Harga Sebiji Batu Akik



Sejak meninggalkan bangku kuliah sekitar dua puluh tahun lalu, entah dimana rimba sahabat itu berada, saya tak lagi saling bersua. Tapi siang kemarin, entah mimpi apa, ujug-ujug ia menelpon saya. Ia sedang berada di Makassar, meminta agar saya untuk segera menemui. Nada suaranya, memelas. Sepertinya ia sedang membutuhkan pertolongan. Maka esok - sore hari - selepas dari tugas kantor, saya bergegas menemuinya di suatu tempat, dimana ia kini sedang berada.

Ternyata, ia sedang berada di suatu keramaian, tempat dilangsungkannya pameran batu akik di Kota Makassar. Lalu, sedang apa ia berada di tempat itu. Dijelaskannya, ia ikut serta menjajakan batu akik unggulan asal kampungnya. “Sisik naga”, salah satu jenis bebatuan akik lokal unggulan Sulsel yang lagi naik daun dan juga pamor. Memang tengah diminati dan diincar oleh banyak orang. Teman saya, tak menyewa stand, menjajakan bebatuannya, transaksi hanya hand to hand saja.

Akibat metode penjualannya konvensional, dia kalah bersaing dari penjual batu akik lain, meski bebatuan dijajakannya berjenis yang sama. Bebatuan penjual lain lebih diminati, semata karena metode penjualannya berada di stand khusus, berkemasan terkesan sedikit lebih mewah. Jauh beda metode hand to hand digunakan teman saya, akibatnya kualitas bebatuannya meragukan. Padahal andai keindahan batu akik “sisik naga” miliknya, sesungguhnya tidaklah kalah bersaing.

“Kekalahan batu akik saya, hanya pada soal kemasan”, tandasnya berkeluh. Terbawa perasaan pilu, sebab tak sebiji pun batu akiknya yang terjual. Didera rasa prihatin, saya mengajaknya agar meninggalkan area pameran batu akik itu. Saya mengajaknya bergeser ke salah satu café. Harap saya, ia bersantai dan segera melupakan batu-batu akik yang ia bawa dari kampungnya yang tak terjual. Baru saja menyandarkan pantat di kursi, sontak ditaruhnya sebiji batu akik di atas meja.

Keindahan batik akik itu, menurutnya sudah sebanding dengan harga jual ditawarkannya, tetapi banyak orang justru menawarnya dengan nilai sangat rendah. Sebab itu ia tak sudi melepasnya. Ia membandingkan harga akik jenis sama yang dijajal di lemari kaca, terjual dengan harga tinggi. Saya coba berulangkali menenangkan bahwa demikianlah teori pasar, harga seringkali berselisih semata hanya karena soal beda kemasan. Ia tetap saja mengigau, tak menerima realitas pasar.

Agar tidak dipermasalahkan lagi, saya memilih mengambil jalan pintas. Batu akik miliknya, saya tebus senilai harga yang ia tawarkan. Cincin berbatu akik itu pun beralih melingkar di jari tangan saya. Tetapi tak berselang lama, cincin berbatu akik itu, kembali berpindah tangan ke jari manis seorang pejabat daerah yang memasuki café itu. Ketika bersalaman, ia melirik cincin di jemari saya. Tertarik memilikinya, lalu dibayarnya dua kali lipati dari harga tebusan saya sebelumnya.

Menyaksikan peristiwa dramatis itu, teman saya hanya bisa melongo, kenapa bisa terjual hanya sekejap, malah terjual seharga dua kali lipat. Tapi dari selisih “keuntungan” dari dua kali lipatan itu, saya gunakan membayar pesanan kami di café. Tapi, teman saya kembali melongo menatap harga segelas kopi dinilainya mahal. Membandingkan harga segelas kopi di warkop. Teman ini, ternyata juga belum paham, bahwa harga suatu barang sangat ditentukan karena kemasannya.

Makassar, 29 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...