Pesta demokrasi di 10
Kabupaten dan Kota di Sulsel, baru saja usai. Tentu ada 10 pasang Kepala Daerah,
dinyatakan memenangi pertarungan. Tak mungkin lebih dari itu. Praktis, hanya
mereka kesepuluh pasangan - 20 orang (10 Bupati/Walikota bersama 10 wakilnya) -
itulah, pada hari itu yang berhak secara serentak mengucap sumpah serta janji, dilantik
sebagai pemimpin tertinggi di daerah masing-masing. Memimpin rakyat yang mayoritas
memilihnya. Entah lewat cara apa.
Dan pada hari itu, saya -
bersama sekian kolega Wakil Rakyat di tingkat provinsi - juga diberikan
kesempatan hadir di halaman Kantor Gubernur Sulsel, duduk di jejeran kursi VIP, beramai-ramai dengan ratusan undangan lain, turut serta memberikan persaksian pelantikan dan pengucapan sumpah dan janji, secara serentak, kesepuluh pasang Kepala Daerah di Sulsel, hasil Pemilukada langsung oleh
rakyatnya di daerah - Kabupaten dan
Kota - masing-masing, 9 Desember 2015.
Di saat kesepuluh pasang Kepala Daerah itu berdiri serentak mengucapkan sumpah dan janjinya lalu disemati pangkat di pundak, juga tanda
jabatan di dada, diringi koor nyanyian “syukur” atas nilai pensakralannya, meski pandangan saya terarah ke sana, tapi di benak saya, justru melintas
bayangan nun jauh di saat
pertaruhan Pemilukada berlangsung. Bagaimanakah nasib, 50 orang lainnya yang kalah, tersisih diantara 36 pasang calon
yang beradu pada Pemilukada
di saat itu.
Sebagai orang yang seringkali terlibat sebagai pencari dukungan suara
mayoritas rakyat,
kepada para pasangan Kepala
Daerah yang terpilih,
tentu saya memiliki pengalaman
yang cukup untuk tau, sekaligus memahami fenomena psikologis itu. Jika yang dilantik di hari itu diliputi perasaan bangga, bahagia, serta suka cita para kerabat dan tim suksesnya, sebaliknya
kenyataan berbalik menimpa
mereka para mantan
kandidat yang tersisihkan. Dirundung
duka cita yang mendalam.
Demikianlah konsokuensi
logis mesti terjadi. Pertarungan apapun tak kuasa menghadirkan lebih dari satu
pemenang. Pemilukada langsung, adalah pertarungan politik, tak kuasa
menghadirkan dua atau lebih pemenang. Matahari mustahil terbit kembar, Kepala Daerah di tiap daerah, juga tak dimungkinkan tampil kembar. Pemimpin puncak
di tiap daerah, cuma hanya satu, otomatis melekat wakilnya. Itu sebab, Pemilukada juga merumuskan, ada pemenang dan ada yang kalah.
Mekanisme demokrasi “form the people, by the people, to the
people”, mau tak mau, haruslah
diterima apa konsokuensi dikandungnya. Suratan takdir, bahwa rakyat - pemegang
kedaulatan – menjadi penentu.
Mengingini
atau menolak pasangan
kandidat berdasar seleranya.
Sebab itu, tak ada rumus
dan kuasa lain mampu menampiknya. Ketidakterpilihan memang “menyakitkan”. Keterpilihan memang membahagiakan. Demikian dua
wajah dipertaruhkan dalam Pemilukada.
Ketika lamunan saya, memuncak pada kenyataan seperti itu yang harus terjadi. Antara suka cita beradu duka cita, kala meraih kepemimpinan puncak, sontak
melintas di benak pertemuan saya beberapa hari lalu dengan seorang mantan
pejabat tertinggi di Sulsel. Dikala ia masih menjabat, disanjung
dan dihormati. Tapi di pesta
pernikahan di malam itu, seolah ia tak lagi dipeduli. Ironi
yang sama, saatnya bakal dihadapi
oleh mereka
yang bersuka cita diambil
sumpahnya hari ini.
Makassar, 18 Februari 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar