Tiba di rumah, sepulang membersihkan rumah
lama yang sekian tahun tidak terurus akibat dari kesibukan yang menyita banyak waktu,
di depan pintu rumah, saya mendapati puluhan pasang sepatu terserak tak beraturan.
Tanpa perlu jauh menelusuri siapa gerangan para pemilik sepatu itu, benak saya telah
memastikan, bahwa pemiliknya tak lain adalah teman-teman sekolah putri saya.
Lebih absah lagi, karena tak selang lama saya mendengar cekikikan mereka dari kamar.
Mendengar cekikikan para siswi sekolah
menengah pertama itu, musabab di benak saya sontak membayang wajah almarhum
“mentor” saya. Seorang kakak yang sekian periode pernah duduk di kursi parlemen
pusat. Ia benar-benar seorang mentor, maha guru pembimbing saya menapak hidup. “Inti kesuksesan itu, hidup harus
selalu prihatin”. Sekira itulah ajaran selalu disampaikan. Dan ia tak sudi andai
ajaran disampaikan terabai. Sebab itu saya taqlid, “sami’na wa atho’na”.
Hanya sebait kalimat itu. Tersuratnya mudah
dimengerti, tersiratnya bagi saya tak sesederhana bait kalimatnya. Kata dia, hidup
itu harus prihatin, tapi bukan memperihatinkan, tapi seadanya. Berkehidupan tak boleh melebihi kapasitas sebenarnya.
“Hidup ini, bukanlah untuk memenuhi keinginan, tapi untuk memenuhi kebutuhan.
Jangan ikuti keinginanmu, karena keinginan itu tak ada batas ujungnya. Semuanya
semu. Sebab itu, cukup penuhi hidupmu sesuai kebutuhanmu”.
Hidup bukan apa maunya. “Siapa tak mau punya
rumah mewah, semua pasti mau. Uang cukup, tetapi apa itu sesuai kebutuhan?”,
ujarnya. Makanya, saat saya bertekad membeli rumah, saya tak berani mengambil
putusan tanpa seizinnya. Saya selalu terikat pesannya soal urusan rumah. “Orang
macam kita, tidur di bawah kolong jembatan, pun bisa. Tapi rumah, adalah berkah
bagi anak-anak kita kelak. Setidaknya, anak kita tak risih membawa temannya
datang ke rumah”.
Cukup kental saya menyimpan banyak ajaran
disampaikan. Mungkin sebab itu, saat mendengar putri saya tertawa cekikikan bersama
teman-temannya di kamar, wajah mentor saya itu sontak membayang. Bahkan wajahnya
kembali melintas, saat lamat-lamat mengamati puluhan pasang sepatu milik teman-teman
putri saya tertebar depan pintu. Nampak jelas terlihat rata bermerek brandid,
diantaranya Adidas, Reebok, New Balance, Fila, DC, serta lainnya yang saya tak
paham.
Bisa ditebak jika sepatu bermerek brandid semisal
itu, pastilah berharga mahal. Tentu bukanlah katagori sepatu “hidup prihatin”
kata rumus dilafalkan mentor saya. Apalagi penggunanya anak perempuan seusia
sekolah menengah pertama. Saya membayangkan, andai mentor saya masih hidup, lalu melihatnya, pastilah ia keras
menegur. Akibat takut kualat, sebaliknya beberapa kali menegur saya, saat tahu saya
memakai “sepatu memprihatinkan” dari - “cakar” - impor bekas.
Soal urusan sepatu, pun sontak saya teringat cerita
seorang kolega. Unik, ia memiliki 12 pasang sepatu “Nike”, semua ukurannya
sama. Konon, masa SMP, sepanjang hari ia menangis, lantaran juga ingin memakai
sepatu “Nike” seperti temannya, tetapi orangtuanya tak cukup uang. Giliran saat
berada di Italy, ke-12 pasang sepatu itu diborongnya. Menebus dendam terpendam sekian
puluh tahun. “Sepatu ini pemantik spirit saya menapaki hidup”, jelas Dirut salah
satu BUMN itu.
Makassar, 21 Oktober 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar