Marhaban Yaa Generasi Baru



Sisa hitungan jam, saya segera mengakhiri masa tugas atas amanah dipercayakan rakyat kepada saya sebagai Anggota DPRD Sulsel, tepat pada saat yang sama, di kampung halaman - salah satu daerah muasal saya mendapat amanah mewakili rakyat di tingkat provinsi - tengah berlangsung Pilkades serentak. Informasi dari kampung, Pilkades kali ini, berlangsung hangat. Heboh, seolah melampui hangatnya pelantikan para wakil - “pilihan” - rakyat di beberapa hari sebelumnya.

Saking hangatnya pelaksanaan Pilkades kali ini, di hari pencoblosan, bersama sekian anak muda sekampung, kami memilih duduk di warung kopi untuk mengamati secara online dari kejauhan. Tergiur mencermatinya selain karena (memang) dilakukan pemilihan secara langsung, tapi yang membuatnya hangat karena dilaksanakan secara serentak di banyak desa. Mulai desa di tepian pantai, di tengah daratan, hingga ke sekian desa di kawasan pegunungan terpencil sekalipun.

Dan paling membuatnya menarik untuk diamati, yakni munculnya fenomena baru. Jika Pilkades sebelumnya, diwarnai tampilnya para kandidat kalangan tetua dari Generasi X, kini giliran para Generasi Y, anak muda yang oleh sosiolog Hongaria, Karl Mannheim, menyebutnya “millennial”. Maka jika Pilkades sebelumnya diikuti para kandidat pemakai hape sekira menelpon, mengirim dan menerima sms, maka kini giliran generasi pengguna smartphone pengintip wajah isi bumi.

Jika Generasi X bermental “do it yourself”, mandiri. Kini Generasi Y “likes challenges” lebih suka tantangan. Dauglas Caupland dalam novelnya “Generation X: Tales for an Accelerated Culture”, menyebut karakteristik Generasi X yang lahir era 1966-1976, tekun dan cermat dalam menunai tugas secara bersama, maka Generasi Y yang lahir era 1977-1994 lebih menyukai bekerja santai secara sendiri-sendiri. Generasi X teguh pada prinsip, sementara Generasi Y lebih mudah bosan.

Dan diantara puluhan kandidat Kades dari generasi millennial itu, ada sesosok diantaranya yang mencuri perhatian kami yang malam itu mengamat dari warung inti. Ia sesosok anak muda yang dengan jiwa kesatria, memilih meninggalkan zona nyaman. Sebagai putra kepala pemerintahan tertinggi di daerah itu, justru lebih memilih bertarung, menjajak jabatan paling terendah di level pemerintahan. Jabatan yang bagi orang lain, menilai tak pantas baginya, justru dibanggakannya.

Mengagumkan, meski banyak pihak mungkin menilai suatu ketidaknormalan yang anomali. Tapi bagi kami yang malam itu mengawat dari jauh di warung kopi, justru balik menilai sesuatu yang sifatnya paradoks, seolah berlawanan pendapat umum, tapi mengandung nilai kebenaran. Kami kagum pada pilihannya memilih jalan menikung, justru di era millennial. Memilih jalan berkelok saat “politik dinasty” dinilai seolah sesuatu yang telah mengabsah. Inilah generasi millennial itu.

Ia memillih jalannya sendiri. Berbalik arah sekian derajat dari arah jalan dilalui para putra kepala daerah. Penikmati zona nyaman, bahkan “pengatur” zona nyaman. Anomali - sikap langka - tapi justru di titik balik itulah letak paradoksalnya. Ia memilih turun gunung di lapisan pemerintahan terbawah, saat sedianya berada di lapisan atas. “Work anywhere as long as it's useful”, ujarnya. Bertugas di mana saja asal berguna. Benar-benar mengagumkan! Marhaban Yaa Generasi Baru.

Makassar, 20 September 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...