Anak Kampung Berorganisasi



Kala usia masih katagori pemuda, saya melibatkan diri di sekian organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Semasa duduk di bangku kuliah, dipercayakan menjadi Ketua Senat Mahasiswa di tingkat fakultas. Mendirikan kelompok studi, hingga organisasi ekstra kampus seperti HMI. Lalu selepas dari kampus, malah lebih gencar lagi. Diantaranya ikut terlibat menjadi pengurus harian di PPM, KNPI, AMPI, AMPG Pemuda Pancasila, dan lainnya. Baik tingkat daerah maupun pusat.

Lantaran sesibuknya, sehingga perkuliahan saya terbengkalai, nyaris tanpa meraih gelar sarjana. Berorganisasi sudah seolah lebih penting dari berkuliah. Bahkan terbengkalai, tak hanya urusan perkuliahan, tapi ikut terbawa pada usia pernikahan saya yang melampaui masa. Kedua-duanya belakangan menjadi persoalan urgen di mata orangtua saya di kampung. Tiada henti merasakan resah. Mengultimatum agar saya meninggalkan aktifitas berorganisasi yang dinilainya laknat.

Kedua orangtua saya yang tak pernah mengenyam bangku kuliah, menilai jika keaktifan saya di sejumlah organisasi, sumber malapetaka. Saking geramnya, sehingga suatu kali kedua orangtua saya tak membolehkan saya pulang ke kampung. Bahkan berjanji, jika sepanjang kedua urusan itu tak rampung, tak mau lagi memodali apapun kebutuhan saya selama di Makassar. Pokoknya, segera selesaikan perkuliahanmu!. Lalu setelahnya, segera menikahi perempuan pilihanmu!

Ultimatum orangtua yang tak main-main. Akibat takut kualat pada kedua orangtua, saya segera menuntaskan - satu-satunya tugas kuliah yang tertunda - penulisan skripsi. Dan tibalah saatnya, penuh haru dan bangga, kedua orangtua saya menyaksikan penganugerahan gelar kesarjanaan saya. Bergelar Sarjana Hukum (S.H). Berarti, tersisa satu beban ultimatum lagi, segera menikah. Beban kedua terbengkalai akibat saya kembali terjerat masuk ke rimba akifitas berorganisasi.

Namun di usia yang sudak tidak lagi muda, pada saatnya kedua orangtua mendampingi saya di atas pelaminan. Banyak deretan undangan dari kalangan pejabat dan tokoh daerah, bahkan di level nasional ikut hadir. Sebagai seorang yang hanya mantan Kepala Desa di kampung, Bapak saya tak kuasa menyembunyikan rasa risih, menyalami para tetamu dari kalangan orang-orang penting itu. Ya, kedua orangtua saya merasakan risih, tapi sisi lain memiliki perasaan bangga.

Tiada henti kedua orangtua saya berfikir, entah dari manakah latar saya, putranya ini, mengenal para tetamu dari kalangan orang-orang penting itu. Manalah mungkin putranya ini yang berasal dari kampung, pesta pernikahannya dihadiri oleh orang-orang sehebat itu. Sungguh aneh, serta ajaibnya, kata benak kedua orangtua saya. Didera rasa penasaran, di atas pelaminan, ia datang menghampiri saya “Nak, dari mana kamu mengenal orang-orang penting itu?”, bisiknya.

Pada waktunya setelah pesta usai, saya jelaskan pada kedua orangtua saya. Jika saya mengenal mereka dari sekian banyak organisasi. Keduanya terpana. Saya menangkap alur fikir berpintal di benak keduanya. Dulu, berorganisasi dikatainya laknat, sumber malapetaka, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa. Putra seorang yang hanya sebatas mantan Kepala Desa dari kampung, nyatanya bergaul dengan banyak orang penting di kota. Itulah organisasi. Meluaskan jaringan.

Makassar, 10 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...