Malam itu, sekira duapuluhan orang kami duduk santai -
semacam reuni kecil-kecilan - sesama mantan aktifis KNPI Sulsel, di era akhir
1990-an hingga akhir 2010-an. Setiap kali bertemu, rasa-rasanya perbincangan seolah
tak absah jika tak ikut membincangkan “si Kiko” maupun “si Tuti”. Saya menangkap
kesan, baik si Kiko maupun si Tuti, seolah monumen yang tak bisa dipisah dari
tapak-tapak sejarah yang menyertai pergerakan elit kaum muda di wilayah Sulsel.
Keduanya, si Kiko maupun si Tuti menjadi bagian tak
terpisahkan dari babakan legenda gerbong perjalanan KNPI Sulsel. Periode satu
ke periode berikutnya. Dari generasi satu ke generasi yang selanjutnya. Tidak
hanya era 1990-an hingga 2010-an, bahkan jauh sebelumnya di era 1980-an. Usia
si Kiko jauh lebih tua dibanding si Tuti. Maka generasi era 1980-an yang hanya
mengenal si Kiko, disebut “periode si Kiko. Generasi 1990-an mengenal keduanya,
disebut “periode si Tuti”.
Namun, sebelum terlanjur jauh salah menilai dan menduga. Sumpah,
keduanya bukan sepasang kekasih. Juga bukan dua nama diantara rib uan pengurus
KNPI Sulsel dari masa ke masa. Berdua adalah mobil roda empat berplat merah, bantuan
Pemerintah Provinsi Sulsel, guna mendukung operasional sekretariat KNPI Sulsel.
Mobil lebih tua bermerek Kijang Kotak, akronimnya ia akrab disebut “si Kiko”. Menyusul
yang usia muda, “si Tuti” tak lain akronim dari nomor plat DD 703.
Si Tuti, meski berusia lebih muda, tetapi konon telah
mewujud besi tua. Sementara si Kiko yang berusia jauh lebih tua, telah raib. Mewujud
bangkai, di tangan pemulung. Ironis sekali, padahal berdua, idialnya adalah
monumen - saksi bisu- yang menyimpan
beribu cerita, melegenda juga menyejarah. Banjaran kursi kedua mobil Toyota
Kijang itu, meski mendudukinya sama sekali tak empuk justru kelak bercerita, menghantar
banyak orang menduduki kursi empuk di republik ini.
Si Kiko maupun si Tuti, tiada sedkit pun pernah berkeluh,
meski tiada henti menjajak jalan aspal dan berkerikil di seluruh wilayah Sulsel.
Tetap saja loyal, menghantar Tuan dan Puan, anak-anak muda yang tengah gesit
berkegiatan. Dan kelak hasilnya membelalak mata, banyak pemimpin di negeri ini
disumbangkan oleh KNPI Sulsel. Mulai sekelas Menteri di Kabinet RI hingga
Gubernur, Bupati, legislator semua tingkatan, pejabat teras pemerintahan, serta
wirausahawan sukses.
Mereka yang kini menduduki kursi empuk itu, tak lain adalah
Tuan dan Puan, orang-orang yang di kala usia muda diderma oleh Si Kiko dan si
Tuti. Kala itu, tak sedikitpun pernah menyana diri, apa nasib selanjutnya, selain
berburu waktu, beradu ketangkasan dan gagasan, berkinerja cara maksimal. Mereka
diharap bersemai untuk tak sekadar seperti mie instan siap saji lalu disantap.
Tapi menempuh proses panjang. Dikoyak, direbus, setelah itu negeri menyantap jadi
pemimpin.
“Akh, Itu cerita tempo dulu!” Seorang memotong
perbincangan reuni kecil-kecilan di malam itu. “Itu cerita puluhan tahun lalu!”.
Dulu pemimpin lahir dari track record panjang. Kini, memimpin dulu baru belajar.
Dulu berkualitas, kini berkuantitas. Faktanya demikian. Saya coba menimpali, tapi
apapun, saya tetap hormat pada si Kiko dan si Tuti. Mengabdi tanpa keluh, meski
jasadnya telah mewujud besi tua, tapi melegenda. Membawa Tuan dan Puan menjadi
pemimpin negeri.
Makassar, 26 September 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar