I repeat again: it is not a
transfer of authority (Soekarno)
Supersemar, bukanlah kisah “Semar yang
Super”. Tokoh punakawan dalam pewayangan masyarakat Jawa. Ini murni kisah dari
akronim “Surat Perintah Sebelas Maret”. Selembar surat yang benar-benar super.
Bahkan bisa menyebutnya, superior. Bukan karena Pemimpin Besar Revolusi yang
meneken surat itu di Istana Bogor, 11 Maret 1966, tapi menggemaskan, surat itu
kelak justru berbalik arah. Menikam penekennya. Senjata yang menikam Tuannya
sendiri. Menggulingnya, dari singgasana, seorang Presiden, kepala negara yang
sah.
Menggemaskannya lagi, wujud surat super
itu - hingga kini - tak jua tampak. Ada tiga versi tampil ke permukaan, tapi semuanya
palsu. Satunya, versi Pusat
Penerangan TNI-AD, hanya satu lembar, nama peneken “Soekarno” (Soe). Versi kedua, milik Sekretariat Negara, dua
lembar, peneken “Sukarno” (Su). Versi ketiga,
asal Yayasan Akademi Kebangsaan, tanpa kop surat. Lalu siapa gerangan pemalsunya?
Dimana naskah aslinya? Apa aus atau hilang? Andai masih ada, siapa yang
menyimpan? Apa perlunya disembunyi ?. Entah! Super dan misteri !
Ya, surat super itu masih misteri. Konsep
surat itu, konon hadir di muka Panglima Tertinggi, Soekarno, atas kehendak
dirinya, atau pihak lain? Siapa penyusun konsepnya?. Berkop surat kepresidenan
atau TNI-AD?. Disorong untuk diteken, segera, di bawah “tekanan” atau tidak?
Lalu sebodoh itukah sang Mandataris MPRS itu mau meneken, senjata yang kelak
menikam dirinya? Selemah itukah sang Panglima Tertinggi menoreh tinta di
atasnya, akibat ditekan? Lalu apa guna Pasukan Tjakrabirawa di Ring 1, 2 dan 3
yang mengawal Istana Bogor?
***
Pagi itu,
11 Maret 1966, di Istana Merdeka, Jakarta. Soekarno, menggelar rapat “Kabinet
100 Menteri” (Kabinet Dwikora, 102 orang). Saat sidang dimulai, Soekarno
dibisik Brigjen Sabur, Komandan Tjakrabirawa, istana dikepung pasukan tak
dikenal. Kelak ditau, pasukan Kostrad, besutan Brigjen Kemal Idris. Kondisi
terlanjur genting, meski mendapat jaminan pengamanan Pangdam Jaya, Brigjen Amir
Mahmud, tapi Soekarno tetap khawatir. Maka bersama Wakil Perdana Menteri I dan
III, Soebandrio dan Chairul Saleh, naik helikopter menuju Istana Bogor. Wakil
Perdana Menteri II, Johannis Leimena, melanjutkan untuk memimpin rapat. Setelah
menutup menutup rapat, ikut menyusul Soekarno ke Bogor.
Namun di
saat kondisi segenting itu, apa sikap Mayjen Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat (Pengganti Letjen Ahmad Yani
yang gugur dalam peristiwa “Lubang Buaya”). Ternyata ia berdalih sedang sakit,
sehingga tak ikut menghadiri
rapat kabinet. Padahal di luar Istana, mahasiswa berdemonstrasi. Mengepung Kota
Jakata. Mengajukan tiga tuntutan rakyat, “Tritura” pada Soekarno. (1) Bubarkan
PKI (2) Retool Kabinet Dwikora dan (3) Turunkan Harga. Laju inflasi kala itu,
menembus 65 %. Nilai tukar rupiah, Rp. 1.000.000, turun Rp 1,00. Harga
membumbung tinggi. Dan kekacauan daerah-daerah tak terelak. Tentara memburu
sisa-sisa pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI), yang telah melakukan pembantaian
Dewan Jenderal, 30 September 1965 (G-30-S/PKI). Gemas dengan konidisi yang ada,
Soeharto meminta Soekarno membubarkan PKI, tapi Soekarno tak mengindahkan.
***
Setiba di Bogor, malamnya, Soekarno disusul
tiga perwira tinggi Angkatan Darat. Mayjen Basuki Rahmat (Menteri Urusan Veteran), Brigjen M. Yusuf (Menteri Perindustrian) dan Brigjen Amir Mahmud (Pangdam Jaya). Ketiganya diutus Soeharto – yang paginya tak ikut rapat
kabinet karena berdalih sakit - merunding Soekarno yang didampingi Soebandrio
dan Chairul Saleh. Setelahnya, pukul 20.30, tiga perwira tinggi itu meninggalkan
Istana Bogor. Membawa pulang selembar map berwarna merah. Isinya selembar – entah
satu atau dua lembar - surat yang telah diteken Soekarno. Agar segera
diserahkan pada Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letjen Soeharto. Itulah surat
yang super itu. Surat Perintah Sebelas Maret.
Surat itu, berisi tiga perintah. Pertama, segera mengambil
segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan
serta kestabilan jalannya Pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin
keselamatan pribadi dan kewibawaan pimpinan, Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin
Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S demi keutuhan Bangsa dan NKRI, dan
melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pimpinan Besar Revolusi. Kedua, segera mengadakan koordinasi pelaksanaan
pemerintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik-baiknya. Ketiga, segera melaporkan segala sesuatu yang
bersangkut paut dalam tugas dan tanggungjawabnya seperti tersebut di atas.
***
Berbekal
surat super itu, perintah Soekarno dijalankan Soeharto secara superior. Sepanjang
Maret 1966, isi perintah surat itu, serta-merta ditunaikan melalui aksi beruntun.
Memenuhi tiga tuntutan rakyat, “Tritura”, seperti yang disuarakan saat demonstrasi
mahasiswa. Coba memulihkan keamanan. Membubarkan PKI dan membersihkan kabinet
dari antek-antek PKI. Tetapi tindakan Soeharto, justru dinilai oleh Soekarno
menyimpang dari isi surat yang telah ditekennya. Penyesalan itu disampaikan terbuka
dalam pidato “Jasmerah” (Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah) 17 Agustus
1966. Soekarno menegaskan, jika surat itu bukanlah “transfer
of sovereignity” (pengalihan kedaulatan) dan bukan pula “transfer of authority”
(pengalihan otoritas). Tak lebih dari semata perintah pengamanan saja.
Tapi apa
hendak dikata. Apapun isi pidato hendak dikobarkan, nasi terlanjur berubah
bubur. Surat itu terlanjur diteken, tak mungkin lagi bisa dihapus. Isinya, mula
bermuat tiga perintah yang normal, belakangan terlanjur ditafsir tak lagi
normal. Perwujudannya, telanjur beranak pinak di lapangan. Telah menggelinding
jauh, bagai bola salju di tengah suasana politik yang tak tentu arah. Tak kuasa
lagi di elak, apalagi mau dibendung. Dan kokoh Panglima Tertinggi pun akhirnya
goyah. Soekarno akhirnya takluk. 20 Februari 1967, ia kembali meneken surat,
menyerahkan jabatan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan pada Soeharto. Lalu,
apakah Supersemar itu bagian bentuk kudeta? Bilakah tokoh punakawan, Semar yang
super dalam pewayangan masyarakat Jawa sebagai penasehat para
kesatria bakal mengungkap?
Entah!
Makassar,
20 Maret 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar