Turunan Spesialis Tim Sukses



Mencermati gelagat putri semata wayang saya - sepekan terakhir - benar-benar membuat saya bingung. Sehari-hari, aktifitasnya tak lagi seperti biasanya. Siang, sepulang sekolah, ia biasanya mampir ke rumah kakeknya yang tak jauh dari lokasi sekolahnya. Lalu sore hari, ia meneruskan bacaan mengaji di TPA (Taman Pendidikan al-Qur’an). Jelang Magrib, ia dijemput ibunya untuk kembali pulang ke rumah. Setelahnya, ia mendekam di kamar, hingga bangun pagi esok hari.

Sepertinya, ia tengah dihadang kesibukan yang sungguh luar biasa. Seolah tak ada tersela ruang baginya, semestinya ia gunakan untuk beristirahat tetapi seluruhnya ia manfaatkan untuk suatu kesibukan. Bahkan di hari libur sekolah, Sabtu dan Minggu, semestinya ia gunakan berlibur, tapi tetap saja ia berangkat bersama temannya ke sekolah. Saking sibuknya, ia seolah tak punya cela waktu lagi untuk menikmati hidangan makan di rumah yang tersaji setiap saat di atas meja.

Sebagai orangtua dari dirinya, wajar andai punya perasaan prihatin. Selain karena anak tunggal, juga karena ia anak perempuan yang masih terbilang belia, tapi kesibukannya seolah melampui kesibukan ibunya yang Kepala Sekolah SMKN, serta ayahnya yang Wakil Rakyat. Makanya, saat malam sudah larut, ia pulang ke rumah, di dera rasa penasaran tinggi, saya menjegatnya untuk memintai penjelasan. Apa aktifitas sebenarnya dilakukan yang menyibukkannya sepekan ini.

Penjelasan disampaikan, membuat saya terperanjat, seolah tak percaya. Di dua pekan terakhir, sekolahnya menggelar pesta demokrasi, pemilihan Ketua OSIS. Teman-temannya, memberinya beban tanggung jawab - dalam takaran normal saya - jauh melampaui usia, serta kapasitasnya. Putri tunggal saya, diserahi tugas sebagai Ketua “Tim Sukses”, seorang sahabat perempuannya untuk memenangi pemilihan Ketua OSIS. Berupaya meraup dukungan terbesar di sekolahnya.

Beban tanggung jawab sebagai Ketua “Tim Sukses”, ia tunaikan secara sungguh-sungguh. Penuh rasa tanggung jawab. Ternyata, itulah musabab sehingga sepekan terakhir ini, terjebak dengan kesibukan yang sungguh luar biasa. Sebab itu saya agak risau, jika kesehatan dirinya terganggu. Saya menegurnya, agar juga membagi waktu untuk beristirahat. “Ayah, kalau nanti teman saya itu kalah, maka saya sebagai Ketua Tim Sukses, pasti yang akan disalahkan”, tepisnya.

Saya tak pernah menduga, selain karena ia anak perempuan, juga masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar, menepis pertanyaan saya dengan sejernih itu. Bahkan, membuat saya geli, begitu fasih ia menjelaskan program ditawarkan sahabat perempuannya, si kandidat Ketua OSIS itu berdasar visi-misinya. Juga menjelaskan ragam jenis alat peraga, serta metode penggalangan dilakukan agar kandidat unggulannya, mampu meraih simpati para pemilik suara di sekolahnya.

Ia masih belia tapi telah pandai memilah rangkaian kerja yang mesti dilakukan guna memenangi pemilihan terbuka. Meski cara mengurainya, belum sesistematik idialnya, tetapi yang membuat saya tersenyum geli, karena ia Ketua Tim Sukses sahabat perempuannya. Hal sama, juga pernah saya tunai sebagai Tim Sukses seorang tokoh menjadi Calon Gubernur. Tokoh itu, tak lain kakek  dari sahabat putri saya itu. Suratan takdir, turunan saya seolah terlahir spesialis tim sukses saja.

Makassar, 06 September 2015

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...