Mas, Ojo Kagetan


Seorang kolega kerja - sesama wakil rakyat - ia serasa tiada pernah lelah, intens membujuk saya agar mengikuti jejaknya. Bergabung bersama sekian kolega kerja yang sejak mula akrab dengan permainan olahraga golf. Saya menolak, namun makin kukuh saya menampik justru ia kian gigih menggoda. Mencoba meyakinkan saya dengan beragam dalih. Mulai dalih rasional hingga yang tak rasional. Entah, dalihnya tak sekalipun sudi mampir ke akal sehat di batas rasionalitas saya.

Kolega kerja sesama pengemban amanah rakyat itu, nampaknya di beberapa bulan belakangan, pula ia mulai “ikut-ikutan” bermain golf. Seperti foto-foto dirinya, memanggul stick, terpapar di halaman Facebooknya. Andai ia mengajak dengan dalih normal, bermain golf untuk membuang keringat - boleh jadi - perlahan kelak saya memanut. Apalagi, di beberapa bulan terakhir, dokter mewanti-wanti agar saya sebisa mungkin menyisihkan waktu luang untuk juga berolahraga.

Pun, andai dalihnya sekadar mengeluarkan keringat, tidaklah mesti dengan permainan golf saja. Apalagi permainan olahraga jenis ini, konon berbiaya mahal. Tak keliru jika mereka yang terlibat dalam komunitas jenis olahraga ini, selain karena hobby juga demi gengsi. Sebagian diantaranya berburu prestise, menjadi satu bagian dari orang-orang berkelas di lingkungannya. Bagi mereka, sudah tak lagi sebatas berolahraga, tapi jauh lebih dari yang - saya sendiri - kurang memahami.

Lalu, haruskah orang macam saya - yang datang dari kampung - semata karena menduduki kursi wakil rakyat, juga mesti bermain golf agar ikut dimasukkan pula, katagori peraih prestise seperti para orang di kelas atas itu? Terlalu! Meski hidup saya lalui di kampung hanya bersekolah dasar, setelahnya berpindah ke Makassar lalu bergumul ragam kehidupan kota, tetapi basis kehidupan saya, tetaplah di kampung. Maka, jika kolega kerja ikut mengajak saya bermain golf, serasa geli.

Geli, karena ikut-ikutan bermain golf, rasa-rasanya amatlah bertentangan pada hakikat jati diri saya yang sebenarnya. Bagaimana mungkin mengajak saya mengikuti jejak Jack Nicklaus, Tiger Woods atau Ben Hogan, mengayun stick cara menyamping, kanan ke kiri, sementara kehidupan saya lalui akrab mengayunkan cangkul, mengayun kampak, keseluruhannya dari atas ke bawah. Maka mengajak saya ikut-ikutan bermain golf, takut otot-otot saya bakal “terjungkir balik”.

Memilih kata “jungkir balik”, sekadar untuk mempertegas diksi, bahwa ajakan kolega kerja saya untuk ikut bermain golf, rasa-rasanya geli bagi seorang berlatar kampung, semacam saya. Lebih lagi jika targetnya dominan karena gengsi. Jujur, terbayang kelak bukan lagi otot-otot saya yang “jungkir balik”, tapi curiga jika logika saya ikut pula terjungkirbalikkan. Cara pandang, integritas diri, pola fikir dan pola laku hidup saya, seluruhnya ikut-ikutan pula - serentak - terjungbalikkan.

Sebab itu, andai kelak setelah menunaikan amanah rakyat, saya lebih memilih pulang kampung. Membenahi kebun lada dan cengkeh saya. Kembali ke kampung untuk menemukan hakikat jati diri saya yang sebenarnya. Kembali mengayunkan cangkul dari atas ke bawah. Bukan, mau ikut-ikutan mengayun stick golf dari arah samping, kanan ke kiri. Saya tidak sudi men-“jungkirbalik”-kan hakikat siapa diri saya sebenarnya. Seperti dipesankan Pak Harto, “Mas, ojo kagetan!”.

Makassar, 19 September 2019

Tidak ada komentar:

Terkait

Ancaman Lain Umat Manusia

KETIKA kurva pandemi Covid-19 kian menanjak di Indonesia, di waktu yang sama badan kesehatan dunia WHO, mengumumkan kabar gembira tentang pe...