Lampu Petromaks di Pambusuang



Pambusuang, nama sebuah kampung kecil di Sulawesi Barat, pemasok datangnya sekian tokoh kaliber internasional. Namun di balik tokoh sekaliber itu, Pambusuang masih menyimpan sosok yang meski orang-orang tak pernah melirik, apa lagi mau peduli, bahkan telah memvonis dirinya sosok manusia yang tak lagi waras. Sementara, takaran nalar saya - entah waras atau tak waras - menilainya sesosok manusia ”maha penting” dalam kehidupan sebagai maha guru pembelajar.

Tak jelas siapa nama sebenarnya. Ia populer dengan nama digelarkan, Kawendi. Tak lain karena ia bekas penghela bendi, semisal dokar, atau andong. Ia telah meninggal dunia, tapi - tetap saja - menyisihkan misteri. Menyimpan seribu tanya di dalam benak saya. Perbuatannya serba aneh, bahkan anomali. Mengigatkan kisah ”gadis berlampu”,  Florence yang tiap kali perang berakhir, di semenanjung Krimea, 1854, perawat itu berkeliling membawa lampu mencari korban perang.

Kawendi seorang ”devian”. Perbuatannya berlawanan arus kebiasaan masyarakat umumnya. Di kala musim angin Timur tiba, saat angin deras berhembus di jazirah Mandar, tak sekalipun alpa  menunai kebiasaan. Ia berkeliling mengitari seluasan kampung Pambusuang, sambil menenteng lampu petromaks ajaibnya. Uniknya, lampu berbahan bakar minyak tanah itu, ia tenteng dalam kondisi menyala, meski matahati terik bersinar. Terjadilah cahaya, petromaks versus matahari.

***

Andai perbuatannya menyimpang, tak searah jalan takaran umum, berakibat seisi Pambusuang menyimpul, jika dirinya manusia yang tak lagi waras, lalu tak ambil peduli, silahkan saja. Sebab Kawendi, juga tak mau ambil peduli apa disimpulkan orang-orang tentang dirinya. Ia tetap saja pada kebiasaannya. Sementara saya, manusia jauh datang ke Pambusung, merasakan terobsesi untuk tahu, apa sesungguhnya makna terselubung dibalik perbuatannya yang seba anomali itu..

Perbuatan Kawendi sebuah tanda tanya besar yang menyelinap masuk ke dalam sum-sum nalar waras saya. Bahkan rasa-rasanya telah membias, menggiring saya ikut-ikutan menjadi tak waras telah menobatkan dirinya sesosok manusia ”maha penting”, guru pembelajar kehidupan. Punya prilaku menyimpang, tapi sisi lain menimbun banyak pernyataan untuk ditanggapi. Menyimpan pertanyaan untuk dijawab. Menggali untuk memberi arti pemaknaan hidup yang sesugguhnya.

Nyaris seisi warga Pambusuang pernah menanyai, apa dalih sebenarnya ia berkeliling kampung, menenteng lampu petromaks yang menyala, padahal matahari terik bersinar. Apa terjadi, tiap kali selalu saja dijawab secara diplomatis, meski - dalam takaran rasional saya - sebuah jawaban yang sangatlah sarat makna. "Mayagai tau, tappa pi'de maninini mata allo..." (semua kita mesti untuk senantiasa waspada, takut jika tiba-tiba saja matahari padam).

***

Di suatu waktu, seseorang menepis dalihnya, matahari akan padam siang hari jika qiamat telah tiba. Mendengarnya, Kawendi malah terkekeh. "Ha.... ha.... Kalian ini, nampaknya tidak paham bahwa dunia ini dicipta Tuhan hanya sekejap saja, ”qun” jadilah!. Dan Tuhan mencipta dunia ini hanya sekali itu saja. Jangan tunggu kali kedua”. Jika ditarjih, apakah argumen seperti itu waras atau tak waras? Jangan-jangan justru warga Pambusuang yang tak waras memahami Kawendi.

Coba simak argumen Kawendi selanjutnya. ”Semalam, bulan juga bersinar terang, tetapi sesaat hujan deras turun, lalu bulan tiba-tiba padam”. Bukankah ini pernyataan normatif masih waras. Bulan menyinarkan cahayanya di malam hari, lalu membawa gulita, sesaat awan menutupi. Dan ketika alam mulai gelap gulita, Kawendi mengingatkan, ”Ketika gelap gulita sudah datang, dikala itulah kalian mesti berhati-hati, saat gelap, setan dan kuntilanak banyak bergentayangan”.

Jika kita coba mendaras, Kawendi seolah menilik kita, agar menghindari dan mejauhi kegelapan, sebab kegelapan, bagian ketidaknormalan itu sendiri. Banyak godaan negatif mendekat. Antara tergoda atau menggoda, wujudnya tak jelas di tengah kegelapan. Itulah makna simbolik, lampu petromaks - ajaib - Kawendi yang pada galib lain mensublimasi kita secara mikrokosmos, bahwa hakikat manusia tak bisa dilepas dari ”nur”, cahaya - meski bukan cahaya - penerang alam raya.

***

Kawendi manusia multi-interpretasi, bahkan multi-tafsir. Tak jelas dimana awal, serta dimana di akhirnya. Mengingatkan kita pada kisah sejumlah orang di banyak literatur. Telah divonis waras, tapi semakin diselami, semakin yang ditemukan ketakwarasannya. Sebaliknya divonis tak waras, tetapi semakin diselami, makin yang ditemukan kewarasannya. Narasi diantara para filsuf besar yang pernah ada, mula hidup dijalani, tak lebih kurang, sama saja kadar diperbuat Kawendi.

Socrates misalnya (469-399 SM), warga di Athena mulanya menduga jika ia orang yang  tak lagi waras. Berpakaian lusuh berkeliling kampung tanpa alas kaki, ia tiada henti bertanya pada siapa saja ditemui. Hingga akhirnya voting pengadilan, 220 tak setuju, dikalahkan 280 yang setuju, ia dihukum mati dengan cara meminum racun, karena ia dianggap menghasut masyarakat. Meski demikian, namanya tetap abadi sebagai filsuf besar, beserta muridnya Plato, serta Aristoteles.

Meski bukan maksud mau menimbang sama kadar serta nilai, antara Kawendi dengan sejumlah filsuf termasyhur, tapi semata memberi amsal pada perbuatan mereka yang anomali, akibatnya menjadi multi-tafsir. Apa kebiasaan diperbuat Kawendi, menenteng lampu petromaks ajaibnya, bagi saya bukanlah prilaku sederhana, melihatnya seolah sebuah lakon visual permainan teater. Ia seorang pratogonis yang berkeliling menyampaikan wasiat agar seisi alam ini selalu waspada.

***

Apa Kawendi yang memang tak lagi waras, atau justru warga seisi Pambusuang yang tak waras. Atau ironisnya, andai justru saya saja yang memang sudah tak waras, mau mengenang Kawendi sebagai sosok ”maha penting” sebagai media pembelajar? Semua tetaplah misteri, sebab siapa sedang waras dan siapa tak lagi waras, sekilas memang sebatas soal perspektif. Tergantung sisi mana subjek memandang objek. Semoga Kawendi di alam sana tak terkekeh memandang kita.

Surabaya, 10 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...