Memilih Makanan Paling Enak



Sekalipun antara kota Manado dan kota Makassar, letaknya sedaratan di Pulau Sulawesi, tetapi inilah kali sejarah pertama bagi saya untuk menginjakkan kaki di kota Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Sebelum terbang, benak saya berputar mencari-cari siapakah warga “kawanua” yang saya kenal sedang berada di sana. Kata benak saya, rasa-rasanya percuma setengah umur terbuang bergelut di organisasi, lalu berkunjung ke satu daerah tak seorang teman pun dikenal.

Seharian mengikuti kegiatan inti, sambil sesekali mencari-cari siapa gerangan teman di Manado, juga belum ketemu. Banyak nama terbayang, tapi bagaimana cara menghubunginya, sementara saya tidak memiliki nomor kontak mereka. Sambil mencari-cari, saya memberanikan diri, keluar sendirian menyusuri kota yang gurau banyak orang “mesti mempertebal iman, banyak godaan”. Dan gurauan itu ada benarnya, sopir on-line yang mengantar saya ke tujuan, perempuan cakep.

Sopir on-line menurunkan saya di kawasan Megamas. Sesuai rekomendasi petugas hotel, sinilah tempat yang menjanjikan untuk nongkrong. Sambil menunggu seorang sahabat yang telah saya hubungi saat perjalanan ke tempat ini, saya memesan segelas kopi. Saya didera rasa penasaran dengan literatur sejarah, bahwa salah satu dalih - selain rempah lainnya - VOC sejak 1630 betah menduduki Manado - hingga beranak pinang - musabab karena komoditi kopinya yang unggul.

Tak selang lama, sahabat saya sejak masa kuliah dulu di Makassar, akhirnya tiba. Andai saya tak salah ingat, mungkin inilah kali perjumpaan pertama, sejak kami meninggalkan bangku kuliah di era awal 1990-an. “Mau ke mana kita?”, tanyanya. Saya menepis, apa tak sebaliknya saya yang bertanya, saya ini mau dibawa ke mana?. Sejenak ia terdiam. “Hayo, sini jo kita pigi nikmati rasa kuliner khas Menado”, ajaknya berdialeg khas Manado. “Tapi kita mampir beli ole-ole dulu ya!”.

Sehabis berbelanja ole-ole sesuai kadarnya, sebelum bergerak ke rumah makan, kami terpaksa mengambil posisi duduk menghisap sebatang-dua batang rokok, sekadar mencari kata mufakat, di rumah makan mana hendak dituju. Harap maklum, di kota Manado memang dikenal memiliki banyak kuliner khas. Saya teringat rumah makan langganan saya di Jakarta, saya memberi saran masakan woku ikan berkuah. “Ok, sini jo kita pigi makan woku paling enak di Menado”, ujarnya.

Perjalanan ke rumah makan, sontak kami teringat masa-masa kuliah dulu. Akibat uang belanja kiriman orangtua belum juga tiba, sehingga seringkali seharian kami di kampus, tak sesuap nasi yang mengalir ke dalam perut. Beruntung, persahabatan kami di kampus sangatlah kental, atas modal dasar itulah sehingga kami bisa melanjutkan hidup. Di antara kami, seringkali bergantian mentraktir makan. Murni tanpa didasarkan pamrih, siapa memiliki uang, dirinyalah mentraktir.

Tapi berbalik membuat kami ngakak, sebab dulu kami selalu berfikir, “apa bisa dimakan?”. Kini, “pilih makanan yang enak?”. Syukur-syukur, tak terlintas di benak, “siapa yang bisa dimakan?”. Tapi ironisnya, saat berkemampuan menikmati makanan enak, justru mulai banyak pantangan diminta oleh dokter. Akibatnya, saat memulai makan, terbayang bukan do’a, tapi wajah dokter. “Jika tak dilanggar, kapan waktunya bagi saya menikmati makanan enak?”, jerit isi batin saya.

Manado, 03 November 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...