itulah yang dimaknai Allah SWT di dalam enam ayat al-Quran – hanya seberat “dzarrah”, sekejap membuat manusia seisi alam raya ini, panik ketakutan. Semua memilih mengurung diri.
Anomali, ketidaknormalan. Dikala umat manusia dipuncak kedigajayaannya menciptakan ragam temuan “Artificial Intelligensi”, oleh sejarawan Israel, Yuval Noah Harari di dua bukunya, “Homo Sapiens” juga “Homo Deus” -- saya daras kala me-lockdown diri di rumah – bahwa, kini manusia mendomestifikasi diri bagai penguasa segalanya di muka bumi. Lalu, kala makhluk tak berwujud seberat dzarrah itu datang, semua ketakutan. Takut terpapar. Takut mati. Tapi tak takut Tuhan?
Makassar, 24 Maret 2010
Ayal sejak kebijakan internal warga perumahan itu berlaku, seisi rumah saya taat mengikutinya. Kami ikut me-lockdown diri. Mengambil sikap “social distancing”. Mengurung serta mengisolasi diri di rumah. Membatasi diri dari aktivitas di luar rumah. Tentu saja membatasi diri untuk tidak berinteraksi dengan banyak orang lain di luar rumah. Risikonya, hidup dijalani, bagaikan sedang berada dalam sangkar burung. Semula, sebebasnya mengepakkan sayap, seketika di-lockdown.
Menjalani masa “social distancing”, selain menjadi waktu luang terbaik bagi saya, menuntaskan buku-buku bacaan saya yang tertunda, juga melalui bantuan “IndiHome”, saya berkeliling dunia memantau laju pergerakan virus tak terlihat itu, juga bagaimana warga dunia menyikapi. Semua ingin, sesegera mungkin mengakhiri pandemic itu dengan cara yang sama. Me-lockdown dirinya masing-masing. Jika sebelumnya memasukkan burung ke dalam sangkar. Kini, malah sebaliknya.
Manusia seisi jagat alam raya ini, tak terkecuali saya dan seisi rumah saya, sebandel apapun dia, sekemampuan apapun dirinya -- menjinakkan singa liar misalnya – berbukti, seluruhnya berlari. Menghindari, takut menghadapi serangan, virus yang justru tak berwujud itu. Bahkan, sekaliber David Franklin Hanson Jr saja, telah membuktikan kedigjayaannya menciptakan “Sophia”, robot cantik, pandai berbicara laiknya manusia sebenarnya, ikut lari terbirit-birit. Menjauhi si Corona.
Berbukti, jika virus yang oleh WHO, badan kesehatan dunia milik PBB itu, menyebutnya tak lagi sekadar mewujud wabah serta epidemic, tapi pandemic itu, memiliki kedigjayaannya tersendiri. Jangankan aktor kawakan Tom Hanks, yang setahun lalu kita beramai ke bioskop menonton film dibintanginya, “Angels and Demons”, ikut terpapar Corona. Pula Donald Trump dikenal presiden paling takabur sedunia itu, bertekuk lutut dibuatnya. Pingsan saat pidato, dikira positif Corona.
Covid-19, singkatan “Coronavirus Disease 2019” itu, hadir secara tak terduga, pun dari manakah sumber kedatangannya, oleh para ilmuan terhebat dunia belum mengetahui, benar-benar telah meluluhlantak, segala keangkuhan duniawi manusia. Makhluk yang besarannya -- mungkin saja seperti itulah yang dimaknai Allah SWT di dalam enam ayat al-Quran – hanya seberat “dzarrah”, sekejap membuat manusia seisi alam raya ini, panik ketakutan. Semua memilih mengurung diri.
Anomali, ketidaknormalan. Dikala umat manusia dipuncak kedigajayaannya menciptakan ragam temuan “Artificial Intelligensi”, oleh sejarawan Israel, Yuval Noah Harari di dua bukunya, “Homo Sapiens” juga “Homo Deus” -- saya daras kala me-lockdown diri di rumah – bahwa, kini manusia mendomestifikasi diri bagai penguasa segalanya di muka bumi. Lalu, kala makhluk tak berwujud seberat dzarrah itu datang, semua ketakutan. Takut terpapar. Takut mati. Tapi tak takut Tuhan?
Makassar, 24 Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar