Sepekan
terakhir - hakikatnya berlangsung terbuka - mestinya disadari, bahwa kita sebenarnya
sedang berada di arena tebak-tebakan. Sedang bermain game ramal-ramalan. Benar,
boleh jadi karena kebetulan. Tak benar, pun bukan hal yang patut dipersoalkan. Jika
menyebut Krisdayanti mundur dari keanggotaan DPR-RI karena diajak masuk Kabinet
Kerja II, tak soal. Ataukah, Mulan Jamila juga mengikuti hal sama, pun juga tak
soal. Namanya saja tebak-tebakan, alias ramalan.
Tebak-tebakan
siapa figur diajak Jokowi masuk kabinetnya, hanya Jokowi dan Tuhan yang tahu.
Tak lebih kurang sama saja sopir angkot, mampir ataukah lanjut, tak seorang penumpang
yang tahu, kecuali dirinya dan Tuhan. Tapi jika sepekan terakhir, kita merasa lebih
tahu, mendahului sopir, atau Jokowi, bahkan Tuhan, pun tak soal. Ya, namanya tebak-tebakan
dan ramal-ramalan. Andai kelak Krisdayanti atau Mulan Jamila benar masuk kabinet,
kebetulan benar. Jika salah, ya!
Lalu di dua
hari terakhir, saat Jokowi mulai mengundang sekian figur ke Istana negara, tebakan
dan ramalan mulai mengkristal. Sekaligus banyak tebakan dan ramalan berguguran.
Meski kita bisa menebak mereka yang berkemeja putih mendatangi istana, tetap saja
hanya Jokowi serta Tuhan yang tahu. Buktinya - kita seolah mulai melupa - sekian
menit, kemeja Mahfud tiba-tiba hilang di istana, nyasar menjadi sorban Kiyai Ma’ruf
pendamping Jokowi sebagai cawapres.
Jadi kenapa
mesti ada tebak-tebakan dan ramal-ramalan, padahal semua kita tahu, Jokowi -
kita sebagian memilihnya - tak lari ke mana. Pemegang hak prerogatif, saatnya pasti
mengumumkan kabinetnya, bekerja untuk kita. Tak mungkin sanggup, bekerja sendirian.
Mengurusi 270-an juta penduduk, seluruhnya butuh makan tiga kali sehari, juga tak
mungkin mau telanjang. Jawabnya karena kita tak sabaran. Konon, game akan seru,
jika didahuli dengan tebakan beserta ramalan.
Tebakan susunan
kabinet, dasarnya subjektif, seperti meramal gol sepakbola. Lain berbeda, jika ramalan
cuaca, didasari metode dan analisis ilmiah. Namun, ketika dua hari terakhir, sekonyong
ramai banyak orang memamer diri berkemeja putih, malah peristiwa beginilah menarik
diramal bahkan dianalisis. Gejala apa? Mengolok pasti bukan. Ikut berharap, agar
juga diundang Jokowi ke Istana, siapa tak mau. Jika putri saya berkemeja putih,
jangan diramal, pasti mau ke sekolah.
Sisi lain, cobalah
palingkan ingatan sejenak pada warga Jokowi di Badui dan di Kajang, memaksa dalih
apapun mereka agar berkemeja putih, tetap sebaliknya lebih akrab warna hitam.
Kenapa? Jangan - tak perlu - menguras energi lagi untuk menebak. Diundang ke
istana, belum tentu mau. Sononya, mereka memilih merawat kelestarian alam dibanding
mengurusi negara. Lain, kecuali mendatangi Prabowo. “Dulu, nyuruh kami mendemo
Jokowi, kok malah Bapak masuk kabinet?.
Berdalih apapun
mereka tak mau bergeming. Sejak sononya memang beda simbol. Dulu tempe, kini
tahu. Dulu kotak-kotak, kini putih. Mereka, sejak sononya hitam. Bukankah, Prof
Carl G Jung “Man and His Symbol”
(2018) berkata simbol itu bahasa alam, bukan bahasanya penguasa. Nah, kalian terlanjur
sepakat “berseragam” kemeja putih, urusi negara. Jangan tak sabaran, bermain game
lagi. Meramal, menebak, kami memilih Krisdayanti dan Mulan Jamila untuk mengawasi.
Makassar,
23 Oktober 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar