Covid-19, Arah Menuju New Habit

Illustrasi by Arcadio


SEPEKAN bahkan telah sebulan -- terlihat kurva menanjak -- pertanda masih berlanjut. Rutinitas hidup dijalani, berantakan. Subuh dinihari tadi, sejak Anda bangun hingga detik ini, rutinitas apa apa saja, yang Anda telah kerja? Turun dari tempat tidur, ke kamar kecil. Wudhu. Shalat subuh? Mengintip layar hape? Berolahraga ringan? Membaca koran? Menyeruput kopi? Lalu, ke kamar kecil lagi. Menyikat gigi? Memabasuh badan?. Berpakaian, mengikat tali sepatu? Entah apa lagi.

Rutinitas demikian, kita jalani sejak usia balita. Kini, semua jadi berantakan. Gegara Covid-19, si Coronavirus tidak mewujud itu, kita #dirumahaja. “Stay at Home”. Tak berlanjut ke sekolah. Tak berlanjut ke tempat kerja. Adakah yang ganjil? Adakah sesuatu yang membuat resah? Anda tak usah gegabah menjawab. Takut keliru. Musabab, sejak 1892 -- ratusan tahun lampau -- William James di buku tuanya, “Texbook of Psychology”, sebelumnya, juga telah menanyakan. Hal sama.

Bangun subuh. Turun dari tempat tidur. Langsung ke kamar kecil. Berwudhu, sholat subuh. Lalu, mengira itu bukti jika Anda orang yang taat menunai ajaran agama? Lalu sesaat mengintip layar hape, mengira itu karena Anda ingin tahu informasi terbaru? Olahraga ringan karena Anda ingin sehat? Baca koran, dalih Anda ingin tahu berita pagi? Menyeruput kopi hangat, sebab Anda tak suka teh? Menyikat gigi, juga mencuci badan, maksud Anda agar badan bersih? Dan seterusnya.

BACA JUGA : https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/04/jalan-menuju-pembebasan-covid-19.html 

Demikian dalih Anda, tak terkecuali saya. Dan andai saja, William James masih hidup, filsuf yang merintis hadirnya mazhab pragmatisme, di Harvard University itu, menyimaknya. Pasti, tertawa lebar. Menuduh kita narsis. Baginya, rutinitas kita jalani setiap hari, dominan bukanlah tindakan sadar. Tak ada beda dilakukan seekor ayam. Subuh seusai berkokok, berkeliling mencari makan. Lalu sore, tak ada akal, tanpa dituntun, balik ke kandangnya sendiri. Bukan di kandang berbeda.

Rangkai rutinitas, berulang kita kerjakan, kata Charles Duhigg, di bukunya; “The Power of Habit” (2019), sesungguhnya itulah hanya “Habit”. Kebiasaan yang dikerja cara berulang. Terbiasa, lalu kelak mewujud kebiasaan. Dikerja, tanpa difikir lagi. Bangun langsung wudhu, lalu shalat subuh, itu “habit”. Membuka hape, “habit”. Baca koran, “habit”. Sikat gigi, lalu mandi, dalih Anda ingin bersih diri, benar. Asal tahu, itu “habit”. Anda bersih, konsokuensi karena telah membasuh diri.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/04/virus-hanyalah-penumpang-gelap.html 

Jangan dibolak balik. Anda mesti tahu kenapa “Starbucks Coffee”, misalnya. Dirintis 1971 di tepi jalan di Seattle, Washington, kini menjadi usaha kedai kopi global mendunia. Kini, punya 20.336 kedai, tertebar di 61 negara. Di Indonesia, 326 kedai. Rahasianya? Joseph A. Michelli, menulis di bukunya, “The Starbucks Experience” (2007). Hadirkan, “habit” baru. LATTE. Listen (dengarkan), Acknowledge (akui), Take action (tindaki), Thank (terimakasih), Explain (jelaskan). Sebegitu saja!

Dan gegara Covid-19, si Coronavirus penganggu yang tak mewujud itu, apakah sebenarnya yang dibuat berantakan? “Habit”!  Hanya Kebiasaan rutin. “Stay at Home”, #dirumahaja. Tapi Charles Duhigg meraba, itulah “New Habit”. William James meraba, itulah “New Reality”. Pun Joseph A. Michelli meraba, bakal lahir resep “New Starbucks Coffee”. Sebab hasil, bukanlah tujuan. Hanya konsokuensi. Buah dari “habit”. Kebiasaan yang terbarukan. Dan Covid-19 datang, “New Habit”!

Makassar, 12 April 2020

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...