Bu Risma Tak Sekadar



“Berjalan di bawah lorong pertokoan, di Surabaya yang panas, debu-debu ramai beterbangan dihempas oleh bis kota. Bis kota sudah miring ke kiri, oleh sesaknya penumpang, aku terjepit di sela-sela, ketiak para penumpang yang bergantungan...” Saya sontak teringat syair dinyanyikan Franky Sahilatua itu, kala mlaku-mlaku - berkeliling - di Kota Surabaya. Lagu berjudul “Bis Kota” yang dicipta penyanyi jenis balada itu, sangat populer di kalangan masyarakat era awal 1980-an.

Saking populernya, sehingga – patut saya menduga - juga pastilah akrab di benak Bu Risma - Tri Rismaharini - Walikota Surabaya, periode kedua saat ini. Entah apa ada kaitan atau tidak, syair berdiksi satir itu, musabab Bu Risma merasa terjewer, sehingga Kota Surabaya yang dipimpinnya, dia rubah jauh berbalikan seratus kali lipat dari sindiran bait-bait syair lagu Franky itu. Kota Surabaya, kini bagai “ratna mutu manikam”. Bersih dan elok dipandang. Dihiasi aneka bunga dan lampu.

Di Surabaya, kini tak lagi ditemui, debu yang ramai beterbangan karena dihempas oleh bis kota. Kita tak lagi bakal merasakan sesaknya jadi penumpang yang terjepit di sela - bau - ketiak sesama penumpang. Kenapa? Bu Risma, kini menyediakan bus umum yang tak berbayar. Bayarannya cukup menukar “sampah plastik”. Mendaki jembatan penyeberangan, pun seluruhnya dilengkapi lift. Taman kotanya, peraih Townscape Award PBB 2013, sebagai taman terbaik di Asia. 

Nah, sudah terbayang, jika kondisi Kota Surabaya, seperti disindir dalam bait-bait lagu itu, seluruhnya telah ditepis oleh Bu Risma, lewat serangkai program spektakulernya. Mencolok dan menarik perhatian. Dan untuk membalik seratus derajat dari kondisi sebelumnya, terbayang di benak saya, bagaimana mungkin, semua itu terjadi? Tentu, tidak semudah membalik telapak tangan. Juga dilakukan bukan dengan cara menggosok lampu wasiat, memohon bantuan Aladin.

Kondisi seperti inilah, idialnya kita melihat siapa pemimpin dan siapa bukan pemimpin. Banyak terhampar literatur - kepemimpinan di satu sisi, serta manajemen pada sisi lain -  guna didaras untuk ditarjih. Tapi apapun kata pakar dalam literatur, letaknya di “kemauan tak sekadar” atau “hanya sekadar”. Satunya dinamis, lainya statis. Satunya beranjak, yang satu konstan. Satunya, siap tantangan, satunya demi harmoni. Bahkan, satunya banyak musuh, satunya dinilai bijak.

Andai Kota Surabaya telah jauh berubah, maka muskil diingkari jika Bu Risma tak berada di posisi yang pertama. Dinamis, siap menerima tantangan, serta - apa boleh buat - terpaksa banyak musuh, juga dinilai tak bijak. Bu Risma, siap menerima jika dirinya dinilai tak bijak, “daripada dinilai bijak tapi ora iso opo-opo, kerjanya tak dirasakan masyarakat, hayo mau mana?!“ ujarnya. Memilih frasa, “mau mana?”, bukan “suka mana?”, karena kepemimpinan bukan suka atau tak suka, tapi kemauan.

Standar kepemimpinan Bu Risma, tak sekadar. Berjejak karena nawaitunya jelas. Ia membangun citra lewat kinerja. Tak seperti kebanyakan, dipercaya oleh banyak orang lewat berita pesanan dan media sosial. Ia sumber berita karena kinerja. Ia diburu pewarta, bukan memburu pewarta, seperti banyak yang lain.“Pak, sampahnya mohon dipungut!”, tegur seorang ibu pada saya saat berada di “Kampung Ilmu”, menyadarkan saya, kebersihan tak lagi milik Bu Risma, kini milik masyarakat Surabaya.

Malang, 10 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...