Bangun Tidur, Tidur Lagi, Banguuun!




BERADA di puncak jenuh menunai karantina diri, “stay at home” gegara si Coronavirus jahat itu, alih-alih syair lagu – seperti judul catatan ini – datang menari-nari dalam benak. Awal 2009, lagu bergenre reggae itu, dulu popular dilantun penciptanya, Mbah Surip. Lengkapnya, Urip Achmad Rijanto. Bait syairnya seolah mengolok rutinitas saya jalani, beberapa hari belakangan. Bila mau dirunut kacang, saya me-lockdown diri, merajut hari-hari di rumah, kini lamanya cukup sebulan.

Sejak Covid-19, mewujud pandemic global, bukan hanya saya, juga bukan hanya orang-orang di bumi nusantara, tetapi nyaris semua orang seluasan muka bumi ini, menunaikan soliditas sama. Dan tak kuasa dielak, jika “stay at home”, kini telah berada di titik kulminasinya. Tak terkira – ini kisah langka– pada suatu waktu, umat manusia seisi dunia ini, ubahnya diawali kata mufakat, di waktu yang sama, perasaan yang sama, bergerak bersama, simultan, berdiri di puncak menara.

Berhar-hari “Stay at home”. Malah telah berbulan. Jenuhnya tiada terkira. Kini ada di titik nadir. Bagai gunung merapi, segera erupsi memuntah laharnya. Fakta, demikian terjadi. Hadir sesosok makhluk tak mewujud, dinamai Coronavirus, benar telah sukses mempertontonkan kedigjayaan mengemban misi. Mengkarantina umat manusia seisi bumi. Menjepit di balik dinding rumahnya masing-masing. Tanpa punya secuil daya guna melawan. Padahal kodranya “khalifatan fil ardh”.


Diri terkarantina. Rutinitas, seperti normalnya dilewati, alih-alih berbalik haluan “stay at home”. Akibatnya, jalur linier dilalui membigu. Paling banter bermain ke warung kopi, kini telah dijegat. Memikul kewajiban, menafkahi keluarga, ikut terjegat. Anak sekolah di rumah, pun mulai jenuh. Sementara Coronavirus, tulis David Faris di laman theweek.com, 19 Maret 2020, “It’s like some kind of waiting game, the problem is the lack of any certainty”. Bagai main game tak ada ujung.

Dan karena Coronavirus berstatus pandemic global, saya tergelitik sendiri membaca buku ditulis Eric Weiner, “The Geography of Bliss” (2019). Membayangkan kondisi kini dihadapi orang-orang di Amsterdam, telah kehilangan kebebasan melinting ganja. Juga Swiss, kehilangan kebahagiaan meski tak senang. Di Qatar, kala sedih “berbicara” – bukan berdoa -- kepada Tuhan. Di Amerika, berburu uang sebagai standar bahagia. Di Thailand tak bisa bersenang akibat ikut jenuh berfikir.


Usai mendaras buku catatan perjalanan 569 helai itu, di benak saya alih-alih melintas kenangan ketika dulu mengopi bersama Mbah Surip di emperan jaklan TIM di Cikini. Pengikut Bob Merley, berambut gimbal itu, bicara prinsip hidup dijalani, “ya, ngakak sak mulese”. Tertawa sepuasnya. Seperti dialaminya, saat puncak tenarnya lewat album “Tak Gendong “, akibat keseringan hadir wawancara tivi, jumpa fans, bernyayi, dirinya lelah. Risikonya, hari itu tertawa, besoknya wafat.

Lalu, mau apa luar rumah? Mau ikut prinsip orang Thailand? “Ingin bahagia, berhentilah banyak berfikir”, seperti ditulis Eric Weiner. Atau, mau dengar pesan Charles Duhigg? Seperti dia tulis di bukunya, “The Power of Habit” (2013). “Kedahsyatan hidup, segalanya bermula juga berakhir di “habit”. Kebiasaan! Binatang tak punya akal, tapi terbiasa balik kei kandangnya. “Stay at home”. Kita, “ngakak sak mulese”. Kita nyanyikan lagu Mbah Surip; Bangun tidur, tidur lagi. Banguuun!

Makassar, 07 April 2020

The Seven Sleepers Tak di Gua Lagi



MEREKA, “The Seven Sleepers”. Personilnya; Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairnus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika. Siapa mereka? tanya teman itu. Mereka bukan group band, kata saya. Seventeen, Sheila On-7, misalnya. Pula, bukanlah “The Seven Band”, Langhorne, di Irlandia sana yang personilnya hanya lima. Tapi kata mereka, “kedua sisanya, siapa saja yang mau menikmati sajian musik kami”. Dan “The Seven Sleepers”, tujuh orang. Satunya lagi, Qithmir, seekor anjing.

Saking hebatnya, kisah “The Seven Sleepers”, ikut diurai dalam -- surah ke-18 -- al-Qur’an. Masa sih? tanya teman itu, seolah tak percaya. Ya!, tegas saya. Mitologi Kristen menamai, “The Seven Sleepers”. Tapi al-Qur’an menyebut, “Ashabul Kahfi”. Para sahabat; “ashabul”. Mitologi Kristen, menyebut tujuh orang. Tapi Al-Qur’an, tak menyebut jumlah pastinya. Andai ada disebut itupun asaathir, dongeng orang terdahulu. Tiga, lima, atau tujuh, juga seekor anjing. Allah maha tahu!.

Mereka, mitologi orang-orang terdahulu. Hidup di tahun 249-251 Masehi. Konon ada di Amman Yordania. Mereka, tulis Emha Ainun Nadjib – caknun.com – me-”Lockdown 309 tahun”. Berbuat menyerupai apa kita lakukan saat ini. Era kecanggihan tekhnologi, kala Covid-19, si Coronavirus tak mewujud itu, datang. Kita “Stay at Home”. Sementara mereka, Al-Qur’an mengurai, “Stay at Gua”. Ketiduran selama 300 tahun dan sembilan tahun. 309 tahun? Ya! Lalu kita, sampai kapan?


Entah! Tak hanya Youval Noah Harari juga Karen Armstrong, dua ilmuan terkemuka itu, menulis  di banyak buku. George Orwell saja, dalam novelnya, “Animal Farm” (2019) – diterjemah dalam ragam bahasa dunia itu – mengkapitalkan, demikian takdir seluruh mahluk hidup. Andai merasa terancam, melawan? Atau menghindar mencari perlindungan? Kepiting kecil di pantai, didekati, berlari masuk lubangnya. Daun putri malu mimosa pudica, jika hendak disentuh pun merunduk.

“The Seven Sleepers”, oleh mitologi Kristen, menekankan perbuatan mereka. “Sleepers”, orang ketiduran. Al-Qur’an menekan pada diksi tempat. “Kahfi”, gua. Benar, mereka orang-orang yang ketiduran, memilih berlindung dalam gua. Mereka menghindari “virus” Kekaisaran Romawi, raja Diqyanus yang bengis dan batil itu. Jauh sebelum itu, manusia purba, juga dalam gua. Berteduh, berlindung dari binatang buas. Desain rumah di atas permukaan tanah – juga maksudnya sama.


Dunia bintang mengenal hukum rimba, karnivora dan omnivore. Dunia manusia, “homo homini lupus” jelas Thomas Hobbes. Itulah kenapa Qithmir, seekor anjing, turut dalam hikayat. Mahluk hidup, jika gentar, khawatir bakalan ditakluk pihak pengancam, akan menghindar. Andai merasa lebih kuasa, melawan! Bangkan memangsa! Kenapa? Tanya teman itu lagi. Makhluk hidup takut mati. Hmm ingin tetap hidup. Mempertahankan hidup, wajib! Juga menghadapi si Coronavirus?

Sedungu apa fikiran manusia purba, tidak plongo-plongo amat. Sebuas apa memangsa binatang buas, stay di gua juga. Sekuat apa, manusia memangsa, kala Covid-19, si Coronavirus yang takut busa sabun itu datang, manusia “Stay at Home” juga. Lebih lemah. Namun bukan gentar, itu ke-tawadlu-han. Tak ingin sehat sendiri. Takut menjangkiti. Bukan dijangkiti. Allah SWT (QS 18 : 16) menjanji “The Seven Sleepers” tak di gua lagi, sesuatu yang berguna bagi banyak urusan. Sabar!

Makassar, 06 April 2020

Virus Hanyalah Penumpang Gelap



MALAM itu, saya ada di Paris. Butuh uang. Tapi, semua bank, telah tutup. Beruntung, di luar ada ATM. Saya memasukkan kartu bank asal kota saya Washington DC. Komputer bank Prancis tahu bukan kartu mereka. ATM – system Cirrus – melapor ke pusat antarbank negara Eropa di Belgia. Lalu ke penghubung global di Detroit. Kartu saya terverifikasi. Saldo rekening saya cukup. Pesan lalu memutar balik lewat Cirrus ke bank Paris, lalu ke ATM. Lembaran uang Franc, segera keluar.

John Naisbitt, melukiskan peristiwa – kala tahun 1994 dinilainya dramatis – di bagian pengantar bukunya, “Global Paradox”. Proses pencairan uang antardua negara -- bermata uang berbeda – Dolar USA serta Franc Prancis, di dua daratan benua saling berjauhan. Pencairan uang dikala itu, prosesnya menelan waktu, tak kurang dari hanya 16 detik saja. Ulang membacanya, benak saya sekelebat mengalih ke Wuhan. Di pasar rakyat “seafood” Huanan. Si tertuduh, muasal Covid-19.

Ada, 27 “pasien nol”. Salah satunya, Wei Guixian (57 tahun), ibu penjual di pasar itu. Benak saya berkelindang. Ibu itu bersentuhan tangan banyak pembeli. Di antaranya terbang menuju Inggris memantau Aston Villa milik bos Recon Group, Tony Jiantong Xia. Satunya terbang ke Italia guna memantau Inter Milan, buah akusisi Suning Holdings Group (China), dari Erick Thohir. Juga, satu yang lain terbang ke Iran. Mitra dagang utama China. Rudal balistik Iran, murni sokongan China.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/peradaban-manusia-di-balik-covid-19.html 

Terbang, asal Beijing. Satunya, landing di London. Satunya lagi di Roma. Keduanya, bersentuhan tangan, cipika cipiki, banyak orang di dua negara berbeda di Eropa itu. Di antara disalami, besok terbang dari London, meneruskan kuliah di New York University. Lalu di Italia, di antara disalami berlibur ke Spanyol, melihat Royal Palace di Madrid. Lalu yang di Iran, dari Teheran menunaikan umrah ke Saudi Arabia. Di Makkah dan Madinah bersalaman jamaah Turki, India juga Indonesia.

Liburan akhir tahun 2019, juga imlek awal tahun 2020. Mobilitas manusia lebih cepat. Meloncat dari kota satu, ke kota lain. Dari negara satu, ke negara lain. Tak sadar, dirinya usai bersentuhan tangan, Si Coronavirus “jahat” itu, ikut serta membayangi. Prosesnya berlangsung sangat cepat. Menyamai, cepatnya proses penarikan uang di ATM. Selang waktu hanya dua bulan, kelak WHO menamai virus itu, “Corona Virus Disiase 2019”. Juga, mengalih status, epidemic lalu pandemic.

BACA JUGA:  https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/lockdown-lalu-kita-dirumahaja.html 

Kisah dramatis cepatnya pergerakan Covid-19, si Coronavirus itu berkeliling dunia, jauh berbeda “Spanish Flu”. Pandemic oleh virologis Amerika Serikat, Jeffery Taubenberger menamainya “The Mother of All Pandemics”. Maret 1918 hingga Juni 1920. Peristiwa seusai Perang Dunia satu itu, tulis John M Barry dalam buku, “The Great Influenza” (2005), menelan 50-100 juta jiwa. Beredar lambat akibat mobilitas manusia, juga bergerak sangat lambat. Kala itu pesawat sipil belum ada.

Virus hanyalah “penumpang gelap” pada diri manusia. Beredar ditentukan pergerakan manusia. Manusia bergerak, itu kemutlakan. “Zoon Politicon”, jelas filsuf Aristoteles. Kodratiah, pembeda antara manusia dan virus yang tak berinteraksi sesamanya. Tapi paradoksnya kata Naisbitt, kian dunia mengglobal, kian manusia mencari bagian terkecil untuk kekuatan diri. “Bukan sembunyi, menanti peluang, kelak balik lagi menerkam”. Tulis Maxim Gorky, dalam novelnya “Pecundang”.

