Malam itu - di sela perbincangan non tematik
- saat nongkrong berdua sahabat lama, di café VOC kawasan Megamas Manado - area
yang konon setiap malam ramai dipadati muda-mudi itu - tanpa sadar kami ikut kepleset
membincang soal polemik pernyataan Menteri Agama RI yang tengah menghangat. Paradoks,
sebab disoal pejabat level menteri, pakaian cadar yang kainnya berlebih, bukannya
pakaian (sebagian) muda-mudi Manado yang justru minim kain.
Polemik pernyataan Menteri Agama RI, satu
pihak coba mendalih bahwa pakaian cadar atau cingkrang kini telah mewujud
sebagai tren, sehingga tak lagi relevan diidentik dengan ajaran agama tertentu.
Pihak lain - sahabat saya berbeda - mendalih, bahwa pakaian minim disukai mudi-mudi
di Manado, juga sudah tren, sehingga tak lagi dijadikan soal oleh banyak orang
di Manado. “Sudah berlangsung lama, jadi orang sini menganggap lumrah saja”, sanggahnya.
Kedua sisi pandang memiliki dalih yang sama,
meski konteksnya berbeda. Daripada bingung sendiri, “let it be” kata John
Lennon, biarlah. Polemik itu biarlah terus berdialektika, diantara tesa-antitesanya,
kelak pasti menemukan tesisnya sendiri. Saya malah tergoda, mensoal sisi lain kawasan
Megamas Manado - area hasil reklamasi pantai seluas 36 Ha - tempat dimana saya
sedang nongkrong untuk mengopi bersama sahabat lama saya sejak masa kuliah dulu.
Sungguh, saya benar-benar takjub pada gagasan
menghadirkan kawasan seluas ini di tepian kota Manado. Lepas dari segala
konsokuensi atas keberadaannya, bagi saya sebuah gagasan pengembangan yang
sangat cemerlang. Konsepnya, membangun kota baru mulai “titik nol”. Mula
dirintis 2004, memang mengambil pilihan, “The One Stop Shopping & Entertainment”,
sehingga penataan ruang dirancang bagi investor agar berselera membuang sauh
sahamnya.
Area berwawasan mendepan yang berorintasi
ruang perputaran uang ini, kini berdiri sekian hotel, pusat perbelanjaan modern,
gerai kuliner dan pakaian ternama, kawasan nongkrong muda-mudi, tempat bermain
anak-anak, bahkan tersedia lahan exhibition serta area untuk kebutuhan segala bentuk
event sebesar apapun. Mau karnaval, music performance, bahkan untuk apel
militer seringkali dilakukan di sini. Kebutuhan untuk berolah raga, terlebih
lagi.
Saya tak kuasa mengira, seberapa uang berputar
sehari di pusat kerumunan orang Manado ini. Hanya saja, gagasan, kepemilikan serta
pengelolaannya - konok - sepenuhnya di tangan pengembang. Padahal, jauh lebih spektakuler
lagi andai pemerintah daerah yang mengajak investor. Meski panjang diperdebatkan,
gagasan seperti ini, mencemburukan. Patut ditiru. Banyak daerah mereklamasi pantainya
berujung statis karena peruntukannya pemukiman.
Sejujurnya, acapkali “studi banding” menyaksikan
gagasan pemajuan daerah seperti ini, saya sepuluh tahun duduk di kursi wakil
rakyat, serasa berlalu tak ada guna. Satu diantara banyak sebab, sistem
demokrasi kita bias orientasi. Banyak urusan negara kita serahkan, tak selaras
kemampuan orangnya. Risikonya, coba simak polemik pernyataan Menteri Agama RI.
Lebih usil pakaian cadar PNS dibanding apa dikerja seorang PNS. Ngurus kulitnya
dibanding isinya.
Manado, 02 November 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar