Menyogok Tukang Sampah



Sebelum meninggalkan rumah untuk berangkat ke Manado, saya telah mewanti-wanti pekerja di rumah, jika mobil angkutan sampah datang, agar material sisa-sisa rehab yang menumpuk di depan rumah, disuruh angkut. Tetapi beberapa hari setelah pulang, material itu juga masih ada menumpuk. Musababnya apa? Apa beberapa hari belakangan, mobil angkutan sampah itu, tak datang?. “Ada Pak!”. Tapi tidak diangkut?. “Beberapa kali saya suruh, tetap saja tak mau, Pak!”.

Wadduh, bingung juga. Tapi apa hendak dikata, mereka yang punya kuasa. Mereka yang punya otority, mau angkut atau tak angkut. Andai mereka mau dipaksa sekuat apapun, jika tetap tidak mau, kita mesti berbuat apa. Sekalipun atasan langsung mereka di Dinas Kebersihan Kota, atau jauh lebih di atasnya lagi, seorang Walikota, seluruhnya adalah sahabat baik saya, bisa saja saya mengadu agar menyuruh mereka segera mengangkut tumpukan sampah di depan rumah saya.

Mengadu langsung urusan pribadi ke Walikota hanya urusan sampah? Keterlaluan. “Tapi ini kan urusan banyak orang, Pak!”, jelas pekerja di rumah. Banyak orang apa?. “Sampah di rumah lain, juga nasibnya pasti sama, Pak!”, lanjutnya. Benar juga, tapi apa memang tak ada cara lain? Bikin malu saja! Mengadukan urusan kecil pada seorang kepala daerah, nanti kepala daerahnya yang malah mengatakan, urusan sekecil itu mesti diadukan ke kita. Jika dijawab begitu, mau apa lagi?

Sekelas Walikota memang memiliki otority tinggi, punya kuasa kepemimpinan pada bawahan di dalam kuasanya. Termasuk punya kuasa pada petugas kebersihan, sekelas pengangkut sampah. Namun asal tahu saja, serendahnya posisi struktural petugas pengangkut sampah, tetapi di diri mereka secara individual juga memiliki otoritasnya sendiri-sendiri. Memiliki kuasa di atas kuasa, tak bergeming meski dilabrak sekuat bulldozer sekalipun. Apalagi hanya dasar perintah atasan.

Atas dasar kuasa dimiliki itulah, sehingga jika para petugas kebersihan itu, tak hendak berkenan mengangkut sampah yang menumpuk di depan rumah saya, sekalipun saya marah-marah, atau sebaliknya, saya memohon dengan sangat, jika tetap tak berkenan, kira-kira mesti saya katakan apa?. Membiarkan mobil Tangkasaki’ (Truk Angkutan Sampah Kita) itu berlalu, tanpa membawa tumpukan sampah depan rumah saya, tentu bukanlah jalan tengah. Justru, pilihan yang bodoh.

Berhadapan situasi semacam itu, tentu benar-benar dilematis. Situasi seperti itu tak hanya pada kisah petugas kebersihan kota. Banyak kisah menyerupai di sekeliling kita. Otoritas ego individu - dengan segala kuasanya - lebih di kedepankan di saat sedang bertugas melayani urusan publik. Risikonya, publik mesti mencari resolusi mendobrak angkuhnya ego individual. Dan di titik inilah  mula penyimpangan. Publik tak bersua pelayan publik. Bersua pelayan publik berego individual.

Agar tumpukan sampah depan rumah saya terangkut, tak ada cara lain selain merumuskan titik - penyimpangan - berkompromi. “Apa arti, tiap bulan kita melunasi iuran sampah, jika akhirnya mesti nyogok petugas sampahnya lagi”, gerutu saya menitip uang ke pekerja rumah agar diberi petugas kebersihan. “Bapak itu, bekerja di mana?”, tanyanya. Saya secepatnya menjauh. Takut ia balik menggerutu, memang di tempat kerja Bapak tak terjadi juga? Hulu dan hilir sama saja!

Makassar, 07 November 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...