Makassar, 03 April 2020

Covid 19 Huwal Awwalu Wal Akhiru



“UTHLUBUL ilma walau bish shin”. Berarti, tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Kawan itu, – ragu akan keabsahan kalimat yang diklaim hadits itu – meminta penjelasan. Secara seloroh  saya menjawab. Makkah ke Beijing, jaraknya 7.380 km. Lalu? Tiapkali ada kalimat menyebut kata China, selalu saja, benak kita meragukan. Jangankan “hadits”, barang datang dari China saja, juga selalu kita ragukan kemurniannya. Apakah barang itu asli? Tiruan? Ataukah palsu?.

Gegara warisan kolonial, Indonesia tahunya China saja. Sebenar-benarnya RRC, itu RRT juga. Republik Rakyat Tiongkok. Dideklarasi 1991 – pasca tumbangnya kekaisaran Manchu (Ching) Da Qing Di Guo -- oleh Sun Yat Sen Zhonghua Minguo. Itulah negeri “Zhong Guo” itu. Bahasa Hokkian, melafadznya; Tiongkok. Sebuah negeri di Asia Timur, seluas 9,69 km. Berpenduduk 1,4 miliar. Berdiri sejak 1949, pasca perang saudara, dengan berpartai tunggal komunis, PKT.

Di negeri, kini dipimpin Xi Jinping, itulah sejak 27 Desember 2019 di Wuhan Hubei, Covid-19, si Coronavirus datang. Dan kini merayapi – minus atlantik – di alam raya ini. Telah mencekik mati ribuan orang. Sebab itu manusia berlari. Menjauh. Takut jika di luar rumah ada “hantu” Corona menjegat. “Stay at home” saja. Bernaung di bawah atap rumah. Sebaliknya, di negeri muasal virus itu, pasca bersembunyi, mereka kini di jalanan. Bertolak pinggang. Bagai, hero.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/peradaban-manusia-di-balik-covid-19.html 

Mereka, warga Tiongkok, telah memenangi pertempuran. Mengusir “hantu” Corona itu dari negeri tirai bambu. Ayal, WHO juga sekian Kepala Negara dari ruang persembunyian mereka menyampaikan “standing applause”. Sementara, Amerika Serikat yang selama dua abad tak memiliki kompetitor sebagai pengendali dunia, masih bersungut, mempertahankan diri dari serbuan Covid-19, si Corona itu. Berbukti, jika Tiongkok lebih bersiap menghadapi ancaman.

Apa diduga Fareed Zakaria di bukunya, “The Post American World” (2015), makin mendekati kebenaran. Jika pasca komunis Rusia rubuh, Amerika Serikat satu-satunya, pengendali dunia tanpa tanding. Tapi kata Zakaria, itu dulu. Duapuluh tahun terakhir di musim pertaruhan global, kompetitor banyak bertebar. Paling siap, Tiongkok. Menerjang hantu tidak mewujud, Tiongkok mengusir lewat kedigjayaan “Artificial Intelligence”. Amerika Serikat hanya melongo.

BACA JUGA: https://armin-toputiri.blogspot.com/2020/03/be-ready-to-fight-covid-19.html 

Ini pertanda apa? Samuel P Huntington dalam bukunya “Benturan Antarperadaban” (2001), telah meramal, pasca perang dingin, bakal ada benturan. Blok Barat versus Islam-Konfusius. Tak hanya Huntington, banyak ramalan ilmuan lain, semua tak jua menyana andai ini terjadi. Tak mesti berbenturan peradaban. Berbentur senjata pemusnah atau urusan dagang. Ini kali benda tak mewujud, si Corona penentu peralihan “Pengendali Dunia”. Amerika ke Tiongkok.

Mungkin berlebih. “Kami tak butuh kedudukan di matahari, tapi kami ingin merebut kembali kedudukan kami di matahari”, tegas Xi Jinping di bukunya, “The Good Governance of China” (2015). Tapi koleganya di negeri Parsia, Iran sana, mengolok “Tiongkok huwal awwalu wal akhiru”. Artinya? Tanya kawan itu. Saya jawab, Sun Tzu telah mewanti; “Tiap bencana, ada peluang di baliknya”. Covid-19, asal dan akhirnya di Tiongkok. Ilmu, memang adanya di negeri China! 

Makassar, 31 Maret 2020

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...