Siang hari ini, rasa bahagia datang, menghampiri perasaan saya. Sebuah kegembiraan lain yang
wujudnya sekian lama menghilang. Tapi entah, secara tak terduga, tiba-tiba saja
pada siang hari ini, saya menerima kiriman sekardus buah-buahan segar dari kampung. Pengirimnya, seseorang yang - sekian lama - saya beri kepercayaan agar menggarap
sepetak kebun
di kampung. Sepetak kebun yang dengan segala daya saya lakukan untuk memilikinya, sekaligus mampu berproduksi.
Sebenarnya, sepetak kebun itu - di masa duapuluhan tahun lalu - adalah milik ayah saya. Tetapi, sejak duapuluhan tahun lalu itu, juga telah beralih hak kepemilikan kepada seorang pemodal di
kampung. Meski sebelumnya, ayah saya gigih mempertahankan kepemilikan sepetak kebun
itu. Dalihnya, hanya melalui sepetak kebun itulah, diharapkan dapat membuahkan hasil, lalu kelak menjadi sumber pertaruhannya atas tangung jawab yang ia
emban, sebagai kepala keluarga.
Namun, karena faktor keadaan yang mendesak,
ayah saya tidak kuasa menolak
rongrongan ibu saya, meminta agar kebun itu segera dijual saja. Alasan ibu saya, itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Tak ada lagi cara lain. Terngiang pinta ibu kepada ayah saya. “Apakah kita mau anak-anak berhenti bersekolah di Makassar, akibat tidak memiliki uang pembayaran sekolah?”, dalih ibu
saya. Mengugah ayah saya, berpasrah diri melepas kepemilikan lahan kebun itu.
Sejak itu, hak kepemilikan sepetak
lahan berpindah. Lalu hasil jualannya, kelak mewujud modal bagi saya, beserta sekian saudara, untuk menyelesaikan kuliah di Makassar. Terngiang isi pesan ayah saya di kala menyerahkan hasil penjualan sepetak kebun itu pada saya. “Atas saran ibumu, saya ikhlas melepas sepetak kebun
itu. Hasilnya, saya serahkan secara tulus kepadamu, sebagai mahar menyelesaikan
sekolahmu nak”, ujar ayah saya. Saya, pun menerimanya penuh haru.
Bermodal
kegigihan, bersama sekian saudara, saya berhasil menyelesaikan perkuliahan. Ya,
itu tadi, bermodalkan uang penjualan sepetak lahan kebun. Dan
waktu terus bergulir, tetapi pinta ibu saya pada ayah, juga pesan ayah saya
pada saya, serta sekian saudara saya, selalu mengiang membayangi perjalanan hidup yang saya tapaki. Apakah memang lebih bernilai arti bersekolah bila dibanding mempertahankan sepetak
kebun yang menjadi taruhan hidup keluarga?
Kelak
kemudian hari, setelah lebih dari
duapuluh tahun itu, saat saya pun mulai menapaki hidup
bersama keluarga baru, meski dengan segala rona kehidupan dilalui, apa pun jua
kadarnya, tapi sepetak lahan itu terus membayangi. Bahwa hasil penjualan lahan
itu, telah membuahkan hasil. Sekian dari kami bersaudara, pun telah membuahkan
hasil untuk menghidupi keluarga masing-masing pihak. Dan sepetak lahan itu,
tetap di tempat itu. Monumen persaksian atas seluruhnya.
Sesuai tekad saya sebelumnya, bermodal segala daya-upaya, pada waktunya, sepetak lahan itu akhirnya beralih kembali dalam
genggaman kepemilikan saya, meski nilai belinya, berlipat-lipat dibanding duapuluhan
tahun lalu. Tak soal, bagi saya, kepasrahan ayah saya dulu saat melepas lahan itu, telah tertebus. Kebun itu, kini menghasilkan buah. Saya mengajak istri dan putri saya, menikmati buah hasil
kebun itu. Biar tahu rasanya buah yang diraih dari jeri lelah yang panjang.
Makassar,
20 Maret 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar