Hari libu, adalah momen yang tepat bagi saya untuk memanfaatkan waktu beristirahat bersama keluarga. Membuang penat, setelah sepekan mengejar kebutuhan hidup.
Jika tak sempat keluar kota, paling juga berkeliling di pusat perbelanjaan.
Bukan maksud mau berbelanja tapi mencoba membebaskan
diri untuk
rileks. Selebihnya, mencuci
mata. Melihat hal-hal yang tak lazim. Atau sekalian mampir ke toko buku. Melihat-lihat jika mungkin ada
buku terbitan baru bisa dibeli.
Hanya saja, berkunjung
ke toko buku, satu hal paling saya tidak sukai, jika memasuki pintu toko buku, pelayan menghadang dengan pertanyaan, “Pak, mau cari buku apa?”. Sebuah pertanyaan yang saya rasakan meneror. Pertanyaan yang menghantar ingatan saya ke masa silam, sewaktu masih duduk di bangku sekolah.
Datang ke toko buku, memang tujuannya
untuk mencari buku sedang dipelajari. Membeli buku, memang semata kebutuhan mata pelajaran di sekolah.
Dan pertanyaan paling saya tak sukai itu, malam tadi ketika bersama putri semata wayang saya - yang sejak usia dini saya membiasakan mengakrabi toko buku- saat melangkahkan kaki masuk toko buku bergengsi di salah satu pusat perbelanjaan di
Makassar, seorang pelayan sontak saja menghadang saya dengan pertanyaan yang sama. Bahkan menguntit saya, turut berkeliling dari lorong rak buku
satu ke lorong rak berikut. Berulangkali meneror saya. “Pak, cari buku apa?”.
Melihat gelagaknya,
firasat saya menduga jika pelayan yang menguntit saya ini orang baru yang direkut bekerja di toko buku sekelas nasional ini. Ia sepertinya belum mengerti psikologi umum para pengunjung toko buku,
khususnya toko buku di pusat perbelanjaan modern. Dia mencoba berbuat baik
untuk melayani
pengunjung, tetapi ia seolah melayani pengunjung pasar
swalayan yang menjajakan barang kebutuhan rumah tangga. Wajar jika ditanyai, Pak, mau beli apa?
Tapi, di benak saya menjadi sangsi. Bukankah toko buku ini, dikelola perusahaan kelas nasional. Sebelum bertugas, para pelayan mereka, pastilah sebelumnya dilatih cara melayani pengunjung secara profesional. Para karyawan, pastilah telah diberitahu mission sebenarnya perusahaan itu membuka
toko buku di pusat pebelanjaan. Juga pastilah
ia tahu apa psikologi pengunjung. Lalu buktinya, saya rutin ke toko buku, kenapa masih ada pelayan mengajukan pertanyaan serupa.
Keberadaan toko buku di pusat perbelanjaan, substansinya tidak sama toko buku anak sekolah pada umumnya. Pengunjung yang datang
ke toko buku anak sekolah, memang memiliki maksud satu-satunya untuk membeli buku. Wajar, andaikan
siapapun berkunjung ke sana ditanyai “Mau cari buku apa?”. Tapi mendatangi toko buku di pusat perbelanjaan, tidak semua punya maksud membeli buku. Maka rasa-rasanya,
tak wajar jika pelayan juga mengajukan pertanyaan sama.
Mampir ke toko buku di pusat perbelanjaan, semata karena mumpung lagi berada di sana. Dan seperti itulah missi kenapa perusahaan toko buku memilih menjajal buku di pusat perbelanjaan.
Saya, juga putri saya, mampir
karena mumpung. Kalaupun ikutan membeli buku, karena tertarik judulnya. Makanya jangan lagi tanyai saya, “Pak, cari buku apa?”. Pasti saya dongkol. Tentu juga putri saya. Takut minatnya bacanya menurun, lantaran tiap kali ke toko buku serasa diteror.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar