Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe
bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe
berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng
bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Rangkaian kata itu, bukanlah
jampi-jampi, juga bukan mantra. Apalagi syair lagu ataupun sajak. Tapi
rangkaian kata itu sudah terlanjur memiliki “tuah”-nya sendiri. Sudah 82 tahun
--- sejak di ikrarkan pertama kali dalam Kongres (kekerapan) Pemuda II di
Gedung Oost-Java Bioscoop, Stovia-Batavia, 28 Oktober 1928 --- usia rangkaian
kata itu, masih saja tetap mengiang dan melekat untuk mengiringi perjalanan
sebuah negara berdaulat, bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Betapa “beruntungnya” orang yang menuliskan kata itu. Sebab jika seandainya
NKRI kelak berusia satu juta tahun usia misalnya, maka rangakaian kata itu juga
usianya lebih dari pada satu juta itu. Padahal sudah mungkin bisa diduga, bahwa
ketika orang yang menuliskan kata itu, awal mulanya tidak sedikitpun pernah
mebayangkan jika kelak kata itu akan mengiringi perjalanan suatu negara
berdaulat. Apa dituliskan, tak lain semata karena itulah kebutuhan
mendesak kala tahun 1928 itu, sebelum NKRI belum ada, selain sebatas harapan
dan tekad.
Lebih mengagungkannya lagi, dalam lembaran sejarah terungkap kalau
rangkaian kata --- yang belakangan kita kenal “Sumpah Pemuda” --- itu ternyata
rumusannya hanya berupa coretan tangan dituliskan di atas sehelai sobekan
kertas bekas. Pimpinan sidang Kongres Pemuda II, Soegondo Djojopoespito,
membacanya sebagai putusan kongres. Dan perwakilan pemuda kedaerahan yang
hadir, mengikrarkannya diiringi alunan (“Indonesia Raya”) biola Wage
Rudolf Soepratman, serta di bawah ancaman bayonet kolonial Belanda.
***
Nun jauh dari Batavia, di pelosok kampung sana, di Talawi, Sawahlunto,
Sumatera Barat, --- tempat lahir putra juragan kopi (23 Agustus 1903) sekaligus
tempat dimakam (17 Oktober 1962) --- mungkin disana tak lagi ada tulang
berserak, memberi persaksian bahwa Sumpah Pemuda yang pernah ditulis bekas
ketua Jong Sumatranen Bond yang ada dalam liang lahat itu, ternyata abadi
sepanjang negeri ini ada. Rangkaian kata itu, bukan jampi-jampi dan bukan
mantra, untuk bisa dibaca di atas pusara suami Raden Ajeng Sundari
Mertoatmaodjo, dan kakak kandung tokoh perfilman nasional Djamaluddin Adinegoro
itu.
Mohammad Yamin, itulah nama tertulis pada nizan makam itu. Namanya jauh terlampaui
dari popularitas apa pernah ditulisnya. Kita fasih mengeja Sumpah Pemuda. Seisi
bangsa mengetahui. Tanpa kita tahu siapa orang yang mula pertama merumuskan
teksnya di atas lembar kertas bekas. Tanpa kita tahu kalau sastrawan ini
jugalah yang mula (29 Mei 1945) menawar rumusan Pancasila, kelak menjadi
idiologi (permanen) NKRI; “peri kebangsaan, peri ke-Tuhanan, kesejahteraan
rakyat, peri kemanusiaan, dan peri kerakyatan”.
Tanpa kita tahu kalau ini jugalah orang yang menjadi prasaran dalam Kongres
Pancawarsa (I) Jong Sumatranen Bond (1923) yang berjudul “De maleische taal
in het verleden, heden en toekomst”, yang meramal dan mengajukan Bahasa
Melayu sebagai bahasa nasional. Tanpa kita tahu kalau inilah juga sosok ---
anggota BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai atau dilafalkan Dokuritsu
Zyunbi Tyoosakai) --- yang memiliki banyak andil dalam perumusan naskah UUD
1945, khususnya pasal berkaitan soal HAM. Tanpa kita tahu, visualisasi wajah
Gadjah Mada, bersumber dari wajahnya.
***
Mohammad Yamin, anak bangsa dengan totalitas gagasan yang cerdas dan
sistemik, melalui goresan tangannya ia mengawal sejak awal mula hingga
kelahiran NKRI. Di usia masih belia, 20 tahun, ia mengajukan bahasa Melayu
sebagai bahasa nasional. Lima tahun berikutnya, diusia 25 tahun, gagasannya
lanjut dirumuskan dalam Sumpah Pemuda. Tidak hanya sampai batas itu, ketika
usianya beranjak 42 tahun, ia coba menawar rumusan Pancasila, hingga
mencapai kulminasinya dalam keterlibatannya di BPUPKI merumuskan UUD 1945.
Maha karya abadi yang sungguh luar biasa lahir dari anak muda Minangkabau
bernama Mohammad Yamin. Kalaupun popularitas namanya terlampaui dari karyanya
sendiri, tak perlu disesali, sebab keabadian memang bukan datang dari niat
untuk keabadian. Keabadaian justru datang dari ketidakabadian. Rumusan Sumpah
Pemuda yang dituliskan misalnya, bukanlah sumpah “serapah” pemuda, yang
didasari emosi pada kaum penjajah yang menindas. Bukan dengan kepalan tangan
--- seperti belakangan banyak divisualisasikan --- tapi dengan coretan tangan.
Bukan demonstrasi, tapi diplomasi. Tidak untuk jangka pendek, tapi untuk jangka
panjang, seperti dipesankan dalam bait (salah satu) sajaknya.
Adapun kami anak sekarang / Mari berjerih berbanting tulang / Menjaga
kemegahan janganlah hilang / Supaya lepas ke padang yang bebas / Sebagai
poyangku masa dahulu / Karena bangsaku dalam hatiku / Turunan Indonesia darah
Melayu
Sumber: http://news.rakyatku.com/read/25813/2016/10/28/coretan-sumpah-mr-mohammad-yamin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar