Mengedepankan Status atau Fungsi ?



Mampir ke toko buku salah satu mall. Keasyikan menimbang-nimbang, buku apa bakalan dibeli, tak sadar jika jadwal penerbangan - balik pulang ke Makassar - sudah mendekat. Saya bergegas menuju Bandara Soekarno-Hatta, di Cengkareng-Jakarta. Depan pintu masuk alat detector, tak sengaja saya berpapas seorang kolega sekantor, sesama Wakil Rakyat. Entah musabab apa, dia tengah beradu debat dengan seorang security penerbangan. Apakah gerangan sedang terjadi?

Wadduh! Musababnya, kolega kerja itu ternyata tak sudi melepas asesoris logam dikenakannya saat hendak melewati pintu detector. Sementara petugas security tetap saja bertahan berdasar ketentuan umum yang diberlakukan pada siapapun jua calon penumpang yang hendak terbang. Tata aturan yang tak kenal pilih kasih. “Ketentuannya memang sudah begitu, Bu!“. Tapi sisi lain, kolega saya tau mau tahu. “Aaakh, saya ini Anggota DPRD, jangan kalian atur-atur saya!”.

Perdebatan kian pelit. Lama, sementara antrian penumpang lain, mulai berdesakan di belakang. Saya coba menghampiri. Membujuk agar bersudi tunduk mengikuti aturan umum penerbangan. Bujuk rayu saya mempan. Meski dengan mimik muka “jutek” kolega kerja itu akhirnya berkenan melepas seluruh asesoris logam dikenakan. Persis sama, juga saya tunaikan saat melewati pintu detector itu. Tak terkecuali, semua calon penumpang - apapun statusnya - wajib ikut aturan itu.

Usai melewati pintu detector, saya memilih duduk santai di ruang tunggu terminal penumpang. Bahkan saat duduk menikmati penerbangan di atas ketinggian sekian ribu kaki, bayangan kisah perdebatan kolega kerja saya di depan pintu detector, terus menari-nari dalam benak. Namun, bayangan tentang kisah itu, sekejap terhempas. Berganti kisah terbaru. Terjadi di depan mata. Kolega saya itu, lagi-lagi beradu debat dengan seorang pramugari. Astaga! Ini kisah apa lagi?

Wadduh! Kolega kerja itu, lagi-lagi salah paham. Ia bersama saya, duduk di kursi kelas ekonomi, tapi ia memaksa masuk ke kloset kelas eksekutif. “Aaakh, saya ini Anggota DPRD, jangan kalian atur-atur saya!”. Bu, ini bukan karena kita legislator tak dibolehkan memasuki kloset eksekutor. Saya jelaskan begitu. Bu, ini murni ketentuan seluruh maskapai. Akhirnya, meski dengan mimik muka - lagi-lagi - sedikit jutek, ia berkenan. Ia memilih kembali menghempaskan tubuh ke kursi.

Gagal pada pencapaian hasratnya, ia duduk sebelah kursi saya, tiada henti mengigau. Daripada bising, saya memilih meneruskan bacaan buku, “Emotional Intelligence”, karya Danial Goleman yang tadi mampir saya beli di mall. Buku ini mengingatkan bahwa IQ tinggi, bukan jaminan diri dalam mencapai kesuksesan, kebahagian dan kebajikan, tapi oleh “kecerdasan emosional” kita mengelola antara yang rasional versus yang emosional, itulah yang kelak membentuk nasib kita.

Simpulan buku itu, saya sampaikan pada kolega kerja di kursi samping saya di atas pesawat. Ia seolah “budek” tak mendengar. Bu, terpilih menjadi Wakil Rakyat hakikatnya bukanlah prestasi, tapi prestise. Punya status sebab ada jabatan diemban. Punya fungsi sebab ada tugas diemban. Perlu kecerdasan emosional mengelolanya. Mengedepankan status, buahnya style penampilan. Mengedepankan fungsi, buahnya kinerja. “Ya, iyya!”. Ditepisnya, Lagi-lagi dengan mimik jutek.

Makassar, 06 September 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...