Seorang
sahabat, mengirimi saya video, rekaman seorang anak gadis belia seusia sekira
sepuluh tahunan, sedang mendemonstrasikan kepiawaiannya mendawai biola. Sekilas
menyaksikannya, boleh jadi, tak kalah banding dengan mendiang maestro biola
Indonesia, Idris Sardi. Dawai biola digeseknya mengalunkan syair lawas The
Beatles tentang Bunda Maria, “Let it Be”. “When I find my self in times of
trouble, Mother Mary comes to me, speaking words of wisdom, let it be...".
Sungguh
sebuah rekaman video yang sangat menghibur. Syahdu dan penuh penghayatan. Lebih
lagi karena saat mendawai biola, gadis belia itu tak monoton, malah seringkali
mengayun badan serta langkah kakinya mengikuti irama. “Let it Be”, biarlah!
Patut ditonton, bahkan rasa-rasanya merugi jika tak sempat menyaksikan. Saking
mengasyikkannya sekian kali saya mengulang. Juga tak terlupa, saya membalas
pesan sahabat saya, mengucapkan terima kasih kiriman videonya.
Lalu
dimanakah gerangan lokasi gadis belia itu mendemonstrasikan kepiawaiannya.
Rekaman di video itu tak menyebut lokasi, tapi jelas terlihat bukan di wilayah
Indonesia. Pastinya di negera luar. Gadis belia itu, juga berambut pirang. Ia unjuk
karya dengan kepiawaiannya tak di ruangan tertutup, tapi terbuka. Meski
dilengkapi peralatan listrik serta peralatan musik, tapi dibolehkan bermain
musik di tepi jalan. Ramai orang berlalu lalang. Banyak tergoda mampir
menontonnya.
Dirinya
memang pemain musik, tapi sepertinya pemusik jalanan. Terlihat banyak orang
lewat menaruh sekeping-selembar uang pada wadah disiapkan. Di Indonesia, mereka
akrab disebut pengamen, meski saya tak lagi seberani menyimpulkan, jika dirinya
murni seorang pengamen jalanan, persis sama di Indonesia. Saya kapok mengulang
kekeliruan sama pada saat berada di Melbourne-Australia, menduga tulen pengamen,
alih-alih dia salah satu artis tenar di sana.
Tak
hanya di sekian kota di Australia, sejumlah kota di kawasan Eropa, juga nyaris
sama. Sekian tempat keramaian kota, di tepian jalan, khususnya pelataran
terbuka yang ramai orang barlalu lalang, seringkali dijumpai pemain musik.
Harap maklum - hindari kekeliruan seperti saya - coba mempersepsikan mereka
sama saja pengamen di negeri ini. Musababnya, di negeri ini pemusik jalanan
bermodal peralatan musik hanya seadanya, modal bermain musik dan suara
pas-pasan.
Beda
di sejumlah negara luar, pemusik jalanan tak terlihat pengamen seperti persepsi
di benak kita, seringkali mempersesikan sama dengan peminta-minta. Akibatnya,
sajian musik pengamen sedianya untuk menghibur, malah dianggap mengganggu.
Ayal, depan sekian restoran tertulis, “Pengamen Dilarang Masuk”. Di negara
Bulgaria misalnya, pemusik jalanan pasti mengasyikkan sebab ketentuan di sana,
mereka tak dibolehkan bermain musik di jalanan jika tak lolos audisi.
Saya
tahu sedikit soal itu, setelah mendapat penjelasan dari pemandu yang
mendampingi kami selama di sana. Dan saat menikmati video rekaman gadis belia
mendawai biolanya, sontak saya teringat dengan penjelasan pemandu itu. Ia malah
menegur saya, ketika saya mencibir seorang lelaki tua berpantomim di tepi
jalan, juga banyak dapat sokongan sekeping-selembar uang dari pejalan kaki. “Di
sini orang cari uang dengan unjuk karya bukan cara meminta-minta”, tegurnya.
Makassar,
31 Oktober 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar