Jika melakukan
kunjungan kerja Anggota DPRD, lalu berada di salah satu ibukota kabupaten, di
daerah pemilihan saya, saya memilih menginap di salah satu hotel. Meski tak
berkelas bintang, tapi kebersihannya seolah berbintang. Kebersihannya terjamin,
sebab sejak dinihari - saat para tetamu belum terjaga - sekian orang mulai
hiruk pikuk membersih halaman dan menata taman di bagian tengah yang cukup
lapang, mencipta nuansa beristirahat yang sejuk dan juga tenang.
Itu
pula alasan saya betah, bahkan menjadikannya hotel langganan. Apalagi sistem pelayanan
di hotel itu, berciri kekeluargaan, seolah berada di rumah sendiri. Dan seperti
lazimnya, setiap kali berada di sana, kerabat serta sejumlah anak muda bergantian
datang menemui saya. Kesemua tetamu saya itu, juga mendapat pelayanan hidangan
kopi, serta gorengan pisang. Tapi, saya tak menduga, jika di balik pelayanan
yang ramah, seorang pekerja taman menguntit tetamu saya.
Buktinya.
“Siapa mereka Pak, bergiliran menemui Bapak, bercerita hingga larut malam?”.
Tanya seorang lelaki berumur yang melayani kami di siang itu. Saya jelaskan bahwa
para kerabat saya. “Lalu siapa mereka yang berusia muda, berombongan dan suka
berdebat. Apa tujuan menemui Bapak?”, tanyanya lagi. Pun saya jelaskan lagi jika
mereka adik-adik para aktifis mahasiswa dan organisasi kepemudaan. Mereka
menemui saya untuk mendiskusikan apa program di desanya.
Suatu
kali lain, saya datang lagi menginap di hotel itu. Saat fajar menyingsing, saya
berjalan kaki mengitari ruang tengah hotel yang lapang. Saya kembali bertemu
lelaki berumur itu saat tengah mencabuti rumput liar di taman. Ia menyapa
dengan senyumannya yang khas. Ia tak menampik saat saya meminta tolong untuk membersihkan
mobil saya. Saat asyik melap mobil, sontak saya dikejutkan ketika ia bertanya,
“Anak-anak muda yang menemui Bapak, mereka kerjanya apa?”.
Terkejut,
karena menduga perbincangan kami di suatu hari telah ia lupakan. Kedua, apa
urusan pekerja taman hotel untuk tahu secara detail tentang tetamu saya. Sebab
itu, saya seolah tidak memiliki jawaban tepat, guna memuaskan apa di benaknya.
Apalagi ia melanjutkan kalimatnya. “Bercerita hingga larut malam. Apa tak ada
kerjaan?”, tanyanya. “Sebaiknya, mereka bawa hasil panen petani ke pasar buat di
jual, pasti ada untungnya”. Ia bercoleteh, saya setia mendengar.
Bosan
mendengar celotehnya, sambil menunggui bantuannya membersihkan mobil saya, saya
memilih duduk santai di kursi taman. Sambil menghisap rokok cara mendalam, saya
merenungi jalan fikiran lelaki berumur itu. Celoteh yang mengalir deras dari
mulutnya, serba tepat. Benar konvensional, tapi demikian realiitas hidup
menuntut. Namun membincang bentuk kebutuhan hidup, juga suatu yang mutlak. Tapi
merealisasikan apa dibincangkan, juga tak kalah mutlaknya.
Demikianlah
dialektika kehidupan. Renungan saya belum tuntas, tetapi lelaki berumur itu telah
datang. Ia melaporkan jika mobil saya telah dibersihkannya. Saya menawarinya
selembar uang - bukan upah - rasa terima kasih, tapi ia tegas menolak. Kenapa?.
Dijawab, jika dirinya bukanlah pekerja hotel itu. Tiap pagi membersihkan taman,
lalu dia siapa?. Ia menyebut namanya. Saya sering mendengar nama itu. Ia orang
terkaya di kota itu. Dirinyalah pemilik hotel itu. Wadduh!
Masamba,
26 Januari 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar