Pada hari
Minggu itu, bertepatan peringatan Hari Pahlawan Nasional, saya sedang berada di
Kota Surabaya. Kisah pertempuran terbesar di kota inilah, penanda 10 November
ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional. Ketika itu 10 November 1945, Bung
Tomo (Sutomo) bergiat menggerakkan semangat masyarakat Surabaya untuk melawan
kembalinya kolonial Belanda melalui pasukan Inggris, diboncengi tentara NICA (Netherlands Indies Civil
Administration).
Seperti itulah
ringkasan cerita tentang latar penetapan Hari Pahlawan Nasional. Tapi, ketika
sopir yang mengantar saya berkeliling di Kota Surabaya, menanyakan, “Siapakah
sebenarnya yang disebut pahlawan?”, saya jujur mengaku tak mampu menjawabnya. Pengetahuan
saya tentang pahlawan sebatas diajarkan guru sejarah kala dulu duduk di bangku SD
hingga SMA. Pahlawan, orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi kepentingan
bangsanya.
Saya
memahami pengertian pahlawan, hanya sebatas itu. Wujudnya, mereka yang wajahnya ada dalam
figura, digantung berbanjar di dinding ruang kelas saya, sewaktu duduk di bangku kelas SD, SMP hingga SMA. Sekian tahun, tiap kali memasuki ruang kelas, sorotan mata para murid-siswa, tak bisa lepas dari pandangan
wajah para pahlawan itu. Lambat laun mencekok cara pandang
saya, seperti ditegaskan guru sejarah, “hargai dan hormatilah para pahlawan!”
Sama di sejumlah
negara. Menghormati serta mengenang para pahlawan mereka, tak hanya dengan cara
memajang lukisan wajahnya di dinding, namun juga melalui patung figurative - sekujur tubuh tiap pahlawan
- yang terbuat dari perunggu. Patung stilasi itu, mudah di temui di taman kota dan sudut-sudut jalan. Di
Sydney-Australia misalnya ada berdiri patung Queen Victoria, politisi William
Bede Dalley, Gubernur pertama Captain Arthur Phillip, serta lainnya.
Ketika
saya, berkeliling bersama rombongan di Kota Amsterdam-Belanda, juga sama.
Banyak patung pahlawan Belanda ditemukan berdiri kokoh di sudut jalan dan taman
kota. Bahkan di bagian Selatan Kota Amsterdam, depan gedung sekolah Lyseum,
terdapat “Monumen Indie-Nederland” untuk mengenang pahlawan Belanda, Johannes
Benedictus Van Heutsz, mantan komandan militer KNIL yang menaklukkan wilayah
Aceh 1903, melalui pembunuhan massal.
Setelah puas
berfoto di bawah patung monumen itu, bersama rombongan kami menuju ke hotel
untuk beristirahat. Lelaki pirang - pelayan hotel - mengantar saya menuju
kamar. "Pak, koper ini taruh di mana?". Mengejutkan saya karena fasih berbahasa Indonesia. Dijelaskan,
dulu Kakeknya berjuang di Indonesia. Sebab itu patung kakeknya
berdiri di Kota Amsterdam. Sementara dirinya, bergabung di organisasi turunan veteran
pejuang Belanda di Indonesia.
Sesaat ia
meninggalkan kamar, sekonyong-konyong membayang wajah para pahlawan yang
terpajang di dinding ruang kelas saya masa SD hingga SMA. Figura mereka sengaja
dipajang di dinding agar menjadi teladan para murid-siswa. Pahlawan yang mengorbankan
raga serta jiwanya, mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia. Tapi, lelaki
Belanda, petugas hotel itu, mengklaim kakeknya pahlawan Belanda di Indonesia?. Siapakah
sebenarnya pahlawan?
Surabaya,
10 November 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar