Melawan Covid-19 Tanpa Tanding

ilustrasi: mildle east moitor


“CARI. Bawa dia ke sini. Biar dia tahu, saya atau dirinya yang jago”. Perintah itu, saya terima dari seorang bekas serdadu disegani, sekira sepuluhan tahun lalu. Berdiri, bertolak pinggang dengan nada geram. “Saya ini, sepuluhan tahun lebih memimpin pasukan. Bergerilya di belantara hutan menghadapi pemberontak. Tak ada seorang pun, membuat bulu kuduk saya berdiri”. Siap, kata saya. “Hanya karena berselisih putra saya. Beraninya mengancam saya lewat telpon”, lanjutnya.

Gerangan siapakah orang itu? Seberaninya dia menelepon, lalu mengancam tokoh disegani itu? Disitulah duduk peliknya, sehingga saya diperintah. Ingat, sepuluhan tahun lalu itu, hape seluler belum ada. Pelakunya? Mana bisa ditahu! Musabab itu, telah beberapa malam tidurnya tak bisa nyenyak. Dia tak henti memikir, siapa gerangan berani mengancam dirinya. Masalahnya, semua orang tahu, di masa awal kemerdekaan, dirinya bekas serdadu pemberani. Disegani, musuhnya.

Kisah itu, alih-alih mengiang di benak saya, kala menyaksikan Donald Trump, menggaruk kepala. Presiden Amerika Serikat itu, mula tiada henti sesumbar jika angkatan perang dimiliki negerinya paling siap perang. Kombatan, nonkombatan. Konvensional, atau modern. Tapi kala Covid-19, si Coronavirus itu, menyerbu negerinya, sikapnya tak beda, bekas serdadu itu. Sehebat apa, bekas serdadu itu menerjang pemberontak. Sehebat apa senjata pemusnah dipunyai negeri itu. Keok!


Ini bukan urusan siapa jagoan, siapa tak jagoan. Sekuat apa balatentara milik Britania Raya yang dulu, mengabrakabrik negeri jajahan. Tapi mengawal dinding tebal “Buckingham Palace”, bobol juga. Si Coronavirus lolos, menyelinap masuk “The Queen’s House” itu. Memapar calon tunggal, penerima mahkota Inggris. Lebih lagi menyaksikan anak-anak muda, hanya bermodal pelindung masker, riang gembira – tanpa peduli -- menikmati sajian, di kedai kopi itu. Sejago apa, mereka?

Sehebat itukah, si Coronavirus itu? Tidak! Usahlah, Vildamir Putin, menerjunkan S-400 yang bisa menerjang musuh dari jarak 400 km. Usahlah, Donald Trump, memerintah Pentagon memuntah lagi peluru dari Drone MQ-9 Reaper. Usahlah, Xi Jinping, melontar projektil “Rilgun” yang punya kecepatan 7,5 kali kecepatan suara. Memusnah musuh satu ini, cukup sirami air sabun deterjen, sudah keok. Lalu, apa kelebihan dia? Mesti ditakuti? Apa hebatnya Covid-19, si Coronavirus itu?


Juga, ini bukan mana yang penakut, mana hebat. Duduk peliknya, sama dihadapi bekas serdadu pemberani itu, membuat tidurnya tak nyenyak. Sama, dihadapi Donald Trump, membuat kepala negara adidaya itu, menggaruk kepala. Musabab -- ijinkan saya meminjam kalimat Danarto – di dalam novelnya, “Asmaraloka” (2016). Dia terbang, dengan kecepatan fikiran. Berjalan, dengan kecepatan kedipan mata. Di mana pun tempat hendak dia tuju, bahkan di ujung-ujung semesta.

Di situ masalahnya. Hanya satu, karena Covid-19, si Coronavirus itu, tak mewujud. Melawannya, kata Sun Tzu. “The Art of War”, mesti cara berperang tanpa tanding. “Stay at home”. Selebihnya tulis Danarto, ini “Perang fatamorgana”, kelihatan pecah perang, padahal sesungguhnya tak ada perang. Jangan gagal paham. Ini, bukan urusan takut mati. Melindungi hidup, wajib. Juga, bukan jago tak terpapar, “takabur” itu. Ini, urusan “zuhud”. Melindungi sesama. Memutus matarantai.

Makassar, 15 April 2020

Covid-19, Arah Menuju New Habit

Illustrasi by Arcadio


SEPEKAN bahkan telah sebulan -- terlihat kurva menanjak -- pertanda masih berlanjut. Rutinitas hidup dijalani, berantakan. Subuh dinihari tadi, sejak Anda bangun hingga detik ini, rutinitas apa apa saja, yang Anda telah kerja? Turun dari tempat tidur, ke kamar kecil. Wudhu. Shalat subuh? Mengintip layar hape? Berolahraga ringan? Membaca koran? Menyeruput kopi? Lalu, ke kamar kecil lagi. Menyikat gigi? Memabasuh badan?. Berpakaian, mengikat tali sepatu? Entah apa lagi.

Rutinitas demikian, kita jalani sejak usia balita. Kini, semua jadi berantakan. Gegara Covid-19, si Coronavirus tidak mewujud itu, kita #dirumahaja. “Stay at Home”. Tak berlanjut ke sekolah. Tak berlanjut ke tempat kerja. Adakah yang ganjil? Adakah sesuatu yang membuat resah? Anda tak usah gegabah menjawab. Takut keliru. Musabab, sejak 1892 -- ratusan tahun lampau -- William James di buku tuanya, “Texbook of Psychology”, sebelumnya, juga telah menanyakan. Hal sama.

Bangun subuh. Turun dari tempat tidur. Langsung ke kamar kecil. Berwudhu, sholat subuh. Lalu, mengira itu bukti jika Anda orang yang taat menunai ajaran agama? Lalu sesaat mengintip layar hape, mengira itu karena Anda ingin tahu informasi terbaru? Olahraga ringan karena Anda ingin sehat? Baca koran, dalih Anda ingin tahu berita pagi? Menyeruput kopi hangat, sebab Anda tak suka teh? Menyikat gigi, juga mencuci badan, maksud Anda agar badan bersih? Dan seterusnya.

BACA JUGA : https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/04/jalan-menuju-pembebasan-covid-19.html 

Demikian dalih Anda, tak terkecuali saya. Dan andai saja, William James masih hidup, filsuf yang merintis hadirnya mazhab pragmatisme, di Harvard University itu, menyimaknya. Pasti, tertawa lebar. Menuduh kita narsis. Baginya, rutinitas kita jalani setiap hari, dominan bukanlah tindakan sadar. Tak ada beda dilakukan seekor ayam. Subuh seusai berkokok, berkeliling mencari makan. Lalu sore, tak ada akal, tanpa dituntun, balik ke kandangnya sendiri. Bukan di kandang berbeda.

Rangkai rutinitas, berulang kita kerjakan, kata Charles Duhigg, di bukunya; “The Power of Habit” (2019), sesungguhnya itulah hanya “Habit”. Kebiasaan yang dikerja cara berulang. Terbiasa, lalu kelak mewujud kebiasaan. Dikerja, tanpa difikir lagi. Bangun langsung wudhu, lalu shalat subuh, itu “habit”. Membuka hape, “habit”. Baca koran, “habit”. Sikat gigi, lalu mandi, dalih Anda ingin bersih diri, benar. Asal tahu, itu “habit”. Anda bersih, konsokuensi karena telah membasuh diri.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/04/virus-hanyalah-penumpang-gelap.html 

Jangan dibolak balik. Anda mesti tahu kenapa “Starbucks Coffee”, misalnya. Dirintis 1971 di tepi jalan di Seattle, Washington, kini menjadi usaha kedai kopi global mendunia. Kini, punya 20.336 kedai, tertebar di 61 negara. Di Indonesia, 326 kedai. Rahasianya? Joseph A. Michelli, menulis di bukunya, “The Starbucks Experience” (2007). Hadirkan, “habit” baru. LATTE. Listen (dengarkan), Acknowledge (akui), Take action (tindaki), Thank (terimakasih), Explain (jelaskan). Sebegitu saja!

Dan gegara Covid-19, si Coronavirus penganggu yang tak mewujud itu, apakah sebenarnya yang dibuat berantakan? “Habit”!  Hanya Kebiasaan rutin. “Stay at Home”, #dirumahaja. Tapi Charles Duhigg meraba, itulah “New Habit”. William James meraba, itulah “New Reality”. Pun Joseph A. Michelli meraba, bakal lahir resep “New Starbucks Coffee”. Sebab hasil, bukanlah tujuan. Hanya konsokuensi. Buah dari “habit”. Kebiasaan yang terbarukan. Dan Covid-19 datang, “New Habit”!

Makassar, 12 April 2020

Jalan Menuju Pembebasan Covid-19

by Dave Simonds


“KAU lihat sungai, danau, rumah-rumah dan gereja di sana itu? Tempat itu tak pernah berubah, sejak lima abad yang lampau, kecuali bahwa pada masa itu, di tempat itu sangat sunyi. Pernah ada wabah penyakit aneh yang menjalar ke seluruh penjuru Eropa, tetapi tak ada seorang yang bisa mengerti, mengapa begitu banyak orang yang menemui ajalnya. Mereka menyebut wabah itu, “Balck Death” – azab yang dikirimkan Tuhan -- karena dosa-dosa umat manusia”. 

Rangkai kalimat itu – utuh saya mengutip satu paragraf – saya temukan kala menelusuri lembar demi lembar novel “Sebelas Menit”. Diterjemah dari bahasa aslinya “Onze Minutos”. Salah satu dari 30-an karya novelis Brasil, Paulo Coelho. Novel lainnya, lebih termasyhur, “The Alchemist”. Diterjemah dalam 67 bahasa dunia. Terjual 150 juta copy. Edisi Indonesia, diberikan judul “Sang Alkemis”. Kisah anak gembala mencari harta karun. Tetapi harta itu justru ditemui pada dirinya.

Laiknya karya Coelho, inspiratif. Bertabur kalimat metafora. Liar menyisip majas pesan spiritual. Menghantar kita merenung, memahami haqikat hidup. Memaknai arti kehidupan, menuju cinta sejati. Tak lebih kurang simaklah novel “Sebelas Menit”. Kisah tentang Maria, gadis desa seperti banyak lainnya. Berharap menjalani hidup di kota. Bermimpi, kelak disunting seorang pangeran. Bermukim di bawah genteng sebuah rumah mewah. Nasib berkata lain. Maria, menjadi pelacur.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/04/virus-hanyalah-penumpang-gelap.html 

Kisahnya, klasik. Sejak mula banyak buku, juga film, berkisah sama. Tetapi selain karena Coelho, memiliki ke-beda-an perspektif mengurai kisah, juga karena pada bagian tengah, menulis amsal pandemic “Black Death”, firasat saya curiga. Coelho, sesungguhnya, tak berkisah tentang Maria, berhasrat hidup mewah, berujung terlibat dunia pelacuran. Coelho – kata saya – menghadirkan protagonis Maria hanyalah majas. Coelho berkisah tentang siapa kita. Berhasrat hidup berlebih.

Pandemic “Black Death”, disebut di paragraf itu. Wabah penyakit pes -- novel “La Peste”, Albert Camus -- pertengahan abad ke-14 (1347-1351). Great Mortality, kematian akbar. Mematikan 50 juta orang. Melenyapkan sepertiga, malah duapertiga, populasi masyarakat Eropa. Masyarakat, tak tau. Hendak berbuat apa. Saat itulah, tulis Coelho, muncul sekelompok orang, yang sukarela mengorbankan diri. Berhari-hari, menyiksa diri. Merajam diri dengan cemeti besi. Lalu, pingsan.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/04/huwal-awwalu-wal-akhiru-covid-19.html 

Coelho, penganut Nasrani itu, alih-alih menghentak nalar saya. Pandemic Covid-19, Coronavirus yang mengglobal saat ini, mestikah juga dilawan dengan cara sama? Akal tolol saya mengingau; kenapa tidak! “Liberation Theology”. Teologi pembebasan, dulu diajarkan guru saya, secuil saya paham. Bahwa, permasalahan sosial -- lebih lagi di era globalisasi – terjadi, bukan semata akibat struktural. Kebebasan kita miliki, atas kodrat kemanusiaan, seringkali berlebih. Itu musababnya.

Tak ada cara lain membebaskannya, selain diri kita sendiri mesti membebaskannya. Dan orang-orang yang merajam diri sendiri itu, tiada henti menyerukan nama Tuhan. “Akhirnya mereka lebih menikmati siksaan badaniah itu, ketimbang bekerja memanggang roti”. Sebab, rasa sakit, lanjut Coelho, tak lagi dinilai penderitaan. Tapi, biang pembebasan. Rasa sakit, telah menjelma nikmat tak terperi. Dan Covid-19, si Coronavirus itu hadir, akankah itu juga jalan menuju pembebasan?

Makassar, 09 April 2020

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...