Virus Hanyalah Penumpang Gelap



MALAM itu, saya ada di Paris. Butuh uang. Tapi, semua bank, telah tutup. Beruntung, di luar ada ATM. Saya memasukkan kartu bank asal kota saya Washington DC. Komputer bank Prancis tahu bukan kartu mereka. ATM – system Cirrus – melapor ke pusat antarbank negara Eropa di Belgia. Lalu ke penghubung global di Detroit. Kartu saya terverifikasi. Saldo rekening saya cukup. Pesan lalu memutar balik lewat Cirrus ke bank Paris, lalu ke ATM. Lembaran uang Franc, segera keluar.

John Naisbitt, melukiskan peristiwa – kala tahun 1994 dinilainya dramatis – di bagian pengantar bukunya, “Global Paradox”. Proses pencairan uang antardua negara -- bermata uang berbeda – Dolar USA serta Franc Prancis, di dua daratan benua saling berjauhan. Pencairan uang dikala itu, prosesnya menelan waktu, tak kurang dari hanya 16 detik saja. Ulang membacanya, benak saya sekelebat mengalih ke Wuhan. Di pasar rakyat “seafood” Huanan. Si tertuduh, muasal Covid-19.

Ada, 27 “pasien nol”. Salah satunya, Wei Guixian (57 tahun), ibu penjual di pasar itu. Benak saya berkelindang. Ibu itu bersentuhan tangan banyak pembeli. Di antaranya terbang menuju Inggris memantau Aston Villa milik bos Recon Group, Tony Jiantong Xia. Satunya terbang ke Italia guna memantau Inter Milan, buah akusisi Suning Holdings Group (China), dari Erick Thohir. Juga, satu yang lain terbang ke Iran. Mitra dagang utama China. Rudal balistik Iran, murni sokongan China.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/peradaban-manusia-di-balik-covid-19.html 

Terbang, asal Beijing. Satunya, landing di London. Satunya lagi di Roma. Keduanya, bersentuhan tangan, cipika cipiki, banyak orang di dua negara berbeda di Eropa itu. Di antara disalami, besok terbang dari London, meneruskan kuliah di New York University. Lalu di Italia, di antara disalami berlibur ke Spanyol, melihat Royal Palace di Madrid. Lalu yang di Iran, dari Teheran menunaikan umrah ke Saudi Arabia. Di Makkah dan Madinah bersalaman jamaah Turki, India juga Indonesia.

Liburan akhir tahun 2019, juga imlek awal tahun 2020. Mobilitas manusia lebih cepat. Meloncat dari kota satu, ke kota lain. Dari negara satu, ke negara lain. Tak sadar, dirinya usai bersentuhan tangan, Si Coronavirus “jahat” itu, ikut serta membayangi. Prosesnya berlangsung sangat cepat. Menyamai, cepatnya proses penarikan uang di ATM. Selang waktu hanya dua bulan, kelak WHO menamai virus itu, “Corona Virus Disiase 2019”. Juga, mengalih status, epidemic lalu pandemic.

BACA JUGA:  https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/lockdown-lalu-kita-dirumahaja.html 

Kisah dramatis cepatnya pergerakan Covid-19, si Coronavirus itu berkeliling dunia, jauh berbeda “Spanish Flu”. Pandemic oleh virologis Amerika Serikat, Jeffery Taubenberger menamainya “The Mother of All Pandemics”. Maret 1918 hingga Juni 1920. Peristiwa seusai Perang Dunia satu itu, tulis John M Barry dalam buku, “The Great Influenza” (2005), menelan 50-100 juta jiwa. Beredar lambat akibat mobilitas manusia, juga bergerak sangat lambat. Kala itu pesawat sipil belum ada.

Virus hanyalah “penumpang gelap” pada diri manusia. Beredar ditentukan pergerakan manusia. Manusia bergerak, itu kemutlakan. “Zoon Politicon”, jelas filsuf Aristoteles. Kodratiah, pembeda antara manusia dan virus yang tak berinteraksi sesamanya. Tapi paradoksnya kata Naisbitt, kian dunia mengglobal, kian manusia mencari bagian terkecil untuk kekuatan diri. “Bukan sembunyi, menanti peluang, kelak balik lagi menerkam”. Tulis Maxim Gorky, dalam novelnya “Pecundang”.

Makassar, 03 April 2020

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...