LYODRA Ginting, juga Tiara Anugrah, dua remaja belia
yang melaju di grand final “Indonesian Idol X-2020”. Lagu “I’d Do Anything
for Love”, dipopuler Meat Loaf, dilantun ulang Lyodra. Juga “The
Greatest Love of All”, dulu dinyanyi Whitney Houston, didendang ulang Tiara
Anugrah. Dua lagu di antara banyak lagu dinyanyikan keduanya -- sekian bulan
lalu di ajang pemanduan bakat itu –tersimpan rapi di kanal Youtube. Menemani
saya menunai karantina di rumah semasa Covid-19.
Sekian bulan sebelumnya, datang dari Karo dan Jember,
kampung nun jauh dari ibukota negara, mengikuti “audisi” -- khususnya Tiara –
modal bernyanyi sangat minim. Kini telah siap beradu di ajang industri musik
Indonesia. Kata Tiara, bagaikan mimpi. “Seolah tak percaya, namun nyata”. Bagaimana
cara menyulap mereka? Secepat itu terlahir jadi bintang? “Rahasianya, ketika sekian
bulan mereka ada dalam ruang karantina”, beber Fabian Dharmawan, Head of Production RCTI.
Alih-alih, di benak saya
mengigau. Gegara Covid-19, juga sekian bulan kita mengkarantina diri di rumah,
apa hasilnya kelak, kita bisa terlahir seperti mereka? Di benak saya, malah melintas satu legenda ditulis MB Rahimsyah di
buku, “Abu Nawas Sang Penggeli Hati” (2000). Akibat diserang wabah,
seorang peternak mengkarantina diri di rumah. Didera rasa jenuh ia mengadu pada
Abu Nawas, sekian bulan mengkarantina diri, dirinya merasakan jika rumahnya
sudah sangat sempit.
Saran Abu Nawas, “jika punya ayam, masukkan ke
rumahmu”. Peternak heran, rumahnya tentu saja makin sempit. “Cobalah, hasilnya kelak
kita lihat”, kata Abu Nawas. Saran seaneh itu, benar dijelmakan. Sepekan
berikut, ia mengadu lagi. Tapi, pinta Abu Nawas, “jika kamu punya keledai,
masukkan juga ke rumahmu”. Meringis, tapi saran itu, juga dijelmakan. Pekan
lain, ia mengadu, rumahnya sangat sesak. Ia tak bisa bernafas. “Keluarkan semua
binatang itu”, pinta Abu Nawas.
Abu Nawas -- selengkapnya Abu-Ali al-Hasan bin Hani
al-Hakami -- pujangga Arab-Persia. Ia lahir 756 Masehi di Ahvaz Iran, dikala
raja Harun ar-Rasyid berkuasa. Besoknya, giliran dirinya datang ke rumah
peternak itu. Bagaimana keadaanmu? “Alhamdulillah”, jawabnya. “Rumah saya,
telah melebar kembali dan nyaman”. Abu Nawas tersenyum geli. Rumah itu tetap
seperti adanya, tak sedikitpun yang berubah. Serasa melebar kembali, hanya
karena binatang itu telah dikeluarkan.
Abu Nawas, rupanya memberi kita pembelajaran nilai.
Bahwa kepuasan – sempit serta lebarnya rumah dihuni misalnya – semata ditentukan
faktor psikologis. Peternak itu tiada henti berkeluh, berbeda Lyodra dan Tiara,
terlahir jadi bintang akibat cara psikologis menikmati proses di ruang
karantina. Goenawan Mohamad pada Catatan Pinggir “Isolasi”, membuka hikayat sekian orang yang sengaja, memilih bersunyi –
mengkarantina diri – demi meraih, sesuatu yang bernilai itu.
Kesunyian ada di ruang karantina. Di kesunyian, sesuatu
yang bernilai dapat diraih. Meski sesak kata peternak, tapi serasa mimpi, kata
Tiara. Banyak literatur menulis sesuatu itu dinamai “Law of Attraction”.
Di buku “The Secret” (2006), Rhonda
Byrne membuka rahasia, soal “Hukum Tarik Menarik” itu. Bersunyi, bersyukur,
berfikir positif, lalu melepasnya ke alam semesta. Kelak, kita akan terkejut melihat hasilnya. Inilah peristiwa, di mana keajaiban
yang mustahil menjadi nyata.
Makassar, 03 Juni 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar