Kunjungan kerja - Wakil
Rakyat - ke Jakarta, ini kali
saya
mengajak salah seorang
anggota saya di
rumah untuk menemani. Baginya, tentu saja mewujud sebuah berkah. Musabab, kira masih hitungan jari ia
menginjakkan kaki di ibukota negara.
Sementara, baginya Jakarta
adalah sebuah kota dimana ragam yang diimpikan, semua serba ada. Seperti seringkali ia saksikan tersaji lewat media,
khususnya di layar tivi. Simpulnya, Jakarta adalah tempat mengadu segala mimpi indah.
Pahamnya permanen
seperti itu. Itu sebab, setelah tujuan kunjungan kerja telah rampung,
saya
mengajaknya ke salah satu mall. Pusat perbelanjaan termewah di Jakarta saat ini. Nyaris semua pakaian bermerek kelas internasional, ada di sana. Tak salah jika yang berbelanja di
sana, hanya mereka yang memang berkantong tebal. Orang sekelas saya, tentulah tak sanggup berbelanja di sana. Pun jika saya memaksa diri, taruhannya berbanding biaya hidup keluarga selama
sebulan.
Tapi, ini kali saya memberanikan diri datang ke sana. Tak lebih kurang, sekadar untuk mengajak
anggota saya yang selama ini bekerja sebagai sopir mobil “damkar”, Dinas
Pemadam Kebakaran Kota Makassar.
Saya ingin memperhadapkan dirinya dengan suasana yang sangatlah jauh beda dari kehidupan yang selama ini digeluti. Sebelum melintas di pintu pusat perbelanjaan itu, saya membisiki agar – sementara waktu – ia melupakan dirinya sebagai seorang sopir mobil damkar.
Saya
katakan kepadanya, sementara waktu,
sama-sama kita coba
melupakan siapa diri kita yang sebenarnya. Juga kita berpura-pura orang kaya. Sebab hanya bermodal cara “membohongi diri” seperti
itu kami
bisa leluasa. Enteng mengelilingi
pusat perbelanjaan megah itu. Jika tidak, bakal ada perasaan tak tentram. Stres
melihat selembar kaos berharga ratusan ribu rupiah. Bakal risih berpapasan
dengan banyak orang yang berpakaian mewah, berbau wangi parfum, tentu mahal.
Saatnya, saya
mengajaknya mampir ke
salah satu café di pusat
perbelanjaan itu. Ketika disodori daftar menu,
melihat daftar segelas
kopi susu kesukaannya seharga Rp.
120.000,- ia mengurung niat. Dibenaknya terngiang harga segelas kopi warkop
langganannya di Makassar
hanya seharga Rp 8.000,- jauh selisih berlipat-lipat. Tanpa mau peduli lagi pada lembar daftar menu, ia beralih pilihan, selera lain. Ia memesan pada pelayan, cukup dengan segelas minuman soda susu saja.
Mendengar
pesanannya, sontak saya membisiki, jika ini tempat makan dan minum orang-orang kaya, di sini tak menjual minuman soda susu. Saya menyuruh, agar memesan segelas kopi susu saja, meski harganya 15 kali lipat dibanding
harga warkop. Bukankah
kami telah bersepakat, ini
kali berpura-pura
orang kaya. Agar
kopi terasa nikmat melintas di
tenggorokan, saya membisiki agar ia tetap melupakan dirinya sebagai sopir mobil
“damkar”. Bertahan saja seolah orang kaya.
Saya membisiki, agar merubah gaya duduknya, meniru laiknya orang kaya di sebelah. Sontak ia sedikit membusung
dada, mengatur cara duduk laiknya orang kaya. Sebelum menemukan posisi duduk yang tepat, ia dikejutkan datangnya
dua artis, serta seorang
mantan menteri ke café
itu. Ia makin
percaya jika café itu tempat bertemu
para orang kaya. Tapi, malah
mengajak
saya agar segera
pulang. “Menjadi orang kaya tak
senikmat yang saya impikan. Ribet dan rumit” ujarnya.
Malili, 06 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar