Dua Pertanyaan untuk Sophie


TIBA di rumah – sepekan lalu ketika warga di kompleks perumahan saya belum memberlakukan “lockdown” -- sepulang membeli obat di apotek, saya langsung tancap gas, melanjutkan bacaan novel “Dunia Sophie”. Sebuah novel filsafat ditulis oleh Jostein Gaarder asal Oslo, Norwegia. Dia mengusung kisah Sophie Amundsend, kerapkali menerima surat dari seorang tak dikenali. Surat seorang misterius itu, berisi dua pertanyaan. Siapakah kamu? Dan dari mana datangnya dunia?

Sambil terus mendaras lembar demi lembar, novel setebal 561 halaman yang diterbitkan Mizan untuk cetakan ke-15 di tahun 2004 itu, di benak saya, bukannya menemukan jawaban terhadap kedua pertanyaan diajukan pengirim surat misterius itu. Di benak saya, malah dibayang-bayangi sisa tontonan video yang sekian jam berlalu, saya tonton di halaman WhatsApp. Rekaman video soal keluh kesah, juga keresahan, bahkan kepanikan dihadapi seorang ibu ketua RT di Makassar.

Warganya meninggal dunia. Sekian hari lalu telah dikebumikan. Belakangan ditahu jika sepulang umrah, dia sakit, lalu meninggal dunia. Musababnya, terpapar virus Corona. Membuat ibu ketua RT itu, kepanikan. Soal, bagaimana nasib keluarga dekat yang telah merawat almarhumah? Juga tetangga yang membesuk? Petugas pemandi jenazah? “Bapak-bapak, para atasan saya, petugas  kesehatan, tolong warga saya!”, keluhnya. “Kami butuh kepastian, terpapar Corona atau tidak”.

BACA JUGA:
https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/social-distancing-please.html 

Siapakah kamu? Dari mana datangnya dunia? Dua pertanyaan, pada bagian awal novel yang kini telah diterjemah ke dalam 60 bahasa, serta terjual lebih 40 juta eksemplar itu, saling berkejaran dalam benak saya, andai keluh pertanyaan si ibu Ketua RT itu, mesti dijawab secara bersamaan. Mata batin saya, serasa tak kuasa memahami, bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Ketika kita sakit, meninggal dunia, dikebumikan, lalu tak ada kerabat, tetangga, boleh, mau mendekat?

Aaakh, dada saya serasa makin sesak. Segera saya hempaskan novel itu ke lantai. Pun membuat saya tersadar, jika sejak balik dari apotek membeli obat, saya belum sempat membasuh tangan. Saya pergi membersih tangan, sebersih diajarkan Bapak Presiden dalam sebuah video. Tak jauh beda diajarkan oleh guru saya semasa duduk di bangku TK dulu. “Tangan kita harus selalu dicuci bersih”, jelas guru TK saya dulu. “Sebab tangan adalah bagian tubuh paling aktif kita fungsikan”.

BACA JUGA:
https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/sesama-kita-adalah-virus.html 

Pesan kebaikan disampaikan guru TK saya, sekira 40-an tahun lalu itu, sekejap membayang, kala saya tengah membasuh tangan. Kini, setelah 40-an tahun berlalu, malah orang sekaliber Kepala Negara yang kembali mengingatkan. “Akibat saking aktifnya tangan itu, sehingga harus selalu di basuh, curiga akan ada virus melekat di sana”. Jika semasa TK selalu dibasuh, siapa tau ada virus melekat, setelah bermain. Lalu semasa dewasa juga harus selalu dibasuh. Sekira setelah apa ya?

Covid-19, si virus Corona yang tak terlihat itu, salah satu musababnya. Sejak itu, kita mulai tidak mempercayai, bahkan mencurigai tangan kita sendiri, sehingga selalu dicuci. Sama saja, kian tak percaya, serta curiganya kita, pada hidung juga mulut kita sendiri -- juga aktif difungsikan – lalu, kita mentupi masker. Bahkan Covid-19, si virus Corona itu, bahkan menyuruh kita balik “stay at home”. Bersama Sophie, menjawab pertanyaan. Siapakah kamu? Dari mana datangnya dunia?

Makassar, 25 Maret 2020

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...