Perjalanan keluar kota, saat mobil melaju deras, sekonyong-konyong
saya meminta sopir segera melambat. Menepi ke pinggir aspal lalu berhenti sejenak.
Memberi kesempatan kepada pelayat dan bertakzim, pada jenazah di keranda diusung,
sekiranya berlalu. Menyaksikannya, rasa sesak di batin. Tak kuasa dielak, hendak
berlari ke mana ujung akhirnya - siapapun jua manusia - bakal bernasib sama. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Dari-Nya kita datang, pada-Nya pula kita kembali.
Meski jauh jarak perjalanan telah ditempuh, tapi bayangan keranda
jenazah diusung itu, tak jua berlalu. Terus membayang di benak. Belum sampai ke
tempat dituju, saya membuka layar hape, tersiar berita, seorang mantan pengguna
mobil "pajero", bernomor plat DD 1 - pertanda dirinya "orang
nomor satu" - di Sulsel, telah berpulang. Sontak, saya mengejakan
al-Fatihah, mengiring doa untuk arwahnya menuju pembaringan terakhir. Menemui
Sang Maha pemilik kehidupan.
Selang dua hari sekembali di Makassar, saya menepi menikmati
"kopi pahit", bermalam Minggu ditemani dua maha karya Yuval Noah
Harari - muasal dan hendak ke mana manusia - "Sapiens" dan "Homo
Deus". Saya mengejanya di warung kopi - tak sengaja - tepat berhadapan
kediaman almarhum, mantan pemimpin tertinggi pemerintahan, juga Panglima Kodam
itu. Masih terlihat puluhan karangan belasungkawa masih di sana. Berbanjar jauh
seolah mengurung jalan poros.
Ba’da Magrib, saya berada di warung kopi itu. Banyak petugas
berseragam, sibuk mengatur lalu lintas. Lalu seorang bersenapan laras panjang, memasuki
warung kopi. Ia menuju lantai teratas. Sejam kemudian jalanan dikosongkan. Petugas
bersiaga. Sesaat, sirene bersahutan, bersamaan datangnya mobil beriring. Tepat
di halaman rumah duka, petugas menghormat pada lelaki yang turun dari mobil mewah
berplat RI 2 itu. Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, ikut menghadiri takziah.
Setelahnya, sayup-sayup terdengar khotbah takziyah dari seberang.
Apa pesan khutbah hendak dipetik, tak jelas terdengar hingga seberang jalan di
warung kopi. Di benak saya, justru makfum arti penting "catatan
pinggir" berkehidupan. Hidup, harus berjejak. Menoreh kenangan terbaik
bagi yang masih hidup. Hingga batas kapanpun. Jejak kehidupan bagi orang-orang
yang pernah berkuasa, pastilah jauh lebih lapang dan meluas. Banyak orang bakal
takzim dan memberi doa.
Kekuasaan adalah kepemimpinan, kian tinggi kuasa, kian banyak
orang dipimpin, sekaligus kian meluas lapangan berjejak. Sebab itu, kuasa diperebutkan.
Tujuan idialnya, menyimpan "catatan pinggir" seluasnya sebagai jejak
kehidupan, bukan semata menjejaki diri, serta kerabat. Seperti pesan tausyiah, samar
terdengar dari rumah duka. “Maka merugilah, orang-orang yang pernah diberi kuasa
untuk berjejak bagi banyak orang, justru kesempatan terbaik itu
disia-siakannya".
Menyimaknya, batin saya meluluhlantak. Terbayang segala kuasa
pernah diberi. Adakah tersisa "catatan pinggir" - amalan jariyah - bernilai
jejak baik. Apakah orang-orang bisa mengenangnya. Mengirim karangan duka,
mengirimi doa, lalu hadir bertaksiyah. Berkenan, mengusung keranda jenazah saya.
Saatnya teringat pesan “maha guru” kehidupan saya di Mandar. "Andai kamu
tak kuasa berbuat baik kepada orang lain, maka cukup jangan pernah kamu menyakiti
orang lain".
La Kopi Makassar, 5 Oktober 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar