Dilema Lain Banyak Teman



“Kala usia masih muda, perbanyaklah waktu untuk bergaul. Yaqinlah, kelak pasti akan ketahuan nilai manfaatnya”. Seperti itu, ajaran disampaikan para orang bijak. Dan saya merasa tak sia-sia telah mengamalkan ajaran itu dikala dulu usia saya masihlah muda. Ke mana saja arah kaki saya melangkah, selalu bertemu, orang-orang yang dulu sama bergaul. Sahabat lama yang tak saling melupa. Bahkan jika diperlukan, ia hadir membantu. Jika terdesak, ia hadir untuk menolong.

Buktinya, saat mendapat penugasan organisasi selama beberapa hari di satu daerah nun jauh di ujung wilayah Sulsel, beruntunglah saya mendapat pertolongan numpang hidup makan-tidur, di rumah seorang sahabat. Dulu kami sebangku masa kuliah, kini ia memegang jabatan terhormat di daerahnya. Atas jabatan disandangnya, dirinya bersama keluarga, berhak menempati sebuah rumah dinas disediakan pemerintah daerah. Di situ pula, saya diajaknya menumpang hidup.

Berada di rumah dinas yang dilengkapi ragam fasilitas itu, saya membayangkan jika sahabat itu telah menikmati lelehan keringat, dilaluinya sebagai seorang atlit profesional. Dia telah menuai hasil sebagai seorang politisi, setelah sebelumnya, mengorbankan posisi diraihnya sebagai PNS rendahan. Menuai hasil dari kegigihan sebelumnya mengelola perusahaan dirintisnya, sekaligus menuai hasil dari buah perjuangannya yang pantang menyerah di masa sulit sewaktu berkuliah.

Tapi entah - di suatu sore - ia mengajak saya pergi menjauhi rumah dinas yang dilumuri fasilitas itu. Bersama keluarga, ajudan dan sopirnya, kami pergi menjauhi rumah yang nyaman itu. Yang tertinggal di rumah, hanya pembantu rumah, serta Satpol penjaga. Kami, memilih bermukim di rumah kerabatnya di tepi kampung. Kami, menepi sekaligus menyepikan diri. Menikmati suara burung saat memancing ikan di tepi kolam, meski ikannya bukan untuk kebutuhan konsumsi.

Saat menikmati getaran umpan digigit ikan, di benak saya berulangkali bertanya. Kenapa rumah penuh fasilitas itu dijauhi? Jika tujuannya berlibur melepas penat, menepi di sudut kampung itu, saya bisa maklum, bahkan sangat perlu. Tapi ini kali, sebagai sesama pekerja politik, insting saya berkata lain. Kami menepi, bukan untuk berlibur. Kami menepi, karena ingin menjauh. Ada soal yang perlu dijauhi. Ada hal yang tak mau diladeni. Ada urusan yang memang perlu ditinggalkan.

Semua dugaan saya dibenarkan. Ia jujur mengaku jika dirinya seolah tak kuat lagi mau meladeni puluhan orang - sepekan terakhir - mengerubungi rumah dinasnya. Saya menyaksikan, tetamu datang silih berganti itu, sejak subuh dinihari hingga malam larut. Pagi, “sebelum cuci muka”, ia meladani tetamunya. Siang, mesti bergegas membagi waktu untuk berburu jam kantor. Lalu, di malam hari, ia berulangkali menguap didera rasa kantuk, tetapi para tetamu seolah tak paham.

Tujuan mereka apa? “Mereka datang meminta projek daerah”. Lalu, kenapa memintanya pada Anda? “Disitulah anehnya, bukan kewenangan saya berbagi projek, tapi selalu diminta tolongi”. Lalu? “Kita tak tak ingin mengecewakan. Kita ini ingin memperpanjang persahabatan”, jelasnya. Sekalipun bukan kewenangan Anda? ”Itulah konsokuensi lain ajaran para orang bijak. Kita selalu ingin memperbanyak teman”. Sebab karena itukah, sehingga hari ini kita memilih menjauh?

Malili, 08 November 2015

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...