Ibu, maafkan aku / Aku
ke Monas, tak ijin ibu / Aku ingin buat kejutan / Pulang membawa beras….
Negeri ini lagi-lagi bergetar. Bom yang sengaja diledakkan secara terencana di sejumlah tempat oleh sekian orang yang --- sepertinya --- telah tahu batas usianya sebelum ajal menjemput. Dan peristiwa transcendental itu, di balik keterbatasan nalar saya, hingga kini belum sanggup untuk mencerna, bahkan rendahnya lubuk kebatinan saya, belum cukup untuk mematrinya. Jujur saja, keberanian atau kenekatan saya, jauh terlampaui dari bocah-bocah belas tahun yang bersedia menemani ibunya, juga ayahnya, untuk ikut pula meledakkan diri.
Aakh, sampai batas perenungan itu, saya harus menarik nafas panjang. Dada saya serasa sesak. Jangankan mau menandingi keberanian atau kenekatan mereka, justru lahir kengerian. Antara rasa dan nalar saya, tak kuasa mencerna semua yang terjadi, meski saya sedikit tahu, dalil-dalil syahid dalam ajaran Islam. Dan saya tak ada niat, mau berselisih soal kedalaman paham tentang dalil ajaran itu. Justru sejak mula, saya jujur mengaku jauh kalah berani, atau jauh kalah nekat dari mereka itu. Saya masih takut mati. Tapi orang-orang itu, seolah tahu batas kematiaannya.
Justru yang mengiang di benak saya, tragedi di kawasan Monas Jakarta, sebulan lalu. Dua bocah mengalami “heat stroke” akibat mengantri pembagian sembako. Keduanya tewas saat itu juga. Kegiatan yang dilabeli “Untukmu Indonesia Berkarya dalam Harmoni” itu justru berujung tragis. Kematian kedua bocah itu, tewas demi niatnya membuat kejutan pada ibunya. Ingin pulang ke rumah membawa segenggam beras. Berbeda dengan bocah-bocah di Surabaya, saat menemani kedua orangtuanya, nekat meledakkan diri bersama rangkaian bom dalam genggamannya.
Kedua bocah yang tewas di Monas itu --- seperti dikisah dalam bait puisi-esai karya Denny JA di awal catatan ini --- meninggalkan rumah tanpa pernah sedikitpun tahu jika kelak di luar rumah, ajal bakal siap menjemputnya. Sementara bocahbocah yang tewas meledakkan diri di Surabaya, meninggalkan rumah dengan perencanaan yang matang, bahwa kelak di luar sana, akan segera mengakhiri hidupnya. Tak akan balik kembali ke rumah itu. Mereka meyaqini, kelak berpindah ke rumah yang indah di jannatun na’im. Menurut takaran pandangan dan pemahaman mereka.
Aakh, sampai batas ini, lagi-lagi saya harus menarik nafas panjang. Dada saya serasa kian sesak. Rasa dan nalar saya, seolah tak mau menerima kenyataan seperti itu harus terjadi di negeri ini. Sejak bocah, otak saya telah disesaki doktrin bahwa negeri ini, negeri yang subur, makmur dan kaya raya. Tapi kenapa rakyatnya bisa kehilangan nalar yang jernih. Kala usia masih bocah, tapi tewas akibat terinjak kerumunan orang yang mengantri pembagian sembako.
Ampun Ibu/ Aku menangis sekeras-kerasnya/ Maafkan aku/ Aku ingin buatmu bahagia/ Memberimu hadiah beras/ Tapi bukan beras mengejutkanmu/ Aku malah tak lagi bisa memelukmu/ Ibu malah kehilanganku/ Maafkan aku, Ibu/ Maafkan aku/ Tak bisa pulang membawa beras. (Denny JA)
Makassar, 16 Mei 2018
Negeri ini lagi-lagi bergetar. Bom yang sengaja diledakkan secara terencana di sejumlah tempat oleh sekian orang yang --- sepertinya --- telah tahu batas usianya sebelum ajal menjemput. Dan peristiwa transcendental itu, di balik keterbatasan nalar saya, hingga kini belum sanggup untuk mencerna, bahkan rendahnya lubuk kebatinan saya, belum cukup untuk mematrinya. Jujur saja, keberanian atau kenekatan saya, jauh terlampaui dari bocah-bocah belas tahun yang bersedia menemani ibunya, juga ayahnya, untuk ikut pula meledakkan diri.
Aakh, sampai batas perenungan itu, saya harus menarik nafas panjang. Dada saya serasa sesak. Jangankan mau menandingi keberanian atau kenekatan mereka, justru lahir kengerian. Antara rasa dan nalar saya, tak kuasa mencerna semua yang terjadi, meski saya sedikit tahu, dalil-dalil syahid dalam ajaran Islam. Dan saya tak ada niat, mau berselisih soal kedalaman paham tentang dalil ajaran itu. Justru sejak mula, saya jujur mengaku jauh kalah berani, atau jauh kalah nekat dari mereka itu. Saya masih takut mati. Tapi orang-orang itu, seolah tahu batas kematiaannya.
Justru yang mengiang di benak saya, tragedi di kawasan Monas Jakarta, sebulan lalu. Dua bocah mengalami “heat stroke” akibat mengantri pembagian sembako. Keduanya tewas saat itu juga. Kegiatan yang dilabeli “Untukmu Indonesia Berkarya dalam Harmoni” itu justru berujung tragis. Kematian kedua bocah itu, tewas demi niatnya membuat kejutan pada ibunya. Ingin pulang ke rumah membawa segenggam beras. Berbeda dengan bocah-bocah di Surabaya, saat menemani kedua orangtuanya, nekat meledakkan diri bersama rangkaian bom dalam genggamannya.
Kedua bocah yang tewas di Monas itu --- seperti dikisah dalam bait puisi-esai karya Denny JA di awal catatan ini --- meninggalkan rumah tanpa pernah sedikitpun tahu jika kelak di luar rumah, ajal bakal siap menjemputnya. Sementara bocahbocah yang tewas meledakkan diri di Surabaya, meninggalkan rumah dengan perencanaan yang matang, bahwa kelak di luar sana, akan segera mengakhiri hidupnya. Tak akan balik kembali ke rumah itu. Mereka meyaqini, kelak berpindah ke rumah yang indah di jannatun na’im. Menurut takaran pandangan dan pemahaman mereka.
Aakh, sampai batas ini, lagi-lagi saya harus menarik nafas panjang. Dada saya serasa kian sesak. Rasa dan nalar saya, seolah tak mau menerima kenyataan seperti itu harus terjadi di negeri ini. Sejak bocah, otak saya telah disesaki doktrin bahwa negeri ini, negeri yang subur, makmur dan kaya raya. Tapi kenapa rakyatnya bisa kehilangan nalar yang jernih. Kala usia masih bocah, tapi tewas akibat terinjak kerumunan orang yang mengantri pembagian sembako.
Ampun Ibu/ Aku menangis sekeras-kerasnya/ Maafkan aku/ Aku ingin buatmu bahagia/ Memberimu hadiah beras/ Tapi bukan beras mengejutkanmu/ Aku malah tak lagi bisa memelukmu/ Ibu malah kehilanganku/ Maafkan aku, Ibu/ Maafkan aku/ Tak bisa pulang membawa beras. (Denny JA)
Makassar, 16 Mei 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar