Tetap "Baku Tau Jaki" Bos



In Memoriam Jaya Hartawan 

Siang - telat membuka hape - telah ramai informasi beredar di media jejaring sosial. Adik junior saya, bernama Jaya Hartawan, komisioner KPU Palopo, telah mendadak berpulang, menemui Sang Maha Pencipta. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun. Al-Fatihah ila arwahu.

Pertama terbersit di benak saya, sikap jenaka jadi ciri khasnya. Bahkan seringkali dinilai lucu-lucuan, selain karena posturnya pendek dibanding tinggi lelaki idialnya, pun dalam bertutur ia cenderung polos - apa adanya - dengan nada "cadel', menjadi pelengkap khas kejenakaannya untuk selalu dikenang, sekaligus penyebab ia mudah diterima dalam bergaul.

"Kak, kenapa banyak orang tak mau percaya kalau saya bicara?", keluhnya suatu waktu pada saya. Saya jawab, tak lain karena kamu bicara lebih dominan lucu-lucunya dibanding seriusnya, sehingga susah dibeda, mana seriusnya dan mana bercandanya. "Itulah, heran juga saya Kanda. Padahal saya ini bicara sudah sangat seriusmi", kilahnya berkeluh.

Lanjut menanggapi, saya membalasnya - hanya selalu - dengan senyuman manis. Bagi saya, itu sikap yang tepat untuk meladeninya. Meski suka bercanda, tapi saya tahu di baliknya, ia sedikit sensitif. Buktinya, tiap kali bertemu, tiada henti ia berkeluh, sekalipun ia menghantar kalimat disampaikan, "saya memohon petunjuk ini Kakanda".

Beberapa kali bertemu, satu point keluh berulang ia ungkap, sehingga saya menangkap satu hal itulah yang paling membekas di hati mantan pemanggul camera sekian stasiun tivi nasional itu. Tak lain, kala ia tak lolos seleksi PPK, petugas KPU di tingkat kecamatan. Dikeluhnya, tim seleksi, tak lain para sahabat sepermainannya sendiri, kenapa tega, sampai hati tak meloloskannya.

Keluh yang sulit ditarjih lain, selain menilai hal yang telah keras membatu di batinnya. Terakhir ia ungkap, saat kali waktu - tak sengaja - kami sama-sama mampir mengopi di kedai SPBU Bojo-Barru. Ia mengungkap, bakalan “membobol” perbuatan para komisioner KPU Palopo yang tak meloloskan dirinya. "Padahal baku tau jaki nah, dari ujung rambut hingga ujung kuku!", ujarnya.

Sejak kala itulah, mula saya mendengar dan mula tahu, itu toh yang ia maksud dengan tagline-nya "Baku Tau Jaki". Semakin membulatkan asumsi saya, jika kisah itu benar mengecewakan dirinya, bahkan membekas cukup dalam. Tapi malam larut di Kedai SPBU Bojo itu, saya Kakak seniornya mengingatkan, cukup sudahi cerita tentang itu, insya Allah semua ada hikmahnya.

Giliran berikutnya, ia tahu jika saya ditunjuk Plt. Ketua Partai Golkar Palopo, ia mendatangi saya di salah satu kedai kopi di Palopo. Tetap dengan lagaknya yang khas, meminta ikut dimasukkan sebagai Pengurus Golkar, agar kelak ia bisa ikut nyaleg. "Tapi, mohon pertimbanganta Kakanda, mana baiknya, nanti saya ikut nyaleg atau saya daftar jadi komisioner KPU Palopo?".

Sambil meneguk kopi berdua, saya mencandai, dirinya tak cocok jadi legislator, sebab meja di dewan semua tinggi. "Kamu pendek, nanti kalau kamu interupsi, pimpinan sidang tak melihat siapa anggota dewan yang interupsi". Mendengarnya, ia tersenyum dan mengangguk. "Kalo begitu, Kakanda mengarahkan saya mendaftar calon komisioner KPU?", simpulnya. "Kok tahu!", tepis saya. "Wah, baku tau jaki Kanda, sama-sama alumni HMI, pasti paham isyarat seperti itu".

Saatnya, ia benar-benar meraih kepercayaan sebagai komisioner KPU Palopo. Penampilannya sudah beda saat dulu ia masih gonrong. Kini rapi, bahkan necis. Ia melintas depan meja saya di café salah satu hotel berbintang di Makassar, tanpa melirik sedikit pun. Saya menegur, "Baku tau jaki bos, jangan mentang-mentang sekarang jadi komisioner KPU, jadi sombong!". Sontak berbalik memeluk saya. "Wah, ampun Kanda, saya tak bisa sombong pada senior-seniorku, sebab bantuan merekalah saya jadi komisioner', tepisnya.

Saat itulah, saya mengingatkan ia segera menikah. Ia tetap menampik, sementara ini ia berjanji akan mengabdikan hidupnya bagi ibunya yang telah menua. Saya tahu ia sangat sayang ibunya, lewat akun FB-nya, bertebar foto memeluk ibunnya. Dan lagi-lagi saya coba mencandai. "Aakh, jangan-jangan itu hanya dalih, mungkin memang tak ada perempuan yang suka", sanggah saya.

Ia acapkali bicara kemolekan perempuan, tapi sontak berkilah jika digugat urusan menikah. Dan kali itu, lagi-lagi ia berkilah, membalik cerita dulu di kedai SPBU Bojo. Mobilnya mogok, ia duduk di belakang setir, lalu saya disuruh mendorong mobilnya dari belakang. "Ini mobil sebenarnya tak mogok Kanda, hanya tes-tes saja, apa anggota dewan masih bisa disuruh dorong mobil".

Duh, benar-benar kurang ajar kamu de Jaya, kata saya. Tapi itulah yang ia kenang tiap kali kami bersua. Dalihnya, ingin membanding teman sepermainannya yang dulu tak meloloskannya jadi anggota PPK. Lagi-lagi dengan kisah yang berulang. Tapi menyuruh saya mendorong mobilmu, pasti kau juga sudah taumi saya toh?. "Siap Kakandaku!", tandasnya.

Selamat jalan Dindaku Jaya Hartawan. Selamat berpisah, saya menitip bekal al-Fatihah untuk arwahmu. Saatnya nanti kami pasti menyusulimu. Sementara waktu, biar kami tetap di sini, coba mengenang untuk memaknai arti sebenarnya "Baku Tau Jaki", meski tak lagi dengan nada ceria dan lucu-lucu, bahkan sepolos dirimu lagi. Tapi yang pasti, tetap "Baku Tau Jaki!" bos. 

Makassar, 14 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...